Kamis, 23 September 2010

BAGAIMANAKAH CARA MENULIS CERITA PENDEK SEDERHANA?

Menulia cerita pendek yang biasa disebut cerpen boleh dikatakan gampang-gampang susah. Dikatakan gampag bagi mereka yang sudah biasa mencurahkan isi hatinya melalui cerita berdasarkan pengalamannya atau hasil pengamatan pribadi secara matang dan lengkap. Bisa dikatakan relatif sulit manakala hal ini dilakukan oleh para oemula yang terpaksa atau dipaksa oleh guru atau dosen untuk menulisnya. Oleh sebab itu, mungkin referensi berikut amat membantu. Materi yang ada dalam blog ini hanyalah kumpulan tulisan drai berbagai sumber, namun tentu bermanfaat bagi kita manakala berniat menulis cerita pendek sebagai kegiatan yang mengasyikkkan.

Konsep dasar

Cerita pendek
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.
Asal-usul
Cerita pendek berasal-mula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.
Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang. Cerita fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.
Selanjutnya, jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite lebih menyaran pada cerita yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebuah cerita mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.
Bentuk kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum pada abad ke-13 atau 14. Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.
Di Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer Canterbury Tales dan karya Giovanni Boccaccio Decameron. Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka), meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada akhir abad ke-16, sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah "novella" kelam yang tragis karya Matteo Bandello (khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.
Pada pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongeng tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama Seribu Satu Malam karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke-18.
Cerita-cerita pendek modern
Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genrenya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek termasuk Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara (1824–1826), Evenings on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai Gogol, Tales of the Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya Nathaniel Hawthorne. Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah "Kamar No. 6" karya Anton Chekhov.
Pada paruhan pertama abad ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti The Atlantic Monthly, Scribner's, dan The Saturday Evening Post, semuanya menerbitkan cerita pendek dalam setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi, sehingga F. Scott Fitzgerald berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya.
Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah Life menerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut. Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.
Sejak itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti The New Yorker terus memuatnya. Majalah sastra juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog.
Unsur dan ciri khas
Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya), komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik dan tokoh utama); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.
Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis.
Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuath cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya.
Ukuran
Menetapkan apa yang memisahkan cerita pendek dari format fiksi lainnya yang lebih panjang adalah sesuatu yang problematic. Sebuah definisi klasik dari cerita pendek ialah bahwa ia harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk (hal ini terutama sekali diajukan dalam esai Edgar Allan Poe "The Philosophy of Composition" pada 1846). Definisi-definisi lainnya menyebutkan baas panjang fiksi dari jumlah kata-katanya, yaitu 7.500 kata. Dalam penggunaan kontemporer, istilah cerita pendek umumnya merujuk kepada karya fiksi yang panjangnya tidak lebih dari 20.000 kata dan tidak kurang dari 1.000 kata.
Cerita yang pendeknya kurang dari 1.000 kata tergolong pada genre fiksi kilat (flash fiction). Fiksi yang melampuai batas maksimum parameter cerita pendek digolongkan ke dalam novelette, novella, atau novel.
GenreCerita pendek pada umumnya adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah fiksi seperti fiksi ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif, dll. Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi seperti catatan perjalanan, prosa liris dan varian-varian pasca modern serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau jurnalisme baru.
Cerita pendek terkenal
"An Occurrence at Owl Creek Bridge" oleh Ambrose Bierce (teks online)
"Yours Truly, Jack the Ripper" oleh Robert Bloch
"A Sound of Thunder" oleh Ray Bradbury
"Cathedral" oleh Raymond Carver
"The Most Dangerous Game" oleh Richard Connell
"The Story of an Hour" oleh Kate Chopin (teks online)
"A Rose for Emily" oleh William Faulkner (teks online)
"The Overcoat" oleh Nikolai Gogol (teks online — terjemahan dari bahasa Rusia)
"Young Goodman Brown" oleh Nathaniel Hawthorne (teks online)
"The Snows of Kilimanjaro" oleh Ernest Hemingway (teks online)
"The Gift of the Magi" oleh O. Henry (teks online)
"The Lottery" oleh Shirley Jackson (teks online)
"The Monkey's Paw" oleh W.W. Jacobs
"The Dead" oleh James Joyce (teks online
"In der Strafkolonie" oleh Franz Kafka (teks online terj. Inggris dari bahasa Jerman)
"The Call of Cthulhu" oleh H.P. Lovecraft
"Bartleby, the Scrivener" oleh Herman Melville (teks online)
"A Good Man Is Hard to Find" oleh Flannery O'Connor (teks online)
"The Tell-Tale Heart" oleh Edgar Allan Poe (teks online)
"Brokeback Mountain" oleh Annie Proulx
"The Red Room" oleh H.G. Wells
"The Last Question" oleh Isaac Asimov
Lihat pulaDaftar pengarang cerita pendek dunia
Daftar pengarang cerita pendek Indonesia
Sastra
Karya fiksi
Daftar cerita pendek yang muncul di The New Yorker
Sumber-sumber lain
Situs Komunitas Penulis Amatir Indonesia, Situs komunitas penulis amatir terbesar di Indonesia, cerita pendek, puisi, prosa
Free Stories Center, situs untuk cerita pendek dan upaya menerbitkannya
Million Writers Award, untuk cerita pendek terbaik online tahun ini
Kronologi cerita pendek Amerika
Perpustakaan besar online untuk cerita pendek kontemporer dan klasik
Perpustakaan online untuk cerita pendek kontemporer dan klasik- Situs Jerman
Cerita pendek eTexts dan Lebih banyak Cerita pendek eTexts di Project Gutenberg
Cerita Hasidik Yahudi
Cerita pendek: 10 petunjuk untuk penulis kreatif baru
InÉdit: untuk penulis muda dengan kumpulan puisi dan cerita pendek online oleh orang muda
Short Story Radio, stasiun radio internet khusus untuk siaran professional dari cerpen-cerpen yang tak pernah diterbitkan sebelumnya

MENGAPA MENULIS CERITA PENDEK?

Senin, 29 September 2008 06:55:02 - oleh : prys

DARI MANAKAH SEBUAH KARYA sastra berasal? Apakah dari perasan imajinasi, kepekaan intusi, hasil observasi, atau cukup dari pengalaman penulisnya sendiri? Apa justru ia lahir tiba-tiba, ditulis tanpa aba-aba, tanpa syarat apa-apa layaknya sungai yang begitu saja mengalir?

Pertanyaan ini pernah saya ajukan ke beberapa rekan yang aktif menulis (khususnya puisi dan cerpen), dan masing-masing jawabannya berbeda satu sama lain. Disini saya tidak akan menuliskan satu persatu jawabannya, tapi saya akan coba merunutkannya dalam suatu kesimpulan sederhana berikut.

