Rabu, 22 Februari 2012

Cinta Keluarga Memberikan Semangat dan Harapan bagi Tokoh Iwan dalam Novel 9 Summers 10 Autumns Karya Iwan Setyawan

Disusun oleh Jesica XII IPS 1

       I.            Deskripsi Fisik Buku
Judul                     : 9 Summers 10 Autumns
Pengarang : Iwan Setyawan
Penerbit, Kota : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun terbit           : 2011
Cetakan ke-           : 7
Jumlah halaman: 238 halaman
Jenis Kertas           : Quarto
Cover                    : Softcover
Ukuran                  : 20 x 13,5cm
Harga                    : Rp48.000,00
  
    II.            Sinopsis
Hari pertama Iwan tiba di New York disambut oleh dua preman yang menodongnya di Stasiun Fleetwood saat hendak melihat pesta kembang api pertama kali di New York. Saat itu juga, ia melihat seorang anak kecil berbaju merah putih melewatinya dan bersembunyi. Anak kecil itu pun mengikutinya pulang setelah dua preman tadi kabur karena ada seseorang datang berteriak. Anak kecil ini kemudian akan terus menemani Iwan setiap hari.
Iwan hanyalah anak dari keluarga miskin di Batu, Malang, Jawa Tengah. Keluarganya terdiri dari bapak, ibu, Iwan dan 4 saudari perempuannya, yaitu Mbak Isa, Mbak Inan, Rini, dan Mira. Bapaknya hanya seorang sopir angkut dan truk di Batu. Berkat Bapak-lah, Iwan beserta saudara-saudaranya dapat menyelesaikan sekolah hingga ke jenjang universitas. Bapak yang awalnya memiliki sebuah mobil angkot, rela menjualnya untuk membayar biaya kuliah Iwan di IPB.
Tentu saja yang paling besar adalah jasa sang Ibu. Ibu, Ngatinah, yang membangun ide untuk menabung, mengingatkan kami kalau perlu ke dokter, kalau mobil bisa rusak sewaktu-waktu, kalau rumah bisa bocor, kalau kami butuh makanan bergizi. Ibulah yang mengatur berapa liter nasi yang harus ditanak tanpa tersisa keesokan harinya, kapan kami harus makan daging, ayam, atau tempe. Ibu yang tahu barang apa yang harus digadaikan untuk membeli sepatu baru untuk anaknya dan mengatur pembayaran uang sekolah kami. Ibulah yang membelah satu telur dadar untuk dua atau tiga orang. Ibulah yang selalu menyembunyikan tempe goreng supaya tidak dihabiskan salah satu anaknya. Kesederhaan dan kebijakan Ibu menyelamatkan dan membangun rumah kecil mereka.
Saudari-saudari Iwan pun ikut ambil bagian dalam membuka jalan bagi Iwan bahwa semua akan tercapai bila kita terus mencoba dan tabah. Mbak Isa, sebagai saudari pertama yang membuka jalan untuk kedua adiknya, Mbak Inan dan Iwan. Mbak Isa adalah siswa berprestasi dari SD hingga SMA. Mbak Isa membuat mereka terpacu untuk rajin belajar agar membanggakan kedua orangtua mereka. Walaupun Mbak Isa gagal dalam UMPTN, namun ia tidak pernah menyerah. Kegigihannya menjadi contoh bagi adik-adiknya, terutama saat ia lolos tes calon pegawai negeri sipil saat usianya 35 tahun! Itu adalah usia maksimal bagi calon pegawai negeri sipil dan Mbak Isa berhasil melaluinya dan menjadi seorang pegawai negeri sipil.
Mbak Inan, kakak perempuan kedua Iwan, mengajarkan Iwan dan adik-adiknya untuk menjaga kebersihan, dan yang membuat Iwan tertarik dengan dunia teater di SMA. Mbak Inan adalah seorang yang aktif. Sejak kecil, Mbak Inan rajin bekerja untuk membantu meringankan perekonomian Bapak dan Ibu dengan berjualan makanan saat bulan puasa maupun menjajakannya di pasar. Di sekolah pun, Mbak Inan selalu mengikuti berbagai lomba, dari cerdas cermat hingga membaca puisi. Mbak Inan yang rajin mengaji ini, saat SMA pun aktif di OSIS dan mengikuti kegiatan teater. Saat kuliah di Jurusan Perikanan Universitas Brawijaya, Mbak Inan ikut serta dalam lomba debat P4 dan menang hingga ke tingkat nasional dengan memberi kebanggaan serta keringanan kepada orangtua mereka dalam membayar kuliahnya. Begitu pula dengan Rini dan Mira yang menjadi penyemangat Iwan dalam belajar dan menjalani hidup, memenuhi impiannya, yaitu memiliki sebuah kamar sendiri.
            Saat SMA, Iwan mulai membuka diri. Mulai mencoba hal-hal baru, yaitu teater dan puisi yang selanjutnya menjadi salah satu kesukaannya. Ia mulai bergaul dengan banyak orang, dan bekerja menambah penghasilan melalui les privat seperti yang dilakukan Mbak Rini. Ia pun terus berusaha agar bisa tembus PMDK IPB jurusan Statistika, yang dikatakan jurusan ini sangat sulit untuk anak dari desa. Iwan membuktikan bahwa hal tersebut salah. Bahwa dengan kerja keras dan melepaskan ketakutan akan hasil yang didapat, kita pasti mampu melewati hal tersulit seperti masuk Jurusan Statistika di IPB. Begitu pula dengan nasihat Ibu yang tidak pernah dilupakan Iwan, ‘Coba dulu, belajar yang rajin, jangan takut.
Di SMA pula, ia mengenal Nicolas Auclair, seorang pelajar Kanada yang mengikuti program pertukaran pelajar ke sekolahnya. Iwan mulai belajar bahasa Inggris dari Nico dan berteman dengan Nico. Awalnya, banyak teman-teman Iwan tidak mendekati Nico karena ia seorang bule, tetapi Iwan-lah yang mengajak Nico belajar dan bermain bersama di bawah Gunung Panderman.
Keinginan Iwan saat melintasi Jalan Sudirman adalah menjadi “pegawai berdasi” terwujud juga karena dukungan Ibu, Bapak, dan saudari-saudarinya. Begitu pula dengan keputusannya menerima pekerjaan di New York, yang membawanya menjadi seorang Direktur Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York –salah satu keinginannya untuk melihat dunia luar seperti Kak Inan yang pernah ke Jepang. Ia berhasil memiliki sebuah kamar untuknya, yaitu berupa apartemen setelah bekerja selama 10 tahun di New York.
Kisah cinta Iwan pun tidak berakhir bahagia. Pertama kalinya ia jatuh cinta pada seorang wanita, seorang Amerika bernama Audrey, yang memiliki hobi yang sama dengannya, yaitu yoga. Mereka bertemu di kelas yoga yang sama, dan saat itu mereka hanya saling bertatapan. Kemudian, sebuah keajaiban, mereka bertemu di Barneys, sebuah department store di New York, dan Iwan pun memberanikan diri untuk menyapanya dan memberikan kartu namanya. Perkenalan mereka singkat, dan hubungan mereka diakhiri oleh pertanyaan dari orangtua Audrey bahwa mereka berbeda kepercayaan. Di musim gugur ke-9, Audrey menikah dan mereka masih berteman baik.
Di akhir kisah, Iwan memutuskan kembali ke tanah air, karena ia sangat merindukan kampung halamannya, setelah 10 tahun ia tinggalkan, dan pada halaman terakhir, ia menceritakan sebuah pengalaman yang sangat ia takuti dan akhirnya ia berani menceritakannya. Pertengkaran bapak ibunya dan ibunya yang selalu menangis di dalam kamar sesudahnya.

 III.            Cinta Keluarga Memberikan Semangat dan Harapan bagi Tokoh Iwan dalam Novel 9 Summers 10 Autumns Karya Iwan Setyawan

3.1  Pendahuluan
3.1.1        Latar Belakang
Iwan Setyawan, penulis buku ini, lahir di Batu 2 Desember 1974. Ia merupakan lulusan terbaik fakultas MIPA IPB 1997 dari Jurusan Statistika. Bekerja selama tiga tahun di Jakarta sebagai data analis di Nielsen dan Danareksa Research Institute dan selanjutnya merambah karier di New York City selama 10 tahun di Nielsen Consumer Research. Pecinta yoga, sastra dan seni teater ini meninggalkan NYC Juni 2010 lalu dengan posisi terakhir sebagai Director, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. 9 Summers 10 Autumns merupakan novel pertamanya. Buku pertamanya adalah Melankoli Kota Batu berupa kumpulan fotografi dan narasi puitis, didedikasikan untuk Kota Batu. Saat ini Iwan tinggal di Batu, Jawa Timur. Buku keduanya, 9 Summers 10 Autumns, menceritakan tentang pengalamannya dari kecil hingga sukses menjadi direktur Internal Client Management Nielsen Consumer Research dan juga merupakan pertama kali bagi penulis untuk menulis sebuah novel fiksi ini memperoleh penghargaan Buku Fiksi Terbaik Jakarta Book Award 2011 dari IKAPI DKI JAKARTA.
Penulis berhenti bekerja dari Nielsen Consumer Research karena merasa jemu dan rindu kampung halamannya, Batu. Pada tanggal 23 April 2010, ia resmi mengundurkan diri dengan jabatan terakhir yang dipegangnya yaitu direktur Internal Client Management. Tujuan penulis menulis buku ini sendiri untuk berbagi pengalaman dan menginspirasi semua orang agar tidak cepat menyerah dalam mengejar impian meski banyak hal pahit yang harus dihadapi.
           Menurut goodreads.com, sebuah website database buku dan pembaca, buku ini memperoleh total 316 penilaian dan 105 reviews serta mendapatkan rating 3,47. Penilaian yang cukup bagus mengingat buku ini bertipe fiksi-autobiografi. Begitu pula terdapat banyak komentar atau kata pengantar dari penulis terkenal, para ahli dan tokoh masyarakat merupakan permulaan yang baik untuk buku ini.
           Menurut catatan penulis di forum Goodreads Indonesia, melalui buku ini, penulis ingin mengajak pembaca melompat dari bawah kaki Gunung Panderman ke New York City, dari gemerlap Times Square[1] ke kesunyian malam di Batu, dari masa kini ke masa lalu, dan dari masa lalu ke masa kini. “9 Summers 10 Autumns” juga mengajak pembaca melalui empat musim di New York City, melankoli di bawah rumah kecil berukuran 6x7 meter di Gang Buntu, dari SoHo[2] ke Tanah Abang, dari Venesia Italia sampai Gunung Rinjani. “9 Summers 10 Autumuns” menelusuri jejak masa lalu, berdamai dengan kegetiran yang tergores disana dan melangkah maju. “9 Summers 10 Autumns” bukanlah sebuah cerita sukses, tapi perjuangan keluarga untuk hidup lebih baik.[3]

3.1.2        Rumusan Masalah
3.1.2.1  Bagaimana cinta keluarga dapat menjadi penyemangat bagi tokoh Iwan dalam menghadapi hidup?

3.1.3        Tujuan
3.1.3.1  Bagi khalayak umum khususnya pecinta buku genre fiksi dan inspirasional, semoga telaah ini dapat dijadikan pertimbangan untuk membaca buku ini.
3.1.3.2  Bagi instansi pemerintah diharapkan membaca buku ini dan mengetahui situasi dari masyarakat bawah dalam mendapatkan pendidikan.