Mereka umumnya menggunakan pengalaman sendiri (bisa juga dialami orang lain atau curhat teman) menjadi tema cerita, saat apa yang mereka alami itu memiliki nilai/ kesan yang khas dalam hidupnya. Dari sini muncul hasrat (motif komunikasi) dalam diri mereka untuk menceritakan kembali pengalaman tersebut kepada orang lain.

Observasi (pengamatan) boleh jadi merupakan cara termudah menemukan bahan untuk diangkat ke dalam sebuah cerita. Lihatlah sekeliling dimana saja kita berada, betapa begitu banyak kehidupan dengan beragam latar belakang, profesi, berikut masing-masing problema yang dihadapi. Di rumah, di kampus, di jalanan, di pasar, di sudut-sudut gang, dan di semua tempat pasti punya kisahnya sendiri-sendiri.

Tentang intuisi, W.J.S Poerwadarminta mendefinisikannya sebagai gerak hati; daya batin untuk mengerti atau mengetahui sesuatu tidak dengan berpikir (tetapi dengan merasa). Intuisi adalah perasaan yang dibawa setiap manusia sejak lahir. Maka, semakin peka perasaan tersebut, semakin mudah pula kita terinspirasi oleh banyak hal.

Manusia juga dianugerahi daya khayal/ kemampuan berimajinasi. Hasilnya berupa fantasi dan gambaran (dalam angan-angan) tak langsung dari keadaan/ kejadian sebenarnya. Disini penulis berperan penting mengolah imajinasinya menjadi jalinan cerita yang akan ditulisnya.

5 Tahap Proses Kreatif
Tak berhenti sampai disitu, saya lalu mengajukan pertanyaan berikutnya ke rekan-rekan penulis tadi: “Bagaimana cara menulis cerita pendek? Bagaimana kita harus memulainya?”

“Wah.. Menulis ya menulis. Kalo ditanya gimana caranya, gue juga bingung mau jawab apa,” ujar seorang dari mereka.

“Kalo gue sih gak ada patokan dasar, tapi pasti masing-masing penulis akan menemukan caranya sendiri-sendiri, kok,” kata seorang lainnya.

Memang betul, masing-masing penulis punya caranya sendiri-sendiri. Sebab, menulis ya menulis. Tapi jawaban tersebut belumlah jawaban yang memuaskan. Hingga akhirnya saya coba merunutkan kembali kemungkinan jawaban yang mungkin ada.

Menulis merupakan suatu proses melahirkan tulisan yang berisi gagasan. Ada yang melakukannya secara spontan, ada juga yang perlu menyusun kerangka tulisannya terlebih dulu. Kebiasaan dan potensi setiap orang memang tidak sama. Tapi pada umumnya, ada 5 tahap proses kreatif yang dihadapi penulis.

Tahap pertama, adalah persiapan. Munculnya gagasan/ ide tentang isi tulisan adalah pemicu awal dalam proses kreatif menulis. Dalam tahap ini seorang penulis telah menyadari apa yang akan dia tulis. Tinggal bagaimana menuangkan gagasan tersebut apakah dalam bentuk tulisan artikel, essai, cerpen, atau dalam bentuk lainnya.

Kedua, tahap inkubasi/ masa pengendapan. Gagasan yang muncul tadi, kini disimpan matang-matang. Hingga muncul anak-anak gagasan baru; ada yang bagus ada yang tidak, ada yang memperkaya dan yang menambah kedalaman gagasan semula. Penulis harus membiarkan ide/ gagasan itu terbentuk di bawah sadarnya, sampai tiba saatnya ‘hamil besar’ dan gagasan itu siap dilahirkan lewat tulisan.

Ketiga, saat inspirasi. Inilah saat yang disebut ‘Eureka’, yakni saat tiba=tiba seluruh gagasan tersebut menemukan bentuk idealnya. Ada desakan kuat untuk segera menulis dan tak bisa ditunggu-tunggu lagi. Inilah saat bagi gagasan di bawah sadar sudah mendepak-depakkan kakinya ingin dilahirkan.

Keempat, tahap penulisan. Pada tahap ini segala hasil inkubasi dan inspirasi tumpah dalam bentuk kata tertulis. Semuanya berjejalan ingin segera dituliskan. Jangan pikirkan mengontrol diri dulu. Jangan menilai mutu tulisan dahulu. Rasio belum boleh bekerja. Yang penting dituangkan saja semua. Sebab, hasilnya masih suatu karya kasar (draft).

Tahap terakhir, tahap revisi. Draft tersebut kemudian kembali dibaca, lalu diperiksa dan dinilai sendiri berdasarkan pengetahuan dan apresiasi yang dimiliki. Disinilah disiplin diri sebagai penulis diuji. Ia harus mau mengulangi menuliskannya kembali, hingga didapat bentuk tulisan terakhir yang dirasa telah mantap mendekati bentuk idealnya.

Kelima tahap inilah yang kemudian meyakini saya bahwa cara terbaik untuk menulis karya cerpen adalah dengan mulai menuliskannya. Jangan sekedar mulai mencoba, tapi lakukan juga secara nyata. Dan saya tidak sedang menggampangkan sesuatu hal disini, tapi saya ingin ketika suatu saat kita ditanyai ‘mengapa menulis cerpen?’, maka jawaban yang keluar dari mulut adalah MENGAPA TIDAK?!!

Pry S., 26 tahun, jurnalis, kini tinggal dan bekerja di Bogor
http://prys3107.blogspot.com

AGAR TULISAN SOULMATE

RESEP TULISAN BERJIWA.

Oleh Agung - Koran Jakarta

”Menulis itu sebagaimana kita belajar berenang. Jika tidak berani turun ke air, sampai kapan pun tidak mungkin bisa berenang. Begitu juga jika pingin jadi penulis, ya harus menulis,” pertuah dari sastarawan Helvy Tiana Rosa.
Salah satu pencetus Forum Lingkar Pena (FLP) tersebut memberikan resep, untuk dapat menulis itu harus rajin membaca agar memiliki wawasan yang luas. Membaca bukan hanya buku yang disenangi saja, namun membaca buku apa saja. Syarat tersebut belum termasuk baca koran, majalah, tabloid serta lingkungan yang ada disekitar kita.
Novelis Heri Hendrayana Harris (Gola Gong) menambahkan, membaca merupakan sarana utama menuju ketrampilan menulis. Ibarat sebuah mobil, jika tidak ada bensinnya, tentu mogok. Begitu juga dengan penulis, jika tidak suka membaca, berarti jiwanya akan kosong. Banyak sedikitnya sumber bacaan itu akan tercermin dari karya tulis. Syarat lain menjadi penulis, lanjut Gola Gong, adalah menguasai 4 ketrampilan berbahasa untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain.
Empat Ketrampilan berbahasa yaitu mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Penguasaan dengan cara seperti ini, kelak selain mahir menulis, mereka juga mahir berbicara di depan orang banyak. “Point terpenting lainya adalah latihan menulis, menulis dan menulis,” tandas penulis yang namanya melambung lewat novelnya Balada Si Roy.