3.2  Analisis Buku
3.2.1        Landasan Teori
Menurut Wikipedia dalam definisi umum, cinta adalah sebuah emosi dari kasih saying yang kuat dan ketertarikan dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.[4]
Secara terminologi, penggunaan istilah cinta dalam masyarakat Indonesia dan Malaysia lebih dipengaruhi perkataan love dalam bahasa Inggris. Love digunakan dalam semua amalan dan arti untuk eros, philia, agape dan storge. Namun demikian perkataan-perkataan yang lebih sesuai masih ditemui dalam bahasa serantau dan dijelaskan seperti berikut:
·         Cinta yang lebih cenderung kepada romantis, asmara dan hawa nafsu, eros
·         Sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga, philia
·         Kasih yang lebih cenderung kepada keluarga dan Tuhan, agape
·         Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme dan narsisme, storge[5]
Secara etimologi, beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia atau bahasa Melayu apabila dibandingkan dengan beberapa bahasa mutakhir di Eropa, terlihat lebih banyak kosakatanya dalam mengungkapkan konsep ini. Termasuk juga bahasa Yunani kuno, yang membedakan antara tiga atau lebih konsep: eros, philia, dan agape.
Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:
·         Perasaan
·         Pengenalan
·         Tanggung jawab
·         Perhatian
·         Saling menghormati
Erich Fromm dalam buku larisnya (the art of loving) menyatakan bahwa ke empat gejala: Care, Responsibility, Respect, Knowledge (CRRK), muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Omong kosong jika seseorang mengatakan mencintai anak tetapi tak pernah mengasuh dan tak ada tanggung jawab pada si anak. Sementara tanggung jawab dan pengasuhan tanpa rasa hormat sesungguhnya & tanpa rasa ingin mengenal lebih dalam akan menjerumuskan para orangtua, guru, rohaniwan dll pada sikap otoriter.[6]
Salah satu jenis cinta, yaitu cinta antar pribadi. Dalam konteks ini, cinta antara manusia. Bentuk ini lebih dari sekedar rasa kesukaan terhadap orang lain. Cinta antar pribadi bisa mencakup hubungan kekasih, hubungan orangtua dengan anak, dan juga persahabatan yang sangat erat.
Beberapa unsur yang sering ada dalam cinta antar pribadi:
·         Kasih sayang: menghargai orang lain.
·         Altruisme: perhatian non-egois kepada orang lain (yang tentunya sangat jarang kita temui sekarang ini).
·         Reciprocation: cinta yang saling menguntungkan (bukan saling memanfaatkan).
·         Komitmen: keinginan untuk mengabadikan cinta, tekad yang kuat dalam suatu hubungan.
·         Keintiman emosional: berbagi emosi dan rasa.
·         Kekerabatan: ikatan keluarga.
·         Passion: Hasrat dan atau nafsu seksual yang cenderung menggebu-gebu.
·         Physical intimacy: berbagi kehidupan erat satu sama lain secara fisik, termasuk di dalamnya hubungan seksual.
·         Kepentingan pribadi: cinta yang mengharapkan imbalan pribadi, cenderung egois dan ada keinginan untuk memanfaatkan pasangan.
·         Pelayanan: keinginan untuk membantu dan atau melayani.
·         Homoseks: Cinta dan atau hasrat seksual pada orang yang berjenis kelamin sama, khususnya bagi pria. Bagi wanita biasa disebut Lesbian (lesbi)[7]
Jenis cinta yang dibahas pada telaah buku ini adalah cinta keluarga yang mengandung kasih sayang dan kekerabatan.
           
Di dalam novel ini, banyak peranan keluarga yang ditulis si penulis yang mempengaruhi karakter tokoh Iwan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keluarga adalah ibu dan bapak beserta anak-anaknya[8]. Peranan keluarga secara umum menurut Wikipedia adalah ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.[9]

3.2.2        Aplikasi
Novel 9 Summers 10 Autumns terdiri dari 36 bab dan disertai beberapa pendapat para tokoh masyarakat mengenai buku ini. Pada bab pertama, dibuka dengan kejadian pencurian terhadap diri Iwan.

Aku tak bisa menahan badanku yang mulai bergetar. Kedua kakiku seakan kehilangan tulang penyangganya. Keringat dingin mulai membasahi T-shirt putihku. Pikiran pun terbang entah ke mana. Aku hanya teringat Ibu, Bapak, dan empat saudara perempuanku. Siang itu 4 Juli 2001, sekitar pukul dua. Mungkin semuanya akan berakhir, sebelum aku bisa membangun kepingan hidup di sini.

‘Give me your wallet! Now!

(Setyawan, 2011:1-2)

Cerita dimulai saat Iwan melihat seorang anak kecil dengan seragam merah putih saat terjadi pencurian terhadap dirinya. Penceritaan pertama mengenai bapak Iwan. Karakter Bapak diketahui dari deskripsi yang diberikan Iwan. Bapak memiliki karakter pendiam namun perhatian.

Karena aku sering batuk-batuk pada malam hari, Bapak membuatkan ranjang dari bambu.

(Setyawan, 2011:9)

….Aku bisa merasakan hati Bapak di atas ranjang itu, kehangatan hatinya tak pernah diucapkan lewat kata-kata atau pelukan.

(Setyawan, 2011:9)

Bapak, Abdul Hasim, adalah anak keenam dari sembilan bersaudara. Pernah bersekolah namun terpaksa berhenti akibat tidak ada biaya. Ia menghabiskan waktu mudanya dengan menjadi kenek angkot yang membuat Iwan ngeri membayangkan bagaimana jika kehidupannya kelak juga dihabiskan di atas angkot. Namun, dengan angkotlah, Bapak bisa membiayai kehidupan keluarga, untuk makan, sekolah, dan kebutuhan lainnya. Dengan angkotlah, Bapak bisa menyekolahkan Iwan sampai kuliah di ITB.