BUKU HARIAN
Helvi mengamini kiat Gola Gong, latihan itu bisa dilakukan dengan menuliskan semua pengetahuan dan pengalaman baru setiap hari dalam buku harian. Boleh juga menulisnya dalam blog dan website pribadi. Untuk mengasah ketrampilan menulis itu juga dapat dilakukan dengan mencari sahabat pena untuk memberikan saran maupun kritik. “Dengan cara korespondensi tersebut kita akan semakin terpacu untuk meningkatkan kualitas tulisan kita,” jelas perempuan yang menghasilkan tak kurang dari 600 cerpen, lebih dari 40 buku berupa kumpulan cerpen, novel, cerita anak, drama, kritik sastra, kumpulan esai, kumpulan puisi, dan sejumlah antologi bersama.

Penulis novel Laskar Pelangi, Adrea Hirata juga menawarkan kiat menjadi penulis yang professional. Jika ingin menghasilkan karya yang berkualitas hendaknya sering mengadakan penelitian tentang apa yang akan ditulis. Seorang penulis itu tidak hanya duduk di depan komputer atau laptop, ia harus terjun secara langsung ke lapangan untuk mengamati fenomena yang hendak di tulis.

Andrea memberikan contoh, ketika ingin menulis tentang kemacetan yang ada di Jakarta. Tentu seorang penulis harus paham bentul daerah-daerah yang menjadi titik macet di Jakarta. Dari kemacetan tersebut dampak yang ditimbulkan. Misalnya, polusi udara. Untuk itu, penulis juga harus paham dengan apa yang dimaksud dengan polusi tersebut. Bahkan alat ukur polusi itu harus diketahui bagaimana cara kerjanya. Oleh karena itu, penulis juga harus rajing-rajin ke perpustakaan atau toko buku untuk melakukan studi literature.

“Jadi belajar untuk menjadi penulis itu membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mengisi pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam memori otak. Oleh karena itu, saya tidak sepakat dengan pelatihan-pelatihan menulis yang hanya mengobral janji untuk menulis cepat. Sebab, hasil dari tulisan instant tersebut tentu tidak akan ada jiwanya,” cetus Andrea.(agung – Koran Jakarta)

Pengertian Cerpen

Sebenarnya, tidak ada rumusan yang baku mengenai apa itu cerpen. Kalangan sasterawan memiliki rumusan yang tidak sama. H.B. Jassin –Sang Paus Sastra Indonesia- mengatakan bahwa yang disebut cerita pendek harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian.

A. Bakar Hamid dalam tulisan “Pengertian Cerpen” berpendapat bahwa yang disebut cerita pendek itu harus dilihat dari kuantitas, yaitu banyaknya perkataan yang dipakai: antara 500-20.000 kata, adanya satu plot, adanya satu watak, dan adanya satu kesan. Sedangkan Aoh. KH, mendefinisikan bahwa cerpen adalah salah satu ragam fiksi atau cerita rekaan yang sering disebut kisahan prosa pendek. Dan masih banyak sastrawan yang merumuskan definisi cerpen. Rumusan-rumusan tersebut tidak sama persis, juga tidak saling bertentangan satu sama lain.

Hampir semuanya menyepakati pada satu kesimpulan bahwa cerita pendek atau yang biasa disingkat cerpen adalah cerita rekaan yang pendek.Dari beberapa buku dan uraian yang layak dijadikan pedoman, tampaknya pendapat pakar cerita pendek dunia, Edgar Allan Poe, sangat cocok menjadi panduan- karena secara teoritis ia memenuhi kriteria ilmiah, tetapi secara praktis ia dapat diaplikasikan. Pendapat yang dirinci Muhammad Diponegoro dalam bukunya Yuk, Nulis Cerpen Yuk disederhanakan sebagai berikut:Pertama, cerita pendek harus pendek.

Seberapa pendeknya? Sebatas rampung baca sekali duduk menunggu bus atau kereta api, atau sambil antre karcis bioskop. Disamping itu ia juga harus memberi kesan secara terus-menerus hingga kalimat terakhir, berarti cerita pendek harus ketat, tidak mengobral detail, dialog hanya diperlukan untuk menampakkan watak, atau menjalankan cerita atau menampilkan problem.Kedua, cerita pendek mengalir dalam arus untuk menciptakan efek tunggal dan unik.
Menurut Poe ketunggalan pikiran dan aksi bisa dikembangkan lewat satu garis dari awal sampai akhir.

Di dalam cerita pendek tak dimungkinkan terjadi aneka peristiwa digresi.Ketiga, cerita pendek harus ketat dan padat. Setiap detil harus mengarus pada pada satu efek saja yang berakhir pada kesan tunggal. Oleh sebab itu ekonomisasi kata dan kalimat – sebagai salah satu ketrampilan yang dituntut bagi seorang cerpenis.Keempat, cerita pendek harus mampu meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya benar-benar terjadi, bukan suatu bikinan, rekaan.

Itulah sebabnya dibutuhkan suatu ketrampilan khusus, adanya konsistensi dari sikap dan gerak tokoh, bahwa mereka benar-benar hidup, sebagaimana manusia yang hidup.Kelima, cerita pendek harus menimbulkan kesan yang selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda, karena ceritanya seperti masih berlanjut. Kesan selesai itu benar-benar meyakinkan pembaca, bahwa cerita itu telah tamat, sampai titik akhirnya, tidak ada jalan lain lagi, cerita benar-benar rampung berhenti di situ.

Rumusan Poe inilah –saya sepakat dengan Korrie Layun Rampan- sesungguhnya yang cukup bisa mewakili pengertian cerita pendek secara umum.

II. Karakteristik Cerpen

Gambaran umum karakteristik cerpen bisa ditangkap dalam rumusan Edgar Alan Poe, di atas. Untuk mempertegas perbedaan cerpen dengan novel, Ismail Marahimin, dalam Menulis Secara Populer menjelaskan bahwa cerpen memang harus pendek dan singkat. Sedangkan cerita rekaan yang panjang adalah novel. Apa ukuran panjang-pendek suatu cerpen itu? Jumlah halamannyakah? Jumlah kata-katanyakah?

Menjawab hal ini, rumusan Poe cukup menjelaskan. Meskipun ada yang berpendapat jumlah katanya tidak lebih dari 10.000 kata (The Liang Gie). Ada yang membatasi jumlah katanya antara 500 – 30.000 kata (Helvy Tiana Rosa).Yang jelas, karakteristik utama cerpen adalah pendek dan singkat. Di dalam cerita yang singkat itu, tentu saja tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya, bisa jadi hanya seorang, atau bisa juga sampai sekitar empat orang paling banyak. Itu pun tidak seluruh kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh itu diungkapkan di dalam cerita.