Cerita ini kerap kali menghantuiku, bagaimana kalau sejarah itu terulang, bagaimana kalau aku harus meluangkan masa mudaku di atas angkot. Mampukah diriku melalui jalanan yang ditempuh oleh Bapak? Sampai saat ini, cerita itu kerap menghantuiku.

(Setyawan, 2011:24)

 Setelah Bapak menjual mobil angkot untuk biaya kuliahku, beberapa sahabat SMA mengantar kepergianku ke Bogor pada hari Jumat pagi itu, di terminal bus Lorena Malang.

(Setyawan, 2011:96)

Dukungan dari Ibu begitu besar dampaknya bagi Iwan, dan terlihat dari cara Iwan menggambarkan Ibunya, bahwa ia sangat menyayangi sang ibu. Ibu juga sering memberi nasihat yang menginspirasi Iwan untuk terus berjuang dan belajar.

Ibu selalu bangun membuatkan kopi panas untukku. Semuanya pun nyaman kembali. Tak ada obat batuk, hanya kopi panas, hanya kehangatan dari Ibu.

(Setyawan, 2011: 9)

Ibuku, hatinya putih, ia adalah puisi hidupku. Begitu indah. Ia adalah setiap tetesan air mataku.

(Setyawan, 2011:35)

Kedekatanku dengan Ibu, kehangatan saudara-saudaraku, mengikat diriku di rumah ini. Aku bahkan tak bisa ditinggalkan Ibu selama duduk di bangku TK. Harus ditemani Ibu tiap hari selama dua tahun.

(Setyawan, 2011: 63)

Ibuku, dengan sabar, dengan segala kemampuannya berusaha menyediakannya untukku. Dialah yang tahu barang apa yang bisa digadaikan untuk membeli buku-buku pelajaranku. Dialah yang tahu ke mana harus mencari utang untuk memberikan yang terbaik.

(Setyawan, 2011:70)

Aku pernah bilang kepada Ibu, jika aku gagal di sini, aku akan menabung dan mengembalikan semua uang biaya kuliah. ‘Coba dulu, belajar yang rajin, jangan takut’—sebuah nasihat sederhana dan bijaksana dari Ibu yang meyakinkan diriku bahwa menjalani proses adalah menjalankannya sekarang, saat ini, dengan kerja keras dan melepaskan ketakutan akan hasil yang didapat. Kegagalan ataupun keberhasilan sebuah proses adalah dimensi lain yang akan melahirkan pelajaran baru untuk proses selanjutnya. ‘Jangan takut, belajar yang rajin’ telah menyelamatkanku.

(Setyawan, 2011:103)

Sesulit apapun keadaan ekonomi keluarga mereka, Ibu tidak ingin anak-anaknya bekerja mencari uang seperti dirinya. Ibu hanya ingin anak-anaknya sekolah tinggi-tinggi dan mendapat pekerjaan yang layak nantinya. Ibu selalu berusaha untuk berhemat, agar bisa membiayai kebutuhan anak-anaknya.

Dialah yang membangun ide untuk menabung, mengingatkan kami kalau perlu ke dokter, kalau mobil bisa rusak sewaktu-waktu, kalau rumah bisa bocor, kalau kami butuh makanan bergizi. Ibulah yang mengatur berapa liter nasi yang harus ditanak tanpa tersisa keesokan harinya, kapan kami harus makan daging, ayam, atau tempe. Ibu yang tahu barang apa yang harus digadaikan untuk membeli sepatu baru untuk anaknya dan mengatur pembayaran uang sekolah kami. Ibulah yang membelah satu telur dadar untuk dua atau tiga orang. Ibulah yang selalu menyembunyikan tempe goreng supaya tidak dihabiskan salah satu anaknya.

(Setyawan, 2011:33-34)

Pernah suatu hari, ketika aku membawa satu kerat Teh Botol kosong untuk diantar ke toko lain, Ibu melihatku, hatinya retak melihat pemandangan itu. Ia pun menyuruhku pulang.

(Setyawan, 2011:71)

Iwan tak berani bermimpi. Banyak yang menanyakan apa cita-citanya saat kecil. Namun ia bingung harus menjawab apa. Ia tahu persis kondisi keluarganya bagaimana dan ia tak berani bermimpi begitu tinggi.

Pernah, seorang tetanggaku bertanya apa cita-citaku, dan aku menjawab ingin jadi hansip. Tertawalah orang-orang di sekitarku. Aku piker hansip adalah militer juga. Aku tak ingin menjadi presiden saat itu karena semua anak kecil lainnya bercita-cita menjadi presiden, wakil presiden, atau menteri, hanya karena tidak ada inspirasi di sekitar mereka! Inspirasi di sekitarku begitu kecil tapi begitu dekat, seakan-akan aku akan terlahir menjadi mereka, menjadi sopir.

(Setyawan, 2011:63)

Namun, Iwan tersadar, sesulit apapun, jika kita mau berusaha, kita dapat mewujudkan impian kita. Seperti yang dilakukan Mbak Isa. Walaupun Mbak Isa terkena penyakit asma, ia tetap berjuang mendapat peringkat terbaik di sekolahnya, mencari nafkah untuk keluarganya, dan tidak menyerah walau tidak lolos SNMPTN.

Kakakku melanjutkan sekolah di SMPN 1 Batu dan terus mempertahankan ranking terbaiknya meskipun mulai menderita asma. Ia sering kali mengajakku untuk ikut belajar kelompok bersama dengan teman-temannya, sekalian mengasuhku.