Fokus atau, pusat perhatian, di dalam cerita itu pun hanya satu. Konfliknya pun hanya satu, dan ketika cerita itu dimulai, konflik itu sudah hadir di situ. Tinggal bagaimana menyelesaikan saja.Karena pendeknya, kita biasanya tidaklah menemukan adanya perkembangan di dalam cerita. Tidak ada cabang-cabang cerita.

Tidak ada kelebatan-kelebatan pemikiran tokoh-tokohnya yang melebar ke pelbagai hal dan masalah. Peristiwanya singkat saja. Kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh, pun tidak berkembang, dan kita tidak menyaksikan adanya perubahan nasib tokoh, atau tokoh-tokoh ini ketika cerita berakhir. Dan ketika konfik yang satu itu terselesaikan, kita tidak pula tahu bagaimana kelanjutan kehidupan tokoh, atau tokoh-tokoh, cerita itu.Dan karena jumlah tokoh terbatas, peristiwanya singkat, waktu berlangsungnya tidak begitu lama, kata-kata yang dipakai harus hemat, tepat dan padat, maka –diatara karakteristik cerpen- tempat kejadiannya pun juga terbatas, berkisar 1-3 tempat saja.

Perlu ditegaskan bahwa cerpen bukan penggalan sebuah novel. BUKAN PULA sebuah novel yang dipersingkat. Cerpen itu adalah sebuah cerita rekaan yang lengkap: tidak ada, tidak perlu, dan harus tidak ada tambahan lain. Cerpen adalah sebuah genre atau jenis, yang berbeda dengan novel.Namun demikian, sebuah cerpen meskipun singkat tetap harus mempunyai tikaian dramatik, atau dalam bahasa The Liang Gie konflik dramatik, yaitu perbenturan kekuatan yang berlawanan. Baik benturan itu terlihat nyata ataupun tersamarkan. Sebab inilah inti suatu cerpen.

III. Unsur-Unsur Dalam Sebuah Cerpen

1. Tema

Yaitu gagasan inti. Dalam sebuah cerpen, tema bisa disamakan dengan pondasi sebuah bangunan. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa pondasi. Dengan kata lain tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita.Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan atau pandangan hidup si pengarang dalam menempuh kehidupan luas ini.

Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final, tetapi ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.Secara tradisional, tema itu bisa dijelaskan dengan kalimat sederhana, seperti:
  1. Kejahatan pada akhirnya akan dikalahkan oleh kebaikan.
  2. Persahabatan sejati adalah setia dalam suka dan duka.
  3. Cinta adalah energi kehidupan, karena itu cinta dapat mengatasi segala kesulitan. Dan lain sebagainya.
Cerpen yang baik dan besar biasanya menyajikan berbagai persoalan yang kompleks. Namun, selalu punya pusat tema, yaitu pokok masalah yang mendominasi masalah lainnya dalam cerita itu. Misalnya cerpen “Salju Kapas Putih” karya Satyagraha Hoerip. Cerpen ini melukiskan pengalaman “aku” di negeri asing dengan baik sekali, tetapi secara tajam cerpen ini menyorot masalah moral. Tokoh “aku” dapat bertahan dari godaan berbuat serong karena pertimbangan moral.
2. Alur atau Plot
Yaitu rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Banyak anggapan keliru mengenai plot. Sementara orang menganggap plot adalah jalan cerita. Dalam pengertian umum, plot adalah suatu permufakatan atau rancangan rahasia guna mencapai tujuan tertentu.

Rancangan tentang tujuan itu bukanlah plot, akan tetapi semua aktivitas untuk mencapai yang diinginkan itulah plot.Atau, secara lebih gamblang plot adalah –menurut Aswendo Atmowiloto- sebab-akibat yang membuat cerita berjalan dengan irama atau gaya dalam menghadirkan ide dasar.

Semua peristiwa yang terjadi di dalam cerita pendek harus berdasarkan hukum sebab-akibat, sehingga plot jelas tidak mengacu pada jalan cerita, tetapi menghubungkan semua peristiwa. Sehingga Jakob Sumardjo dalam Seluk-beluk Cerita Pendek menjelaskan tentang plot dengan mengatakan, “Contoh populer menerangkan arti plot adalah begini: Raja mati. Itu disebut jalan cerita. Tetapi raja mati karena sakit hati, adalah plot.”Dalam cerpen biasanya digunakan plot ketat artinya bila salah satu kejadian ditiadakan jalan cerita menjadi terganggu dan bisa jadi, tak bisa dipahami.

Adapun jenis plot bisa disederhanakan menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Plot keras, jika akhir cerita meledak keras di luar dugaan pembaca. Contohnya: cerpen-cerpen Anton Chekov, pengarang Rusia legendaris, cerpen-cerpen Trisnoyuwono yang terkumpul dalam Laki-laki dan Mesiu, cerpen-cerpen Subagio Sastrowardoyo dalam kumpulannya Kejantanan di Sumbing.
  2. Plot lembut, jika akhir cerita berupa bisikan, tidak mengejutkan pembaca, namun tetap disampaikan dengan mengesan sehingga seperti terus tergiang di telinga pembaca. Contoh, cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam, cerpen-cerpen Danarto dalam Godlob, dan hampir semua cerpen Guy de Maupassant, pengarang Perancis menggunakan plot berbisik.
  3. Plot lembut-meledak, atau plot meledak-lembut adalah campuran plot keras dan lembut. Contoh: cerpen Krawang-Bekasi milik Gerson Poyk, cerpen Bulan Mati karya R. Siyaranamual, dan cerpen Putu Wijaya berjudul Topeng bisa dimasukkan di sini.

Adapun jika kita melihat sifatnya, maka ada cerpen dengan plot terbuka, plot tertutup dan cempuran keduanya. Jadi sifat plot ada kalanya:


  1. Terbuka. Jika akhir cerita merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita, di samping masalah dasar persoalan.
  2. Tertutup. Akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk meneruskan jalan cerita. Contoh Godlobnya Danarto.3. Campuran keduanya.
  3. PenokohanYaitu penciptaan citra tokoh dalam cerita. Tokoh harus tampak hidup dan nyata hingga pembaca merasakan kehadirannya. Dalam cerpen modern, berhasil tidaknya sebuah cerpen ditentukan oleh berhasil tidaknya menciptakan citra, watak dan karakter tokoh tersebut.

Penokohan, yang didalamnya ada perwatakkan sangat penting bagi sebuah cerita, bisa dikatakan ia sebagai mata air kekuatan sebuah cerita pendek.Pada dasarnya sifat tokoh ada dua macam; sifat lahir (rupa, bentuk) dan sifat batin (watak, karakter). Dan sifat tokoh ini bisa diungkapkan dengan berbagai cara, diantaranya melalui:

  • Tindakan, ucapan dan pikirannya
  • Tempat tokoh tersebut berada
  • Benda-benda di sekitar tokoh
  • Kesan tokoh lain terhadap dirinya
  • Deskripsi langsung secara naratif oleh pengarang
4. Latar atau Setting
yaitu segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana dalam suatu cerita.

Pada dasarnya, latar mutlak dibutuhkan untuk menggarap tema dan plot cerita, karena latar harus bersatu dengan teman dan plot untuk menghasilkan cerita pendek yang gempal, padat, dan berkualitas. Kalau latar bisa dipindahkan ke mana saja, berarti latar tidak integral dengan tema dan plot. Cerpen saya, Bayi-bayi Tertawa yang mengambil setting khas Palestina, dengan watak, budaya, emosi, kondisi geografi yang sangat khas Palestina tentu akan menjadi lucu jika settingnya dipindah di Ponorogo. Jelas bahwa setting akan sangat menentukan watak dan karakter tokoh.

5. Sudut Pandangan Tokoh

Di antara elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek adlaah sudah pandangan tokoh yang dibangun sang pengarang. Sudut pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita.

Jadi sudut pangan ini sangat erat dengan teknik bercerita.Sudut pandangan ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:

  1. Sudut pandangan orang pertama. Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Di sini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya”nya.
  2. Sudut pandang orang ketiga, biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “Aisha”, “Fahri”, dan “Nurul” misalnya.
  3. Sudut pandang campuran, di mana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan.

Dalam “Sekelumit Nyanyian Sunda” Nasjah Djamin sangat baik menggunakan teknik ini.

4. Sudut pandangan yang berkuasa

Merupakan teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pandanga ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para pujangga Balai Pustaka banyak yang menggunakan teknik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.IV. Anatomi Cerita PendekSetelah mengerti betul definisi cerpen, karakteristik cerpen dan unsur-unsur yang wajib ada dalam membangun cerpen, maka sejatinya Anda sudah sangat siap untuk menciptakan sebuah cerpen. Sebelum menulis cerpen ada baiknya anda mengetahui anatomi cerpen atau bisa juga disebut struktur cerita.

Umumnya anatomi cerpen, apapun temanya, di manapun settingnya, apapun jenis sudut pandangan tokohnya, dan bagaimanapun alurnya memiliki anatomi sebagai berikut:


  1. Situasi (pengarang membuka cerita)
  2. Peristiwa-peristiwa terjadi
  3. Peristiwa-peristiwa memuncak
  4. Klimaks
  5. Anti Klimaks
Atau, komposisi cerpen, sebagaimana ditandaskan H.B.Jassin dapat dikatakan sebagai berikut:
  1. Perkenalan
  2. Pertikaian
  3. Penyelesaian
Cerpen yang baik adalah yang memiliki anatomi dan struktur cerita yang seimbang. Kelemahan utama penulis cerpen pemula biasanya di struktur cerita ini. Helvy Tiana Rosa selama menjadi pimred Annida dan melihat kelemahan mereka itu dan berkomentar,“Cerpenis-cerpenis pemula biasanya kurang memperhatikan proporsionalitas struktur cerita.

Banyak di antara mereka yang berpanjang-panjang ria dalam menulis pembukaan cerpennya. Mereka menceritakan semua, seolah takut para pembaca tak mengerti apa yang akan atau sedang mereka ceritakan. Akibatnya sering satu sampai dua halaman pertama karya mereka masih belum jelas akan menceritakan tentang apa. Hanya pengenalan dan pemaparan yang bertele-tele dan membosankan. Konflik yang seharusnya dibahas dengan lebih jelas, luas dan lengkap, sering malah disinggung sambil lalu saja. Pengakhiran konflik pun dibuat sekedarnya. Tahu-tahu sudah penyelesaian. Padahal inti dari cerpen adalah konflik itu sendiri. Jadi jangan sampai pembukaan cerpen menyamai apalagi sampai menelan konflik tersebut.”

V. Agar Sebuah Cerpen Memiliki Daya Pikat

Agar cerpen ada memikat pembaca, trik-trik berikut ini bisa dipertimbangkan baik-baik:


  1. Carilah ide cerita yang menarik dan tidak klise. Mengulang ide cerita semisal “Bawang Merah dan Bawang Putih” adalah pilihan yang kurang tepat, karena akan tampak sangat klise dan menjadi tidak menarik pembaca.
  2. Buatlah lead, paragraf awal dan kalimat penutup cerita yang semenarik mungkin. Alinea awal dan alinea akhir sangat mementukan keberhasilan sebuah cerpen. Alinea awal berfungsi menggiring pembaca untuk menelusuri dan masuk dalam cerita yang dibacanya. Sedangkan kalimat akhir adalah kunci kesan yang disampaikan pengarang. Kunci kesan ini sangat penting, karena cerpen yang memberikan kesan yang mendalam di hati pembacanya, akan selalu dikenang.
  3. Buat judul cerita yang bagus dan menarik. Sebagaimana buku, cerita yang bagus tidak semuanya dibaca orang. Salah satu penyebabnya adalah kalimat pembuka yang buruk dan judul yang mati, tidak menggugah rasa ingin tahu pembacanya. M. Fauzil Adhim dalam bukunya Dunia Kata menjelaskan beberapa hal yang seyogyanya diperhatikan dalam menulis judul:Pertama, judul sebaiknya singkat dan mudah diingat.Kedua, judul harus mudah diucapkan. Dan yang ketiga, kuat maknanya.
  4. Perhatikan teknik penceritaan. Teknik yang digunakan pengarang menyangkut penokohan, penyusunan konflik. pembangunan tegangan dan penyajian cerita secara utuh. Jangan sampai pembaca sudah jenuh di awal cerita. Untuk menghindari kejenuhan pembaca di awal cerita bisa kita gunakan teknik:-in medias res (memulai cerita dari tengah)-flash back (sorot balik, penyelaan kronologis)Anton Chekov menyarankan : “Lipat dualah halaman pertama cerpenmu, lalu robek dua dan buang sobekan yang sebelah atas.”
  5. Buatlah suspense, kejutan-kejutan yang muncul tiba-tiba (bedakan dengan faktor kebetulan), jangan terjebak pada cerita yang bertele-tele dan mudah ditebak.
  6. Cerpen harus mengandung kebenaran, keterharuan dan keindahan. Elizabeth Jolley, mengatakan, “Saya berhati-hati agar tidak membuat kesalahan. Sungai saya tidak pernah mengalir ke hulu.”Gabriel Garcia Marquez, sastrawan besar dari Kolumbia yang meraih novel itu berkata, “Pujian terbesar untuk karya saya tertuju kepada imajinasi, padahal tidak satu pun baris dalam semua karya saya yang tidak berpijak pada kenyataan.”
  7. Ingat bahwa setiap pengarang mempunyai gaya khas. Pakailah gaya sendiri, jangan meniru. Gunakan bahasa yang komunikatif. Hindari gaya berlebihan dan kata-kata yang terlalu muluk.
  8. Perhatikan setiap tanda baca dan aturan berbahasa yang baik, tetapi tetap tidak kaku. Jangan bosan untuk membaca dan mengedit ulang cerpen yang telah anda selesaikan.Akhirnya, saat Anda berniat menggoreskan pena menulis cerpen ingatlah pesan J.K. Rowling, siapa tahu ada manfaatnya.
Mulailah menulis apa saja yang kamu tahu.
Menulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Lalu saat menulis cerpen ingat pesan Edgar Allan Poe, agar cerpenmu berbobot, Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan.
Selamat menulis cerpen!
Sumber: Cerpenista