(Setyawan, 2011:39)
 
Sayangnya, dengan segala usaha keras di tengah penyakit asma, Mbak Isa tidak lolos UMPTN. Kuliah di universitas swasta bukan pilihan saat itu. Ia harus menunggu setahun untuk mencoba kesempatan UMPTN lagi dan dalam tahun itu pula kakak keduaku akan lulus SMA. Karena orangtua kami tidak mungkin membiayai dua anak, kuliah, Mbak Isa pun memberikan hatinya, memberikan kesempatan kepada adiknya.

(Setyawan, 2011:39-40)

Ia memberikan les privat dari satu rumah ke rumah lain, dari siang sampai sekitar jam delapan malam. Dari sinilah ia membantu menyekolahkan adik-adiknya, membukakan jendela buat kami berempat. Dari sinilah ia membantu membangun ‘rumah’ kecil kami.

(Setyawan, 2011:40)

Pada usia 35 tahun, ia mencoba untuk ikut tes pegawai negeri. Iya, pada usia 35 tahun, di ambang batas usia untuk mencalonkan diri menjadi pegawai negeri. Ia berhasil menembus tes pegawai negeri di urutan nomor 5 dari ratusan peserta yang ikut saat itu.

 (Setyawan, 2011:41)

Mbak Inan, kakak kedua dari Iwan, juga telah menginspirasi Iwan dari kegigihan dan kerja keras Mbak Inan. Iwan belajar dari kakaknya untuk tidak menyusahkan keluarga, belajar mencari uang sendiri untuk keperluan pribadi agar tidak memberatkan Bapak dan Ibu. Mbak Inan sendiri mengurung keinginannya untuk mengambil Jurusan Kedokteran dan sebagai gantinya mengambil Jurusan Perikanan yang biayanya tidak terlalu mahal.

Mbak Inan adalah pekerja keras. Hatinya selalu terketuk untuk melakukan sesuatu ketika mendung bergantung di atap rumah kami, ketika mobil angkot rusak, ketika kami telat membayar uang sekolah, atau ketika harus membeli buku-buku baru. Sejak dia SD dia sudah bisa berdagang kue-kue kecil dan ketika memasuki SMP, sepulang sekolah, dia bekerja di salah satu kios tetangga kami di pasar sayur Batu.

(Setyawan, 2011:45)

Dia selalu berjuang dengan tangan kecilnya. Kegigihannya menjadi inspirasi kami.

(Setyawan, 2011:45)

Selama kuliah itu, aku menyaksikan betapa berat perjuangan orangtuaku untuk membayar uang kuliah, memberi uang transpor Batu-Malang, membeli buku-buku dan segala perlengkapan kuliah. Aku melihat kekuatan, ketegaran , keberanian dan keprihatinan yang dalam dari Mbak Inan.

(Setyawan, 2011:46)

Satu hal yang membuat Iwan bangga akan Mbak Inan adalah Mbak Inan yang memiliki sisa uang saku dari program pertukaran pelajaran ke Jepang yang diikutinya, malah membelanjakan uang sakunya itu untuk membeli keramik untuk mengganti lantai semen di ruang tamu rumah mereka.

Dengan sisa uang saku dari Jepang, Mbak Inan membeli keramik untuk mengganti lantai semen di ruang tamu rumah kami. Ia tidak membeli baju baru, mainan baru, atau buku cerita, tapi keramik untuk rumah kami.

(Setyawan, 2011:47)

Adik-adik Iwan, Rini dan Mira, juga memberikan inspirasi bagi Iwan, namun kesan yang diberikan penulis dalam buku ini kurang kuat, sehingga sulit untuk memberikan kutipan yang kuat akan hal tersebut.

…dengan ketekunannya, dengan kebesaran hatinya, melalui hari-hari bersama alat-alat dapur, buku-buku pasien, sapu, dan kain pel. Ia selalu bangun pagi, naik angkot oranye ke Desa Junggo tempat Mbak Mami berpraktik, menghabiskan siang disana dan kembali pada malam hari dengan angkot oranye. Ketekunannya, ketegarannya untuk mencari uang, melelehkan hati kami semua. Keringatnya menetes di atas atap rumah mungilku.
                       
(Setyawan, 2011:51)

Karena cinta dari keluargalah, Iwan terinspirasi dan tidak ingin menyerah begitu saja terhadap mimpinya yang, walaupun sederhana, ingin diwujudkannya. Dimulai sejak kecil, ia terpacu untuk berprestasi ketika melihat Mbak Isa dan Mbak Inan yang selalu mengikuti perlombaan hingga ke tingkat nasional.

Dan, ketika musim penerimaan rapor, kami terkejut, aku masuk ranking tiga besar. Aku bingung, aku begitu bangga. Aku semakin mencintai buku-buku pelajaranku.
Dengan kebanggaan ini, aku terpacu untuk terus belajar.

(Setyawan, 2011:64)

Memasuki SMP, aku merasa semakin dekat dengan ‘tantangan’ bahwa seorang laki-laki, apalagi anak laki-laki satu-satunya, harus bisa mandiri dan kelak bisa membantu nafkah keluarga.

(Setyawan, 2011:68)

Dengan segala ketekunan, aku lalui masa SMP dengan gemilang. Aku selalu berada di ranking teratas di sekolah. Prestasiku dan kakak-kakakku, menjadikan rumah mungil kami ‘terangkat’.

(Setyawan, 2011:72)

Iwan sadar, jika ia ingin mimpinya terwujud, ia harus mulai berusaha dari dirinya sendiri. Keterbatasan kemampuan ekonomi keluarganya adalah hal pertama yang harus ia atasi bersama kakak-kakaknya sebelum maju ke langkah berikutnya.

Aku begitu mengerti kemampuan orangtuaku dan aku tak bisa menunggu keajaiban untuk mengubah ini. Aku harus bekerja, sekarang. Dengan reputasiku sebagai siswa berprestasi, aku menerima tawaran untuk memberikan les privat, seperti yang dilakukan kakakku.

(Setyawan, 2011:84)

Iwan pun berkeinginan untuk melanjutkan kuliah. Dengan dukungan keluarga dan teman-teman, Iwan berhasil lolos PMDK IPB dengan Jurusan Statistika, jurusan yang pada saat itu sulit dimasuki. Namun, sekali lagi masalah yang sama menerpa keluarga Iwan, biaya kuliah. Bapak pun menjual angkotnya dan Mbak Inan akan membantu dengan segala cara.

Pada waktu yang sama kami semua prihatin dan khawatir tentang biaya hidup dan biaya kuliahku di Bogor. Kakakku Isa akan berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku di sana, sementara orangtuaku akan mengusahakan uang kuliah dan buku-buku, entah dengan cara apa.

(Setyawan, 2011:86)

Meskipun rindu mendera Iwan saat kuliah di Bogor, jauh dari rumah di Batu dan keinginan untuk pulang terus ada. Ibu selalu mengingatkan Iwan agar tidak menyerah. Iwan juga menyadari, bahwa perjuangan Bapak Ibu untuk menyekolahkannya hingga ke IPB tidaklah mudah.

Aku pernah bilang kepada Ibu, jika aku gagal di sini, aku akan menabung dan mengembalikan semua uang biaya kuliah. ‘Coba dulu, belajar yang rajin, jangan takut’

(Setyawan, 2011:103)

Perjuangan Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku adalah kerja raksasa menembus gelombang besar. Aku tak boleh gagal. Aku tak boleh pulang kembali ke rumah kecilku sebelum membawa lukisan indah ke dalamnya.

(Setyawan, 2011:99-100)

Akhirnya setelah tahun pertama di IPB dilalui, Iwan berhasil meraih nilai yang cukup bagus dan kembali ke rumah, disambut hangat oleh keluarganya.

Dengan kerja keras, di tengah-tengah kerinduan yang luar biasa akan rumah kecilku, aku berhasil menyelesaikan TPB dengan IP yang memuaskan. 3,3!

(Setyawan, 2011:104)

Orang-orang memelukku, menciumku lewat tatapan matanya. Ibu memasak daging empal favoritku. Aku kembali ‘terlindungi’.

(Setyawan, 2011:104)

Memasuki tahun kedua di IPB, keadaan semakin sulit. Bapak pun bekerja lebih malam sebagai sopir angkot,  Mbak Isa menambah jumlah murid les privatnya, bahkan Ibu juga bekerja kecil-kecilan. Tapi semua belum cukup. Bapak terpaksa meminjam uang kepada Lek Tukeri untuk membayar biaya kuliah Iwan. Suatu hari, Iwan mengungkapkan kekecewaannya.


“Buk, aku kesel, mlarat terus”—Ibu, aku capek, miskin terus.

(Setyawan, 2011:115)

Iwan pun pergi ke rumah Lek Tukeri di Pulomas, Jakarta untuk meminjam uang. Setiap 6 bulan sekali atau setahun sekali, Lek Tukeri meminjamkan 3 juta kepadanya untuk biaya kuliah dan kosnya. Setiap kali melewati Jalan Sudirman dan para pekerja profesional di sana, membuat Iwan bermimpi untuk dapat bekerja di salah satu gedung perkantoran yang megah di sana.

Aku pun memberanikan diri bermimpi. Aku ingin menjadi bagian dari gambar itu, aku ingin menjadi salah satu profesional muda, di Jalan Sudirman, Jakarta.

(Setyawan, 2011:134)

Tibalah upacara wisuda bagi Iwan. Iwan sendiri tak menyangka bahwa ia termasuk salah satu wisudawan terbaik, dengan IPK 3,52. Seluruh keluarganya terkejut dan senang. Iwan pun bangga akan prestasinya. Inilah salah satu ‘lukisan’ yang dapat diberikannya kepada keluarganya.

Ibu, Bapak, Mbak Isa, Mbak Inan, Rini, dan Denok, terima kasih untuk cinta yang mengalir bagai gelombang-gelombang tanpa henti.

(Setyawan, 2011:149)

Segera, setelah tamat, keinginan Iwan pun terwujud, bekerja di salah satu gedung perkantoran di Jalan Sudirman, Jakarta. Ia diterima di Nielsen Jakarta sebagai data processing executive.

Pada suatu pagi, aku mendapatkan pesan dari bapak kos, ada telepon dari Nielsen Jakarta untuk wawancara kerja. Berita yang sangat menggembirakan meskipun hanya panggilan wawancara. Aku berdoa. Aku menyuruh saudara-saudaraku berdoa. Semuanya, termasuk sahabatku, Daus.

(Setyawan, 2011:152)

Kisah cinta Iwan sendiri tidak berakhir dengan baik. Pertama dengan Audrey, seorang Amerika, berpisah karena perbedaan agama, dan dengan Kalista, orang Indonesia, yang tidak jelas status hubungannya.

“I know it’s not a problem for both of us to have different religion,’ katanya di sepanjang perjalanan pulang dari kelas yoga. Ada kegelisahan yang dalam di wajahnya. “My parents has been asking me,” lanjutnya.
“I can totally understand them,” kataku singkat, tak mampu melanjutkan perbincangan.

(Setyawan, 2011:82)

Tak ada I love you. Tak ada good bye. Hanya ada I will miss you. Kalista pulang ke Jakarta.

(Setyawan, 2011:162)

But long distance relationship is never easy. Love is never easy, here in New York City.

(Setyawan, 2011:163)

Kegembiraan pertama bagi Iwan adalah menerima gaji pertamanya dan mentransferkan sebagian gajinya ke Batu untuk ibunya. Itu adalah salah satu momen yang membahagiakannya, ketika akhirnya ia bisa mentransfer gajinya yang tak banyak untuk Ibunya.

Malam itu, setelah mendapat gaji pertama, aku langsung menelepon Ibu, “Ibu, wis tak transfer yo, gak akeh sik. Ibu, sudah aku transfer, tapi nggak banyak.”

(Setyawan, 2011:171)

Dengan kerja keras dan keinginan Iwan untuk tidak menjadi pegawai biasa di kantornya, ia bekerja hingga lembur, menyelesaikan proyek-proyek yang diberikan kantor sebelum waktunya, ia memperoleh penghargaan dari kantornya yang sangat jarang diterima oleh seseorang dari Indonesia. Ia juga ingin melakukan perubahan sehingga ia berhenti dari kantor Nielsen dan pindah ke Danareksa. Namun, ia dipanggil oleh Nielsen New York untuk bekerja di sana setahun setelah ia pindah ke Danareksa. Iwan bingung, apakah ia harus lanjut di Danareksa, atau mengambil kesempatan pindah ke New York. Namun, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia ingin pindah ke New York yang dipenuhi hobinya, puisi dan opera. Dengan nasihat Ibu, ia yakin keputusannya tepat.

“Buk, percaya nggak? Aku ditawari kerja di Amerika, di New York!”
Ibu sempat terdiam beberapa saat. “Kamu sudah yakin? Kan baru beberapa bulan saja di Danareksa.”

(Setyawan, 2011:190)

Dengan nasihatnya yang sederhana, Ibu tidak menanyakan berapa besar gaji, atau kapan aku pindah ke New York. “Kamu pikir dulu, kamu kan yang tahu apa yang terbaik untuk hidup kami. Ibu hanya berdoa untuk yang terbaik.”

(Setyawan, 2011:190)

Opera! Itulah yang pertama kali aku pikirkan ketika menginjakkan kaki ke New York! Panggung besar, suara besar. Bahkan, jika aku hanya diberi waktu sehari saja di New York, cukuplah bagiku untuk meluangkan dua-tiga jam melihat opera dan pulang.

(Setyawan, 2011:187)

Kegelisahan Iwan terhadap dirinya sendiri, ketidakpercayaan akan apa yang sudah ia raih digambarkan si penulis lewat curahan hati Iwan.

Tak mudah bagi anak seorang sopir angkot untuk masuk ke dalam kelas sosial yang lebih tinggi, jauh lebih tinggi.

(Setyawan, 2011:106)

Do I deserve this? Uang sebanyak ini akan menjadi sangat berharga di Batu. Gosh.

“I think you deserve this vacation,” celetuknya seakan membaca pikiranku.

(Setyawan, 2011:144)

Setelah 9 tahun bekerja di New York, Iwan merasa tak betah. Ia ingin berhenti, namun atasannya mengatakan bahwa ia hanya mengalami tekanan dalam pekerjaan dan home sick. Namun, Iwan yakin, bahwa keputusannya untuk mundur dari pekerjaannya dan kembali ke tanah air adalah benar.

New York City, Januari 2009. Dengan pertimbangan yang berat, dengan kerinduan akan rumah kecilku yang selalu muntah dalam setiap langkah melalui jalanan di New York, dengan keberanian yang luar biasa, aku memutuskan untuk berhenti dari Nielsen.


“I think this is an emotional decision. Please think about it for a week or two,” kata VP[10] Nielsen Consumer Research NY saat itu. “Why don’t you take a break for a couple weeks go home and spend time with loved ones?”

(Setyawan, 2011:195)

Dua bulan setelah aku mengirimkan farewell e-mail, aku meninggalkan New York.

(Setyawan, 2011:208)

Kisah Iwan pun ditutup pada bab 36, kenangan Iwan saat kecil dimana Bapak yang sudah capek dan emosi memarahi Ibu. Dalam hati, Iwan berjanji untuk membahagiakan Ibu, menghapus air mata Ibu.

Melihat airmata Ibu jatuh saat itu, I told myself, I will not let this happen again. I want to make her a happy mother, a very happy mother. I want to do something for my family. I love them so much.

(Melihat airmata Ibu jatuh saat itu, aku mengatakan pada diriku sendiri, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi kembali. Aku akan menjadikannya seorang ibu yang bahagia, yang paling bahagia. Aku akan melakukan sesuatu untuk keluargaku. Aku mencintai mereka.)

(Setyawan, 2011:210)

Terdapat pesan dari penulis di dalam pembatas buku ini.

 “Impian harus menyala dengan apapun yang kita miliki. Meskipun yang kita miliki tidak sempurna. Meskipun itu retak-retak.”[11]

(Setiawan, 2011)

3.2.3        Simpulan
Iwan Setyawan menggunakan tokoh anak kecil sebagai lawan bicaranya untuk membentuk dialog di dalam novel ini sehingga ia dapat bercerita mengenai masa lalu tanpa khawatir akan adanya kejanggalan. Tokoh anak kecil yang misterius ini sebenarnya gambaran tokoh Iwan di masa kecilnya dengan mengenakan seragam SD.
Berbekal ingatan masa lalu, Iwan bercerita di dalam buku ini mengenai perjuangan seorang anak dari keluarga kurang mampu yang berusaha keras untuk mencapai cita-citanya yang sederhana, yaitu memiliki sebuah kamar untuk dirinya sendiri. Ia terus berdoa dan didukung oleh keluarganya, berani melangkah keluar dari ‘zona nyaman’, melihat dunia dan berani bermimpi mengenai hal yang lebih besar dari sekedar memiliki sebuah kamar.
Mimpi itu tidak hanya muncul dalam tidur, tetapi dapat menjadi nyata jika kita terus berusaha, tabah, rajin berdoa, dan juga dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Banyak belajar dan tidak tertutup juga salah satu kunci dari kesuksesan Iwan dalam menjalani hidup yang penuh tantangan.
                                   
IV.            Penutup
4.1               Kelebihan
Pertama kali yang menjadi kelebihan dari novel ini adalah cover dan sinopsis bagian belakang buku ini. Penampilan cover yang sederhana dan sub judul “Kisah anak sopir angkot dari Kota Batu yang menjadi direktur di New York City” membuat orang penasaran ingin membacanya.
Di bagian dalam novel, saya terkesan dengan kemampuan mengolah percakapan yang dilakukan si penulis, Iwan Setyawan. Iwan begitu cerdik karena membuat tokoh khayalan, yaitu anak kecil berseragam merah putih sebagai lawan bicaranya untuk membuat dialog agar cerita tidak terasa monoton dan bisa langsung tersambung ke bagian masa lalu yang ingin ia ceritakan.
Pilihan kata yang apik juga membuat saya terbuai dengan novel ini sehingga saya ingin mengetahui ada apa di cerita selanjutnya. Penyisipan quote-quote dari buku favorit si penulis sendiri juga menarik. Banyak quote-quote bagus yang menginspirasi saya. Isi novel ini juga menginspirasi saya untuk mempunyai sebuah cita-cita walaupun kecil, yaitu memiliki sebuah kamar untuk diri sendiri.
Di dalam novel ini juga terdapat banyak pesan tersirat bahwa keluargalah yang akan selalu mendukung apapun keputusan kita dalam keadaan sesulit apapun. Bahwa bersama keluarga, kita bisa mengarungi samudera seluas apapun, seperti yang dilakukan Iwan yang ditawari bekerja di luar negeri dan karena dukungan dari keluarganya, ia berani menerima tantangan itu dan menjadi sukses karenanya.

4.2       Kekurangan
Penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris yang tidak disisipi terjemahan Bahasa Indonesianya membuat pembaca yang kurang mengerti bahasa Inggris menjadi bingung. Alur yang digunakan, yaitu alur maju mundur yang diaplikasikan di setiap bab membuat pembaca menjadi cepat bosan.
Sepertinya, pada buku ini, penulis menceritakan tentang kisah hidupnya dari kecil yang hidup miskin hingga menjadi seorang dewasa yang sukses yang terasa hambar dan mirip dengan kisah-kisah pada novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Perlunya penyisipan hal-hal dramatis untuk membuat pembaca “berselera”, tetapi hanya disuguhkan pada bagian bab pertama saja, sisanya monoton dengan alur maju mundur untuk membuat pembaca tidak merasa bosan.
Mudah ditebak mau dibawa kemana ceritanya. Dari awal bercerita tentang dirinya, Bapak, Ibu, saudari-saudarinya, dan tentunya ini seperti biografi singkat Iwan Setyawan dalam bentuk fiksi. Serta, kita dibuat berekspektasi bahwa buku ini dapat memompa semangat seorang anak dari keluarga kurang mampu untuk mengejar cita-citanya, namun, justru buku ini hanya menceritakan pengalaman hidup Iwan, si penulis, dari kecil hingga ia mendapatkan posisi sebagai Direktur Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York.



REFERENSI
Setyawan, Iwan. 2011. 9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke The Big Apple. Jakarta: Gramedia.
http://kamusbahasaindonesia.org/ diakses tanggal 1 November 2011, pukul 17.00 WIB
http://kamusbahasaindonesia.org/gigih#ixzz1fIEk7vl0 diakses pada tanggal 1 Desember 2011 pukul 21.27 WIB
http://en.wikipedia.org/wiki/SoHo diakses pada tanggal 2 Desember 2011 pukul 12.45 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Times_Square diakses pada tanggal 2 Desember 2011 pukul 13.02 WIB
http://www.goodreads.com/topic/show/470769-anggota-baru-buku-baru-9-summers-and-10-autumns diakses pada tanggal 2 Desember 2011 pukul 12.45 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta diakses pada tanggal 1 November 2011, pukul 16.43 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta#Terminologi diakses pada tanggal 2 Desember 2011, pukul 19.52 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta#Etimologi diakses pada tanggal 2 Desember 2011, pukul 19.57 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta#Jenis-jenis_cinta diakses pada tanggal 2 Desember 2011, pukul 20.00 WIB
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php diakses pada tanggal 2 Desember 2011, pukul 20.42 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga#Peranan_keluarga diakses pada tanggal 2 Desember 2011, pukul 20.26 WIB


[1] Nama persimpangan jalan utama di Manhattan, New York City. Persimpangan ini ramai akan lampu neon dan papan iklan, pusat bisnis, dagang, seni, dan juga terdapat kantor harian New York Times di tengahnya., bernama One Times Square.
[2] Mengacu pada South of Houston street di Lower Manhattan, New York City. Daerah yang terkenal akan seni dan bangunan arsitektur “besi tuang”, juga banyak butik ternama dan toko-toko berantai internasional.
[3] http://www.goodreads.com/topic/show/470769-anggota-baru-buku-baru-9-summers-and-10-autumns part 1 message 35 dan message 36 dari Iwan Setyawan, diakses pada tanggal 2 Desember 2011 pukul 12.45 WIB
[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta diakses pada tanggal 1 November 2011, pukul 16.43 WIB
[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta#Terminologi diakses pada tanggal 2 Desember 2011, pukul 19.52 WIB
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta#Etimologi diakses pada tanggal 2 Desember 2011, pukul 19.57 WIB
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta#Jenis-jenis_cinta diakses pada tanggal 2 Desember 2011, pukul 20.00 WIB
[8] http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php diakses pada tanggal 2 Desember 2011, pukul 20.42 WIB
[9] http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga#Peranan_keluarga diakses pada tanggal 2 Desember 2011, pukul 20.26 WIB
[10] VP=Vice President, wakil direktur.
[11] Terdapat pada pembatas buku 9 Summers 10 Autumns.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Gunakan email masing-masing. Harap ditulis nama, kelas, dan nomor absen.