Monday, October 20, 2008

Basis dan Topik Tulisan

Basis dan Topik Tulisan

Seperti yang sudah disinggung di pada tip sebelumnya, tulisan opini adalah berupa tanggapan dari fenemona yang lagi tren saat ini. Dalam konteks tulisan opini di koran, maka tulisan yang perlu kita tanggapi adalah sebagai berikut:
  1. Isi Editorial/Tajuk sebuah media.
  2. Headline/Berita utama sebuah media.
  3. Tulisan opini.
  4. Hari besar nasional dan internasional.Siapapun yang ingin jadi penulis/pengamat hendaknya tidak pernah melewatkan tiga poin pertama di atas setiap kali membaca sebuah koran.
Dan selalu mengingat poin ke empat.
(1) Tanggapan Editorial/Tajuk sebuah media adalah suara atau sikap resmi dari media yang bersangkutan tentang sebuah kasus/kejadian tertentu; sesuai dengan misi media tsb. Menanggapi editorial/tajuk di harian Kompas tentu saja berbeda dengan cara kita menanggapi editorial di harian Republika, misalnya. Umumnya menanggapi tulisan editorial/tajuk harus cepat. Idealnya, tanggapan untuk tajuk/editorial hari ini dapat dikirim hari ini juga sehingga dapat dimuat esok harinya di media terkait. Namun, kalau tanggapan kita baru selesai dalam dua hari, teruskan dikirim ke media terkait, karena peluang untuk dimuat masih tinggi terutama untuk media yang tak sebesar Kompas.
(2) Tanggapan Headline Media/Berita Utama juga bisa dijadikan pijakan untuk menulis. Jangan lupa untuk mencatat nama media/tanggal/bulan headlines yang kita kutip.

(3) Tanggapan Artikel Opini. Artikel opini dikenal juga dengan istilah artikel OP-ED (singkatan dari opini-editorial). Umumnya artikel OP-ED yang menanggapi artikel OP-ED lain berisi tambahan yang lebih lengkap dari yang dibahas sebelumnya atau menentang artikel yang ditanggapi.

(4) Hari besar nasional/internasional adalah tulisan yang isinya berkaitan dengan hari besar pada saat itu. Contoh, pada sekitar 21 Januari mendatang adalah Hari Raya Idul Adha. Siapkan sejak sekarang tulisan yang berkaitan dengan hari idul adha. Dan kirimkan segera ke media sebelum hari H.
Catatan: Umumnya kita mengirim tulisan yang berdasarkan tanggapan atas Editorial atau Headlines pada media yang kita tanggapi. Contoh, tanggapan Editorial/Headlines di Kompas hendaknya dikirim ke Kompas, tidak ke media lain. Namun kalau tidak dimuat di media terkait, tak ada salahnya dikirim ke media lain. Sedangkan untuk artikel OP-ED yang berkaitan dengan hari besar nasional/internasional dapat dikirim ke media mana saja.
Kalau Artikel Tidak DimuatUntuk Kompas dan Suara Pembaruan tulisan yang tidak dimuat biasanya mendapat pemberitahuan dari redaksi. Sedangkan di koran-koran lain tanpa pemberitahuan. Umumnya, kalau dalam waktu seminggu tulisan tidak muncul, berarti tulisan kita tidak dimuat dan bisa dikirim ke media/koran lain.
Jangan lupa, tulisan yang sama dapat dikirim ke dua media yang berbeda asal tidak sama segmennya. Contoh, satu tulisan bisa saja dikirim ke media nasional dan media daerah (tentu saja tidak sekaligus di-CC-kan dalam satu email). Tapi jangan sekali-kali mengirim satu tulisan ke dua media yang sama segmennya. Seperti pada dua media nasional atau dua media daerah yang sama. Contoh, Kompas dan Republika (dua media nasional) atau Waspada dan Harian SIB (media daerah Medan).

Mengembangkan Ide Menulis Cerita Pendek

MENGEMBANGKAN IDE BAGI CERITA PENDEK*

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda

Kegiatan menulis, atau mencipta karya sastra, dimulai dari adanya ide. Begitu pula dalam menulis cerita pendek (cerpen). Ide adalah gagasan dasar yang menjadi landasan tematik bagi penulisan cerpen. Tema menjadi semacam benang merah yang merangkai unsur-unsur cerita, sejak alur, plot, sampai penokohan dan karakterisasi tokoh-tokohnya, menjadi sebuah cerpen yang seutuhnya.

Alur adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu. Ada alur progresif (runtut), ada kilas balik (flash back), dan ada percampuran antar keduanya. Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi/laku (action). Narasi adalah pelukisan yang dinamis, penggambaran gerak (action) tokoh-tokohnya, serta pergerakan benda-benda yang menjadi penyebab atau akibat aksi para tokoh cerita. Deskripsi adalah pelukisan suasana yang statis, cenderung tetap, seperti suasana kamar yang berantakan, atau bangunan yang luluh lantak oleh bom. Dialog adalah kata-kata yang diucapkan oleh tokoh-tokoh cerita. Ada dialog lahir (terucapkan), ada dialog batin (tidak terucapkan). Sedangkan laku/aksi adalah aktivitas fisik, gerakan anggota badan, dan perbuatan tokoh-tokoh cerita.

Berbeda dengan alur, plot adalah rangkaian sebab-akibat yang memicu krisis dan menggerakkan cerita menuju klimaks. Di dalam alur ada plot. Tapi plot bukanlah alur. Ibarat tubuh, alur adalah fisiknya, dan plot adalah ruh atau ‘kekuatan dinamis’ yang penuh gairah membangun konflik, atau mesin yang menggerakkan cerita ke arah klimaks dan ending. Di dalam plot inilah persoalan-persoalan yang dihadapi para tokoh cerita saling digesekkan, dibenturkan satu sama lain menjadi persoalan baru yang lebih kompleks, diseret ke puncak krisis, lalu dicari pemecahan (penyelesaian)-nya menuju akhir cerita (ending). Di sinilah kecerdasan dan kearifan pengarang ‘diuji’ oleh persoalan yang diciptakannya sendiri, apakah ia mampu menemukan solusi yang cerdas dan arif sehingga karyanya mampu memberika sesuatu (something) kepada pembacanya.

Sedangkan penokohan adalah penciptaan tokoh-tokoh cerita yang dibutuhkan oleh tema dan plot. Contoh sederhananya: untuk tema cinta yang berakhir bahagia, misalnya, cukup dibutuhkan sepasang kekasih dan orang tua yang akhirnya merestui hubungan mereka. Tapi, untuk kisah cinta yang tragis, perlu diciptakan tokoh antagonis, yang membuat hubungan sepasang kekasih itu terbentur-bentur, mengalami krisis, dan berakhir getir. Di sinilah diperlukan apa yang disebut karakterisasi, yakni penciptaan karakter tiap tokoh cerita, agar mereka bisa menggerakkan plot. Karakter tiap tokoh digambarkan melalui narasi, deskripsi, dan dialog. Semakin tajam perbedaan karakter antar-tokoh cerita, akan makin tajam konflik yang terjadi, dan plot akan gampang bergerak ke arah krisis untuk menuju klimaks. Plot menjadi kental, penuh ketegangan (suspense), sehingga cerita tidak bergerak datar tapi dinamis.

Pengembangan ide dengan teknik dan unsur-unsur cerita seperti di atas lazim dipakai pada fiksi-fiksi realistik, yang masih meperhatikan pentingnya unsur-unsur cerita secara lengkap, serta mengenal runtutan cerita (alur) sejak pemaparan, krisis, klimaks dan ending. Kemampuan untuk mengolah tema melalui unsur-unsur dan teknik bercerita itulah yang menjadi kekuatan utama fiksi realistik. Namun, jenis-jenis fiksi simbolik, surealis, atau mosaik, sering tidak lagi memperhatikan kelengkapan unsur-unsur cerita tersebut, dan mencoba menggantikan kekuatan cerita itu dengan kekuatan lain, seperti kekuatan simbol (Danarto), teror logika (Putu Wijaya), keunikan imajinasi (Seno Gumira Adjidarma), atau pemberontakan estetik-tematik (Ayu Utami).
***
Jika ingin kreatif dan produktif, seorang pengarang cerpen (cerpenis) harus aktif, menggali, memburu dan menangkap bersitan ide cerita, yang sering disebut sebagai ‘ilham’ atau inspirasi. Inilah yang dilakukan oleh pengarang-pengarang ternama yang produktif, seperti Putu Wijaya, Emha Ainun Najid, dan Seno Gumira Ajidarma. Putu Wijaya bahkan pernah menyarankan, kalau perlu ‘perkosalah’ dirimu sendiri untuk kreatif dan produktif dalam mengarang.

Penyair Abdul Hadi WM pernah memberi saran kepada para pemula, ‘’menulis dan mulai menulislah, meski tidak ada ‘ilham’ di kepalamu. Ilham akan hadir atau mengalir saat engkau mencoretkan pena di atas kertasmu.’’ Dengan cara itu pula Putu Wijaya memperkosa dirinya sendiri, memaksa diri menulis dan terus menulis.

Jadi, sumber ilham sebenarnya ada dalam diri pengarang sendiri. Ia akan hadir dan mengalir manakala pena sang pengarang tajam menyentuhnya. Ia akan memancar manakala sang pengarang mau bekerja keras menggalinya, layaknya seorang penggali sumur yang memburu ‘mata air’ yang akan terus mengalir. Cara terbaiknya adalah dengan menulis itu sendiri.

Pengalaman hidup pengarang, penghayatan religiusitasnya, kekayaan intelektualnya, pengalaman beribadahnya, penderitaannya, kerinduannya pada sang kekasih, kesepiannya, kejengkelannya pada dunia di sekitarnya, kepekaan sosial dan politiknya, pandangan kritisnya terhadap tradisi dan modernitas, serta apa saja yang bergejolak di dalam diri sang pengarang serta reaksi batinnya terhadap berbagai fenomena di lingkungan sekitarnya, adalah lahan-lahan subur bagi lahirnya seorang bayi bernama ide cerita. Di lahan-lahan itulah sang ilham, inspirasi, atau ide cerita, biasa menggeliat atau melintas. Tinggal bagaimana kecekatan sang pengarang untuk menangkap dan mengolahnya menjadi karya sastra.

Tentu, sumber ilham juga bertebaran di lingkungan sekitar pengarang, di kampus, di balaikota, di hotal, di pasar, di masjid, perpustakaan, di dapur, di tempat tidur, warung kopi, di gang-gang kumuh, di trotoar-tortoar pertokoan, di persawahan, di kampung, di taman bunga, di pinggir kali, di panas terik pantai, di dalam kabut dingin pegunungan, di dalam gerbong kereta api, di dek kapal penumpang, kepadatan bus kota, dan di tengah kemacetan lalu lintas sekalipun.
Dari tebaran sumber ilham itu, yang diperlukan adalah kepekaan sang pengarang untuk menangkap isyarat-isyarat kreatif yang dilihatnya dan kemampuan imajinasinya untuk merekayasa serangkaian cerita, atau mata rantai imajinasi, dari isyarat-isyarat tersebut.

Di kalangan penyair, isyarat itu biasa disebut sebagai sentuhan puitik (poetical touch), sedangkan di kalangan penulis fiksi biasa disebut sebagai sentuhan imaji (imagical touch).
Melihat sekuntum mawar mekar sendiri di tengah padang rumput, bagi penyair mungkin akan membangkitkan perasaan sendiri, sunyi. Sang mawar hadir sebagai simbol kesendirian, dan ia mengingatkannya pada eksistensi manusia yang terasing di tengah hirup pikuk kehidupan. Tapi, ia bisa juga hadir sebagai simbol cinta yang membara, dan dengan itu penyair ingin mengungkapkan kata-kata cintanya pada sang kekasih.

Dari dua kemungkinan simbolik itu lalu tersusunlah kata-kata puitis, dengan kesendirian sang mawar sebagai pusat pencitraannya. Sedangkan bagi cerpenis, bunga mawar itu bisa juga menghadirkan bersitan kisah cinta yang tragis. Misalnya, pada suatu musim, mawar tiba-tiba menjadi bunga yang langka. Berhari-hari seseorang mencari mawar itu untuk menyatakan cintanya pada sang kekasih, dan ketika ia menemukan mawar itu di tepi padang rumput, serta membawanya kepada sang kekasih, ternyata ia telah meninggal tertembak polisi saat ikut berdemonstrasi. Maka, fenomena alam itu, tidak hanya bisa diseret ke persoalan cinta yang romantik, tapi juga persoalan politik yang galau. Dari imajinasi dan bersitan ide cerita yang mengembang dari sekuntum mawar seperti itu saya melahirkan cerpen Mawar Biru bagi Novia, yang dimuat di Tabloid Nova dan kumpulan cerpen Badai Laut Biru (Senayan Abadi, Jakarta, 2005).

Melihat rumputan rubuh bersama ditiup angin secara periodik, seorang penyair dapat saja menangkap gerak puitis itu sebagai gerak rukuk atau sujud dalam shalat berjamaah. Maka, ia menangkap fenomena alam itu sebagai simbol religiusitas, simbol kepatuhan kepada Al Khalik. Dari sentuhan fenomena alam itulah saya, pada tahun 1995, menulis sajak Sembahyang Rumputan yang cukup terkenal itu. Tetapi, seorang cerpenis bisa saja mengimajinasikan di tengah rumput itu sedang terjadi adegan percintaan, atau mayat yang terkapar akibat pembunuhan, dan dari situ terekayasalah sejak kisah roman sampai tragedi. Saat menulis novel
Perempuan Jakarta, misalnya, Korrie Layun Rampan cukup memulainya dari pemandangan mayat perempuan yang terkapar di tengah semak-semak.

Melihat seorang gelandangan berkaki satu terkapar di depan toko Cina, seorang pengarang dapat saja membayangkan bahwa gelandangan itu adalah mantan pejuang revolusi kemerdekaan yang kakinya tertembak oleh serdadu Belanda. Maka, mengalirlah kisah mantan pejuang yang tersia-sia akibat ketidakbecusan pemerintah pengurus para veterannya. Melihat sebungkus nasi terinjak-injak berantakan di tengah jalan, seorang pengarang dapat juga mengimajinasikan bahwa nasi itu sebenarnya akan dikirim kepada seorang demonstran yang kelaparan dan terkurung di tengah barikade tentara, tapi ketika nasi itu sampai sang demonstran keburu ‘diamankan’ dan nasi itu tertinggal dan terinjak-injak oleh sepatu tentara.

Begitulah. Dari pemandangan apapun, bahkan dari benda macam apapun, sejak dari fenomena alam sampai fenomena sosial-politik, dapat mengalir kisah-kisah yang menarik dan bermakna bagi pembaca. Semua itu, tentu juga kehidupan itu sendiri, adalah sumber ilham yang tiada habis-habisnya untuk digali. Dari sanalah, berbagai kemungkinan puitik (poetical alternation), dan berbagai kemungkinan cerita (storical alternation) dapat hadir dan dikembangkan menjadi suatu karya sastra yang bermakna.

Tentu, agar susunan kata-kata puitis (puisi) dan kisah-kisah fiktif (cerpen/novel) itu menjadi lebih bermakna, perlu diberi sentuhan filsafat, moral, agama, atau ajaran-ajaran kibajakan lainnya. Agar sentuhan itu dapat hadir sebagai pencerah sekaligus pemerkaya batin pembaca, sang pengarang pun harus banyak membaca. Ia harus menjadi cendekiawan yang terus meneteskan kearifan, kebijakan dan makna hidup bagi pembacanya.

Karya sastra yang baik, menurut Sutardji Calzoum Bachri, adalah yang memberikan sesuatu (something) kepada pembacanya. Sesuatu itu adalah ‘kearifan hidup yang teraktualisasikan’ yang membuat pembaca sulit melupakannya, karena kesannya yang begitu mendalam. Dan, agar kisah-kisah fiktif itu menarik, pengarang perlu menguasai teknik-teknik bercerita secara baik, sejak penyusunan alur, narasi, deskripsi, dialog, sampai penokohan, karakterisasi dan plotting.
***

Satu hal yang harus disadari oleh pengarang – terutama pengarang cerita pendek – adalah bahwa dunia di dalam karya sastra adalah dunia rekaan, dan karena itu, cerpen maupun novel, biasa disebut sebagai fiksi (fiction). Ia berbeda dengan berita yang memang harus ditulis berdasarkan fakta, atau artikel ilmiah populer yang selalu dituntut memiliki argumen yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Fiksi – meskipun sering memperlihatkan hubungan yang jelas dengan realitas faktual dan sering pula menyimpan kandungan sejarah, ilmu dan filsafat -- bebas dari tuntutan pertanggungjawaban ilmiah tersebut.

Memang bisa saja karya sastra diangkat dari kisah nyata, dari peristiwa sejarah, dari hasil penelitian, bahkan dari hasil kerja jurlialistik, seperti cerpen-cerpen jurnalistiknya Seno Gumira Ajidarma. Tetapi, seorang cerpenis maupun novelis, juga penyair, tidak terikat oleh realitas faktual itu. Ia bebas menciptakan dunia rekaannya sendiri dari realitas keseharian yang ditemukannya. Seperti dikatakan Umar Junus dalam Dari Peristiwa ke Imajinasi, realitas yang ada di dalam karya sastra adalah realitas imajinatif, realitas yang sudah mengalami rekayasa ulang menjadi ‘realitas baru’ khas pengarang.

Jika bagi seorang wartawan yang dibutuhkan adalah kecermatannya dalam mencatat serta merekonstruksi realitas faktual ke dalam tulisannya, maka bagi seorang cerpenis dan novelis yang diperlukan justru kekuatan dan kebebasan imajinasinya untuk mengembara secara liar ke berbagai kemungkinan di balik realitas faktual itu. Peraih Nobel Sastra, Tonni Morrison, pernah menasihatkan, bebaskanlah imajinasimu mengembara secara liar ke dalam ‘dunia gelap’ di balik realitas yang kasat mata.

Meskipun begitu, seorang pengarang tetap dituntut untuk dapat mengelola keliaran imajinasinya sesuai dengan kebutuhan tipologi tulisan yang dipilihnya. Untuk menulis cerpen, tentu, seorang pengarang harus membatasi diri pada fokus cerita yang dipilih dan tidak bisa berpanjang-panjang. Sementara untuk novel, eksplorasi kebebasan imajinasi itu terbuka secara lebar.
***

Jakarta, 18 Januari 2005

*) Penulis adalah Redaktur Budaya Republika. Novel-novel dan kumpulan puisinya sudah banyak diterbitkan.*) Dibacakan di "bengkel cerpen" Ode Kampung Rumah Dunia, Sabtu, 4 Feb 2006*) Para relawan; Deden, Oji, Ibnu, berpose di depan mess mereka di Rumah Dunia. Setiap hari mereka banyak mendapatkan ide dari peristiwa di Rumah Dunia. (foto Qizink)
[RumahDunia.Net]

Tidak ada komentar: