Rabu, 21 Januari 2015

FILSAFAT BAHASA: FILSAFAT ANALITIK, FILSAFAT BAHASA BIASA, DAN HERMENEUTIKA




I.                   FILSAFAT ANALITIKA BAHASA
1.1  Pendahuluan
Perhatian filsafat terhadap bahasa memang telah berlangsung lama, sejak pra-Socrates, ketika Herakleitos membahas hakikat segala sesuatu, termasuk alam semesta. Aristoteles menyebutnya para fisiologis kuno (hoi arkhaioi physiologoi). Perhatian Herakleitos terpusat pada dunia fenomenal, tidak setuju bahwa di atas dunia fenomenal ini terdapat `dunia menjadi` namun ada dunia yang lebih tinggi, dunia idea dunia kekal yang berisi `ada` yang murni. Ia tak puas hanya dengan fakta perubahan saja hingga mencari prinsip perubahan yang menurutnya tak bisa dietmukan dalam dunia material melainkan dunia manusiawi yang menempatkan kemampuan bicara menjadi tempat sentrtal. Menurut Herakleitos bahwa `kata` (logos) bukan semata gejala antropologi, namun kebenaran universal, `dengarlah pada sang kata dan akuilah semua benda itu satu`. Pemikiran Yunani merupakan awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa yang meletakkan bahasa sebagai objek kajian filsafat (Cassier dikutip Kaelan, 2009: 67).
Bahasa menjadi pusat perhatian filsafat sejak zaman Sokrates tatkala retorika menjadi medium utama dalam dialog filosofis yang menggunakan analisis bahasa dan metode yang dikembangkan dikenal dengan `dialektis kritis`. Objektivitas kebenaran filosofis perlu diungkapkan melalui analisis bahasa secara dialektis dengan didasarkan  pada logika. Hal ini dikembangkan juga oleh Plato maupun  Aristoteles sehingga hakikat bahasa menjadi pokok perhatian. Thomjas Aquinas mengangkat teologi ke tingkat filosofis hingga mampu menjembatani antara realitas Tuhan dengan makhluk yang bersifat terbatas.
Eksistensi bahasa semakin kokoh ketika filsafat abad modern memberikan dasar-dasar timbulnya analitika bahasa. Peranan  rasio, indera, dan intuisi manusia sangat menentukan dalam pengenalan pengetahuan. Aliran rasionalisme yang menekankan otoritas akal, aliran empirisme yang nmenekankan peranan pengalaman indera, serta aliran imaterialisme dan kritisisme Imanuel Kant sangat berperanan terhadap tumbuhnya filsafat analitika bahasa, teruatama dalam pengungkapan realitas apa pun melalui bahasa.
Filsafat bahasa sulit ditentukan batasan pengertiannya, terutama filsafat analitika bahasa sebab dasar filofisnya rumit, padat, dan sangat beragam. Filsafat analitik timbul sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pemikirasn filsafat modern kala itu. Tatkala para penganut filsafat modern bertikai tentang hakikat kebenaran, kalangan filosof analitika bahasa sadar bahwa sebenarnya problema filsafat dapat dipecahkan, dijelaskan, dan diuraikan dengan menggunakan analisis ungkapan filsafat atau analisis bahasa. Para filosof analitika melihat banyak ungkapan filsafat kaum idealisme, rasionalisme, maupun  intuisionisme tak bermakna, bahkan dengan tegas kaum positivisme logis ingin menghilanghkan metafisika.
Istilah analtika bahasa dikenal dan populer pada abad XX. Pengertian filsafat analitika adalah pemecahan dan penjelajahan problem serta konsep filsafat melalui analisis bahasa, maka sebenarnya atas dasar isi dan materi filsafat analitika bahasa telah berkembang sejak zaman Yunani. Pada abad XX banyak aliran muncul di Inggris dan Jerman yang mempengaruhi timbulnya aliran positivisme logis, termasuk Lingkungan Wina. Lantas banyak filosof kontemporer yang menggunakan analisis bahasa melalui gejala-gejala untuk sampai pada kebenaran yang hakiki, antara lain Edmund Husserl bersama fenomenologinya, Gadamer dan Dilthey dengan Mazhab Frangfurt-nya. Aliran modernisme oleh mereka dianggap tidak mampu mengungkapkan hakikat kemanusiaan dan hanya mampu diungkapkan melaui simbol-simbol, sebagaimana diungkapkan Derrida, Michel Fouchauuklt, Lyotard, dan tokoh Postmodernisme lain.

1.2  Filsafat  sebagai Analisis Bahasa

Bahasa merupakan alat utama bagi filosof serta sebagai media untuk analisis dan refleksi. Atas kesensitifan terhadap kekaburan dan kelemahan bahasa, parta filosof menaruh perhatian untuk menyempurnakannya. Aliran analitika bahasa memandang bahwa problema filosofis akan terjelaskan manakala menmggunakan analisis terminologi gramatika. Tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep sebagai permulaan usaha pokok filsafat untuk mendapatkan kebenaran hakiki sesuatu, termasuk manusia.
Dewasa ini kegiatan itu dianggap tidak mencukupi karena tidak didukung oleh pengamatan dan pembuktian yang memadai untuk mendapatkan kesimpulan yang adekuat. Maka diperlukanlah argumentasi yang didukung analisis bahasa yang memenuhi syarat logis. Dalam hal ini terdapat tiga cara: masalah sebab-akibat, kebenaran, pengetahuan atau  kewajiban moral, misalnya tentang hakikat pengetahuan: 1) menyelidiki pengetahuan; 2) menganalisis konsep; dan 3) membuat eksplisit kebenaran pengetahuan.
Kemungkinan alternatif ketiga banyak dilakukan oleh filsafat, bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep melalui bahasa (Poerwowidagdo dikutip Kaelan, 2009: 71). Analisis konsep tentu berhubungan dengan makna dalam suatu bahasa.
Konsep-konsep  filsafat sering diartikan  secara verbal, maka dibutuhkan bahasa yang memiliki peran netral. Bahasa merupakan laboratoium filsafat guna menguji dan menjelaskan konsep dan problema filosofis, bahkan menentukan pemikirannya (Alston, 1964: 5 dikutip Kaelan, 2009: 71). Bahasa mengungkapkan secara verbal pandangan dan pemikiran filosofis. Hal ini sering berhadapan dengan keterbatasan bahasa sehari-hari yang kadang tak mampu mengunkapkan konsep filosofis.
Ada dua kelomopok berbeda menanggapi hal tersebut: 1) bahasa biasa (ordinary language) telah cukup mewadahi konsep filsafat. Kelemahan dan kekurangan bahasa diatasi dengan memberikan pengertian yang khusus atau penjelasan terhadap penyimpangan. Namun, menurut penganut Wittgenstein II, masalah justru bermula dari penyimpangan filosof itu sendiri yang menimbulkan kekacauan dan tanpa penjelasan agar dimengerti (Poerwowidagdo dikutip Kaelan, 2009: 71). Maka tugas filosof adalah penyembuhan terapi dalam  kelemahan penggunaan bahasa.filsafat; 2) bahasa sehari-hari tidak cukup untuk mengungkapkan masalah dan konsep-konsep filsafat. Masalah filsafati timbul sebab bahasa keseharian tidak cukup mewadahi konsep dan masalah filsafat, apalagi untuk tujuan analisis karena kelemahannya. Diperlukan pembaruan bahasa menjadi bahasa yang sarat dengan logika sehingga ungkapam bahasa dalam filsafat dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tokoh kelompok ini adalah Leibniz, Ryle, Rudolf Carnap, Bertrand Russell. Menurut mereka tugas fuilsafat adalah membangun dan mengembangkan bahasa yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam bahasa sehari-hari.

1.3  Aliran Filsafat dalam Analitika Bahasa

Analitika bahasa adalah metode khas dalam filsafat untuk menjelaskan, menguraikan, dan menguji kebenaran ungkapan-ungkapan filosofis. Perkembangan filsafat analitika bahasa  tak terpisahkan dengan aliran-aliran yang ada sebelumnya seperti aliran rasionalisme, idealisme, empirisme, imaterialisme, dan positivisme.
Perkembangan filsafat anakitika bahasa meliputi tiga aliran pokok, yaitu: 1) atomisme logis (logical atomisme), 2) positivisme logis (logical positivisme),  sama dengan empirisme logis (logical empirism); dan 3) filsafat bahasa biasa (ordinary language philosophy).
Atomisme logis muncul sebagai reaksi ketidakpuasan atas aliran idealisme di Inggris, dipengaruhi aliran rasionalisme dan empirisme. Pengaruh atomisme logis diteruskan paham positivisme logis yang dikembangkan oleh para ilmuwan fisika, kimia, dan ilmu alam lain, berpusat di Wina. Mazhab positivisme besar pengaruhnya terhadap perkembangan  dunia pengetahuan modern.
Aliran filsafat bahasa biasa muncul setelah Perang Dunia II, berpengaruh di Inggris, Jerman, dan Amerika. Pengaruh tidak secara langsung, namun secara ontologis memiliki kesamaan.

1.4  Atomisme Logis

Awal abad XX di Inggris muncul pemikiran filsafat baru yang dianggap perubahan radikal atau “revolusi”, terutama dalam gaya, arah, dan corak pemikirannya. G.E. Moore (1873-1958) merupakan perintisnya, dengan tokoh utama Bertrand Russell (1872-1970), dan Ludwig Wittgenstein (1889-1951). Nama aliran atomisme logis dikemukakan oleh Bertrand Russell lewat konsep `atomisme logis`, dimuat dalam Contemporary British Philosophy, terbit tahun 1924. Intinya Russell dalam Ayer, 1958: 31 dikutip Kaelan (2009: 75) mengatakan bahwa logika adalah fundamental bagi filsafat, dan bahwa mazhab-mazhab seharusnya diwarnai oleh logikanya daripada oleh metafisika. Logikanya menekankan atomis dan menyebutnya atomius logis daripada realisme.
Bertrand Russell awalnya penganut empirisme, mengikuti jejak John Locke dan David Hume. Konsepsi atomisme logis diilhami pemikiran Hume tentang susunan ide-ide yang sederhana. Tradisi idealisme juga memberikan garis dan warna pemikirannya. Pengaruh idealisme berasal dari F.H. Bradley, dan pemikiran analitis Moore. Bradley memengaruhi formulasi logika proposisi, sedangkan Moore memberikan tekanan ciri analistisnya.

1.5  Pengaruh Idealisme F.H. Breadley

Ludwig Wittgenstein dalam buku Tractacus Logico Philosophicus sebenarnya telah mengembangkan atomisme sebagaimana dikemukakan Russell. Di sisi lain pengaruh idealisme F.H. Bradley menekankan formulasi logika proposisinya, sedangkan Moore menekaknkan ciri analistisnya. Awal abad XX di Inggris subur aliran idealisme sebagai reaksi atas materialisme dan positivisme, ditokohi oleh Edward Caird, Bernard Bosanquet, dan F.H. Bradley.
Menurut idealisme bahwa realitas terdiri atas ide, pikiran, akal, jiwa, bukannya benda-benda material dan kekuatan. Jiwa dan materi adalah produk samping. Dunia memiliki arti yang berlainan dari apa yang nampak pada permukaan. Dunia dipahami dan ditafsirkan oleh penyelidikan tentang hukum-hukum berpikir dan kesadaran, tidak oleh metode yang objektif berdasarkan pengamatan empiris.
Metode pengenalan empiris itu hanya bersifat psikologis, sedangkan mereka  bekerja dengan ide-ide, dan sama sekali tidak dengan putusan atau keterangan. Ide adalah isi dan pikiran. Empirsme kurang memperhatikan putusan atau proposisi, sebagaimana perbedaan Imanuel Kant dan David Hume. Pemikiran Bradley mempengaruhi formulasi logika atomisme logis Bertrand Russell. Dengan demikian atomisme Russell merupakan empirisme yang didasarkan atas putusan-putusan atau proposisi dan bukan didasarkan atas ide-ide sehingga memanfaatkan idealisme Bradley. (Poerwowidagdo dikutip Kaelan, 2009: 778).

1.6  George Edwar Moore

Moore berdiri di pinggir gerakan atomisme logis (Poerwowidagdo dikutip Kaelan, 2009: 78). Moore merupakan tokoh filsafat analitik yang berpendapat bahwa tugas filsafat adalah memberikan analisis yang tepat tentang apa yang dimaksud dengan konsep dan proposisi dalam filsafat.
Moore tidak menolak etika normatif dan menekankan konsep dan argumentasi yang dipakai. Jadi, lebih menekankan pada “metaetika”. Pembahasannya terkenal dalam arti kritik dan uraian tentang kekeliruan naturalistik. Moore tidak menolak metafisika, namun tidak mempraktikkannya. Moore justru membangun sikap skeptis dan kritis terhadap metafisika. Dalam setiap analisisnya Moore tidak mengakhiri dengan justifikasi benar atau salah, melainkan bermakna atau tidak. Atas hal keteguhan dan sikapnya itu Moore dikenal dengan istiklah `filsafat analitik bahasa`. Analisis adalah semacam definisi-semacam persamaan dengan ungkapan yang membingungkan, pangkal uraian di sebelah kiri dan uraian baru di sebelah kanan yang sering disebut analisis penguraian (Poerwowidagdo dikutip Kaelan, 2009: 80).
                       
1.7  Filsafat Atomisme Logis Bertrand Russel

Kelebihan pemikiran atomisme logis Bertrand Russell adalah mampu menyintesiskan berbagai macam filsuf sebelumnya maupun sezamannya. Bertrand Russdell menekankan konsep atomisme tidak didasarkan pada metafisika melainkan lebih pada logikanya sebab logika merupakan hal paling dasariah dalam filsafat. Russell membangun bahasa yang mampu mengungkapkan  realitas berdasarkan formulasi logika.
Menurut Russell tugas fiklsafat adalah analsisis logis dan disertai dengan sintesis logis, mengandung pengertian bahwa untuk mendapatkan kebenaran diajukan dengan mengajukan alasan-alasan yang bersifat apriori yang tepat bagi suatu pernyataan. Sistesis logis dilakukan dengan menentukan makna atas pernyataan atas dasar empiris. Dengan pola ini Russell berhasil memecahkan problema filsafat melalui analisis bahasa.
Metode analsis bahasa dalam pemecahan masalah filsafat yang mendasarkan pada analisis apriori dan sintesis aposteriori merupakan  alur pikir kritisisme Immannuel Kant. Atomisme logis didasarkan juga alasan bahwa atom-atom yang ingin dicapai Russell bukan merupakan atom fisik, melainkan atom logis.

1.7.1  Formulasi Logika Bahasa
Konsekuensi dirumuskannya ungkapan bahasa yang memiliki formulasi logis adalah adanya formulasi logis dalam ungkapan-ungkapan bahasa. Struktur gramatikal belum tentu menentukan struktur logis dari ungkapan bahasa. Ada kalimat yang berstruktur sama namun memilkiki alternatif makna yang berbeda. Russell mengembangkan formulasi logisnya dalam analsisis melalui ungkapan bahasa dan berupaya mengatasi kesulitan dalam wacana filsafat.

1.7.2  Prinsip Kesesuaian (Isomorfi)
Russell menegaskan  bahwa terdapat kesesuaian bentuk atau struktur antara bahasa dengan dunia, terdapat `isomorfi` antara bahasa dengan dunia. Dunia merupakan suatu keseluruhan fakta, yang terungkap melalui bahasa sehingga  terdapat kesesuaian antara struktur logis bahasa dengan struktur logis dunia. (Heraty, 1984: 79, 85, dikutip Kelan, 2009: 87). Ia bertolak dari pernyataan dasar, ialah pernyataan empirik yang langsung menyebutkan suatu konfrontasi dengan realitas yang meliputi dua macam: particularia dan universalia. Particularia merupakan hasil persepsi konkret individual, sedangkan universalia menunjukkan suatu sifat atau hubungan.

1.7.3  Struktur Proposisi
Dunia merupakan keseluruhan fakta yang memiliki struktur logis. Hakikat fakta terungkap melalui proposisi, dan fakta tidak dapat terungkap benar atau salah. Kualifikasi proposisilah yang menentukan kualifikasi benar atau salahnya. Prinsip verifikasi merupakan simbol, bukan merupakan bagian dunia.
Proposisi mermiliki struktur yang terdiri atas kata-kata yang menunjukkan data inderawi dan universal melalui ciri-ciri dan relasi. Tiap-tiap proposisi atomis memiliki arti atau makna sendiri yang terpisah satu dengan lainnya. Proposisi majemuk merupakan rangkaian proposisi atomis dengan kata penghubung seperti dan, atau, atau yang lain. Contoh: ”Socrates adalah seorang warga Athena yang bijaksana” ini merupakan suatu proposisi majemuk yang terdiri atas dua proposisi yang menggambarkan dua fakta atomis: 1) Sokrates adalah warga Atghena, dan 2) Socrates adalah seorang yang bijaksana.

1.8  Filsafat Atomisme Logis Ludwig Wittgenstein
Karya besar Wittgenstein yang merupakan ulasan filososfis yang ketat tentang filsafat atomisme logis berjudul Tractacus Logico Philosophicus. Isinya memperkuat visi dasar atomisme logis, berupa uraian singkat yang merupakan proposisi yang secara sistematis diberi nomor, sangat padat, yang kadang membuat tidak jelas.
Menurut Wettgenstein cara atau sistem pemberiasn nomor itu sedemikkian rupa sehingga proposis-proposisi yang penting diberi nomor bulat. Terdapat tujuh angka desimal yang menunjukkan struktur logis dari proposisi-proposisi, yang menunjukkan struktur kepentingan.

1.8.1        Peranan Logika Bahasa
Wettgenstein lewat Tractacus menjelaskan bahwa filsafat bertujuan untuk memberi penjelasan  logis dari pikiran. Filsafat merupakan kegiatan atau aktivitas  sehingga  yang karya-karyanya terdiri atas penjelasan-penjelasan atau uraian-uraian. Filsafat tidak menghasilkan keterangan filsafati melainkan penjelasan proposisi. Tanpa filsafat, pikiran akan menerawang tak jelas yang ujung-ujungnya menjadi tugas filsafat untuk membuat jelas dan batas-batas pengertiannya.
Menurut Wettgenstein problema filsafat karena para filsuf sebelumnya kurang memahami logika bahasa yang digunakan dalam filsafat. Sesuatu yang tidak logis akan membuat kita tidak logis juga. (Wittgenstein dikutip Kaelan, 2009: 95). Logika bahasa yang sempurna mengandung aturan sintaksis tertentu sehingga dapat menghindari ungkapan yang tidak bermakna, dan memiliki simbol-simbol tunggal yang selalu memiliki makna tertentu dan terbatas. Untuk menghindari kekacauan dan kesalahan dalam filsafat disusunlah kerangka bahasa yang memenuhi struktur logika bagi uraiannya dan pemecahan problema filosofisnya
                       
1.8.2        Pemikiran Filosofis Tractatus Wettgenstein
Konsep Tractatus Wittgenstein terdiri atas beberapa pernyataan yang secara logis memiliki hubungan.

Pertama       : Dunia itu tidak terbagi atas benda-benda leiankan terdiri atas fakta-faktya, dan akhirnya menjadi sutau kesimpulan fakta-fakta atomis yang khas.
Kedua          :  Setiap  proposisi  pada  akhirnya  melarutkan diri,   melalui  analisis, menjasdi fungsi kebenaran yang khas dari sebuah proposisi elementer, yaitu setiap proposisi hanya mempunyai satu analisis akhir.

Fakta adalah peristiwa atau keadaan dan merupakan kombinasi dari benda-benda atau objek-objek atau bagaimanavhal itu berada di dunia. Fakta adalah keberadaan suatu peristiwa (state of affair). Dunia terdiri atas fakta-fakta dan dapat dijelaskan, ada hubungan satu sama lainnya. Dunia itu jumlah keseluruhan dari fakta-fakta, bukannya jumlah dari objek-onjek atau benda-benda itu sendiri. Totalitas fakta sangat kompleks dan terdiri atas fakta-fakta yang makin kurang kompleks. Fakta atomis adalah balok-balok bangunan dari dunia yang terdiri atas fakta-fakta atomis dan paling sederhana berada melingkupi diri sendiri yang dapat berada pada dirinya dalam isolasi.

1.8.3        Struktur Logika Bahasa
Sebuah proposisi itu adalah sebuah contoh (model) dari kenyataan (realitas) yang kita bayangkan. Proposisi dasar merupakan proposisi yang tidak dapat dianalisis lagi menjadi poroposisi yang lebih asasi. Sebuah proposisi dapat dianalisis menjadi proposisi sebuah proposisi sebagai bagian akhirnya (yang terkecil). Proposisi dasar adalah bangunan akhir bahasa karena jumlah keseluruhan proposisi adalah bahasa.
Sebuah nama adalah objek dan objek itu adalah maknanya. Proposisi dasar membenarkan fakta-fakta karena fakta-fakta adalah keberadaan peristiwa. Maka, proposisi dasar merupakan bagian akhir dari proposisi dan keseluruhannya adalah bahasa. Dengan demikian struktur logis dunia terungkap lewat bahasa.

1.8.4        Teori Gambar (Picture Theory)
Proposisi itu terungkap melalui bahasa dan bahasa pada hakikatnya merupakan suatu gambaran dunia. Terdapat kesesuaian logis antara struktur bahasa dengan struktur realitas dunia. Sdebuah proposisi itu adalah gambaran realitas diunia, merupakan contoh dari kenyataan yang kita bayangkan. Struktur logika bahasa yang digunakan Wettgenstein dimaksudkan untuk mengatasi kekaburan-kekaburan sehingga dalam memahami realitas dunia manusia hanya akan memberikan suatu kesempatan benar atau salah, bermakna atau tidak.
Kerangka logis suatu bahasa dalam mengungkapkan dunia itu menjadi seperti gambar timbul (relief). Oleh karena itu, proposisi merupakan suatu gambaran keberadaan suatu peristiwa, yang berupa suatu ungkapan bahasa yang menghadirkan bentuk peristiwa kepada kita.
Proposisi mengandung dua kutup, mengandung kebenaran jika berkesesuaian dengan keberadaan peristiwa dan sebaliknya mengandung kesalahan bila tidak sesuai dengan keberadaan peristiwa. Terdapat pula proposiosi-proposisi logika, yaitu kebenaran-kebenaran yang berada pada prinsip logis (termasuk tautologi atau kontradiksi). Proposisi logika tidak termasuk dalam proposisi sejati sebab tidak menggambarkan sesuatu, tidak mengungkapkan suatu pikiran, namun merupakan suatu kebenaran tautologis belaka dan tidak menggambarkan bentuk peristiwa atau tidak merupakan suatu picture dari sesuatu. Namun, bukan berati proposisi tersebut tidak bermakna, melainkan kebenaran bersifat tautologis.

1.8.5        Tipe-tipe Kata (Words Type)
Wittgenstein menerapkan beberapa teknik menganalisis bahasa, antara lain dengan analisis tipe kata. Dia sependapat dengan Russell dengan cara menganalisis unit-unit bahasa sampai pada unsur logisnya. Suatu satuan ungkapan bahasa yang memiliki struktur sama dapat memiliki perbedaan susunan logisnya. Perbedaan disebabkan oleh susunan satuan kata yang menyusun kalimat tersebut.
Prinsip verifikasi problema filsafat timbul karena kekacauan para filsuf dalam penggunaan bahasa yang mencampuradukkan pemakaian ungkapan konsep-konsep nyata dengan konsep formal.

1.8.6        Pandangan Wittgenstein tentang Metafisika
Metafisika melampaui batas-batas bahasa. Metafisika mengatakan apa yang tidak dapat dikatakan. Terdapat beberapa hal yang memang tidak dapat dikatakan yaitu hal-hal yang bersifat mistis. Hal tersbut melampaui batas bahasa yang menurut Wittgenstein adalah subjek, kematian, Asllah, dan bahasa itu sendiri.

1.9  Positivisme Logis
Positivisme logis menerima pandangan filosofis atomisme logis tentang logika dan cara analisisnya, namun menolak metafisika atomisme logis. Positivisme logis menggunakan dua cara, yaitu: Pertama, bertujuan menghilangkan metafisika. Ungkapan metafisika itu pada hakikatnya tidak mengtungkapkan apa-apa sehingga bersifat nirarti atau tidak bermakna (Poerwowidsagdo dikutip Kaelan, 2009: 105). Kedua, positivisme logis menggunakan teknik analisis demi penjelasan bahasa ilmiah dan bukan menganalisis pernyataan-pernyataan fakta ilmiah. Tugas filsafat adalah memperhatikan analisis-analisis dan penjelasan tentang pernyataan dan proposisi, terutama ilmu pengetahuan.

1.9.1        Analisis Logis terhadap Bahasa
Menurut positivisme logis fiklsafat tidak memiliki wilayah ilmiah tersendiri di samping objek ilmu pengetahuan. Filsafat tidak menyoroti problema yang berbeda dengan problema ilmu pengetahuan. Tugas filsafat adalah analisis logis terhadap ilmu pengetahuan. Maka, tak dapat diharapkan filsafat akan memecahkan problema ilmu pengtetahuan, kecuali menganalisis masalah dan diusulkan pemecahannya. Kaum positivisme logis menentukan sikap bahwa agar tidak terjadi kekacauan, analisis bahasa yang digunakan dalam ilmu pengetahuan dalam filsafat adaklah langkah yang paling tepat.

1.9.2        Prinsip Verifikasi
Posivisme logis yang didasari logika, matematika, serta ilmu pengetahuan alam yang positif dan empiris. Maka analisis logis tentang pernyatan-pernyataan ilmiah maupun pernyataan filsafat sangat ditentukan oleh metode ilmu pngetahuan positif  dean empirik. Menurut mereka,  suatu ungkapan atau proposisi dianggap bermakna manakala secara prinsip dapat diverifikasi, yaitu dengan menguji atau membuktikan setiap empiris.
Hasil verifikasi tidak mengharuskan hal yang benar, bermakna meskipun belum diverifikasi, tetapi memiliki kemungkinan  untuk diverifikasi. Menurut Ayer verifikasi merupakan pengandaian untuk melengkapi suatu kriteria sehingga melalui kriteria tersebut dapat ditentukan apakah kalimat itu mengandung makna atau tidak. Tidak hanya kalimat teruji dan terbukti secara empirik saja yang bermakna, melainkan juga kalimat yang dapat dianalisis lebih lanjut.
Menurut Ayer, ada verifikasi ketat dan longgar. Verifikasi ketat (strong verifiable) adalah sejauh kebenaran proposisi itu didukung oleh pengalaman secara meyakinkan.  Verifikasi lunak adalah sejauh proposisi itu mengandung bagi pengalaman atau merupakan pengalaman yang memungkinkan. Prinsiop ini memppunyai pengaruh luas dalam ilmu pengetahuan.

1.9.3        Konseop Proposisi
Menurut positivisme logis, terdapat dua macam proposisi: proposisi empiris dan proposisi formal. Proposisi empiris merupakan proposisi faktual yang dapat diverifikasi secara empirik dan mengandung kemungkinan disahkan atau ditolak. Proposisi formal adalah proposisi yang kebenarannya tidak memerlukan verifikasi empiris. Proposisi ini meliputi logika dan matematika yang memiliki kebenaran pasti sehingga tidak memerlukan verifikasi empiris.
Proposisi analitis berdasarkan penjelasan Ayer memberikan ciri berikut.
1.      memiliki ciri benar berdasarkan pembatasan semata-mata berdasarkan makna yang terkandung dalam susunan simbolik;
2.      tidak berdasarkan pada pengalaman, melainkan pengetahuan apriori yang diperoleh melalui refleksi logis tanpa melalui empiris;
3.      mengandung kepastian dan keniscayaan, memiliki kebenaran tautologis dan pernyataan yang mesti berdasarkan hukum-hukum logika;
4.      mengandung makna sejauh proposisi yang bersangkutan didasarkan pada penggunaan istilah yang pasti.

Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern dewasa ini konsep proposisi menurut positivisme logis ini menjadi kata kunci untuk mendapatkan kebenaran ilmiah objektif.

1.9.4        Logika dan Matematika
Logika mengalami pembaruan radikal pada abad XIX. Perbedaan logika modern dan logika klasik ialah 1) penggunaan simbol-simbol menurut analogi matematika; dan 2) bertambahnya wilayah pembahasan yang sama sekali baru. Menurut Wittgenstein logika matematika tidak mengatakan apa pun tentang realita empiris. Ucapan logika serta matematika bersifat analitis belaka, dan bukan sintesis. Ucapan sedemikian itu merupakan tautologi, dan setiap ucapan tentang realitas empiris bersifat sitetis, yang berarti dilakukan pada pengetahuan tentang fakta saja dan tidak berlaku untuk setiap macam pengetahuan (Bertens dikutip Kaelan, 2009: 112).

1.9.5        Konsepsi Lingkungan Wina tentang Filsafat
Menurut Carnap sintaksis logis disusun secara formal antara relasi-ralasi. Maka filsafat harus menyelidiki sintaksi-sintaksis logis dari ucapan ilmiah dari segi struktur logisnya. Analisis logis tidak dapat duipisahkan dari bermakna tidaknya bahasa yang diselidiki.

1.9.6        Bahasa Universal bagi Seluruh Ilmu Pengetahuan
Menurut Lingkungasn Wina bahwa ucapan semua ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan ke dalam bahasa universal yang sama. Menurut Carnap setiap objek pengetahuan dapat diasalkan kepada pengalaman elementer subjek. Objek dibuat tingkatannya sesuai dengan urutan struktur pengenalan. Orang dapat merumuskan semua ucapan ilmu pengetahuan dalam bahasa dasariah. Bahasa inilah yang menjadi bahasa universal.

1.10          Positivisme Logis Alfred Jules Ayer
Pemikiran filsafat Ayer memiliki corak tersendiri dalam menciptakan klarifkasi dan ketelitian dalam filsafat. Menurut Ayer suatu ungkapan itu bermakna bila merupakan observation statement, didasarkan pada observasi atau verfikasi. Selain berdasarkan data empiris, terdapat pula proposisi matematika dan logika. Ungkapan matematika dan logika itu tidak memungkinkan realitas inderawi sehingga tidak dapat diverifikasi atas dasar pengalaman. Untuk menentukan benar tidaknya kita tidak dapat meninggalkan bahasa karena kebenarannya sehingga kebenarnnya bersifat pasti.
Ungkapan bahasa disebut bermakna tidak harus diverifikasi secara faktual bila secara prinsipial memiliki kemungkinan untuk diverifikasi. Verifikasi tidak harus lengkap, melainkan sebagian saja, misalnya dalam bidang fisika. Hal ini yang membuat anggapan bahwa ungkapan metafisika tidak bermakna.

II.    FILSAFAT BAHASA BIASA (THE ORDINARY LANGUAGE PHILOSOPHY)

            Para tokoh filsafat analitika bahasa menyadari bahwa dalam kenyataannya banyak problema filsafat dapat diatasi melalui analsisi bahasa. Maka, bahasa merupakan pusat perhatian. Ungkapan metafisika mendapat perhatian serius, bahkan aliran atomisme logis dan positivisme ingin membersihkan filsafat dari metafisika.
            Para tokoh fiklsafat analitika bahasa memusatkan perhatian pada aspek semantik bahasa sehingga melalui kategori logika mereka menentukan  bahasa yang bermakna dan yang tidak bermakna. Berdasarkan logika bahasa ungkapan-ungkapan metafisika dari kalangan idealisme, terutama bidang teologi, etika, aksiologi, estetika, dan terutama ontologi pada hakikatnya tidak bermakna. Bertrand Russell menegaskan bahwa ungkapan metafisika pada hakikatnya adalah omong kosong karena tidak melukiskan realitas dunia dan keberadaan peristiwa secara empiris. Formulasi logika bahasa menemui berbagai keterbatasan dan kesulitan sehingga ungkapan bahasa dalam Tractatus sebenarnya tidak bermakna.

2.1  Pemikiran Filsafat Wittgenstein Periode II –Philosophical Investigation
            Karya Wittgenstein periode II memiliki corak berlainan, yang mendasarkan bahwa bahasa diformulasikan melalui logika sebenarnya tidak mungkin  untuk dikembangkan pada filsafat, bahkan dalam berbagai kehidupan manusia ada yang tidak dapat diungkapkan melalui logika bahasa.
            Segi pragmatik semakin disadari sehingga terdapat sejumlah bahasa yang digunakan dalam berbagai macam konteks kehidupan. Wettgenstein mengkritik pendapat pertamanya berkaitan dengan struktur. Bahasa merupakan suatu kumpulan besar yang tak terbatas dari proposisi-proposisi yang sederhana atau atomis pun. Wettgenstein semakin sadar bahwa dalam kenyataanya bahasa sehari-hari pada hakikatnya teklah cukup dalam upaya untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran filosofis.

2.1.1  Tata Permainan Bahasa
            Philosophical Investigations merupakan berntuk filsafat bahasa biasa yang paling kuat sekaligus petunjuk jalan atas terbukanya pemikiran fulsafat yang menaruh perhatian terhadap bahasa biasa. Menurut Wetgenstein “makna sebuah kata itu adalah penggunaannya dalam bahasa dan bahwa makna bahasa itu adalah penggunaanya di dalam hidup”. Ia menekankan bahasa dakam fungsi sebagai aklat komunikasi kehidupan manusia, tidak hanya memiliki struktur logis saja, melainkan juga aspek kontekstual dalam kehidupan. Makna kata adalah penggunaannya dalam bahasa. Orang tidak dapat menduga bagaimana sebuah kata itu berfungsi. Orang hanya harus melihat melihat penggunaannya dan belajar daripadanya. Filsafat sama sekali tidak boleh turut campur dalam penggunaan bahasa yang sesungguhnya, dan sebenarnya filsafat hanya dapat menguraikannya.
            Istilah  language games dipakai oleh Wittgenstein sebab bahasa merupakan sebagian dari suatu kegiatan atau merupakan suatu bentuk kehidupan. Keberagaman kehidupan memerlukan bahasa yang kontekstual. Bahasa tertentu memiliki aturan tertentu sebagaimana layaknya sebuah permainan. Ada aturan yang harus dipatuhi dalam permainan tersebut dan sebagai pedoman dalam tata permainan. Demikian pula dengan tata permianan bahasa, yang memiliki  aturan sendiri-sendiri yang tak dapat dicampuradukkan. Ragam ilmiah memiliki aturan tersendiri yang harus diikuti oleh komunitasnya dan tidak dapat diterapkan dalam konteks kehidupan manusia lain pada umumnya.
                  Makna sebuah kata adalah teragntung penggunaannya dalam suatu kalimat, adapun makna kalimat adalah tergantung penggunaannya dalam bahasa, sedangkan makna bahasa adalah tergantung penggunaannya dalam konteks kehidupan. Meskipun mengandung pengertian yang bersifat umum, makna kata  sangat tergantung pada cara penggunaannya dan konsekuensinya juga sangat  tergantung pada game atau aturan main dalam konteks penggunaannya.

2.1.2  Kritik Wittggenstein atas Bahasa Filsafat
            Penggunaan bahasa filsafat menurut Wittganstein tidak memiliki struktur yang logis sehingga sering menimbulkan masalah karena penggunaannya kurang tepat dalam realitas melalui logika bahasa. Banyak ungkapan filsafat yang tidak melukiskan realita fakta dunia secara empiris sehingga bahasa fiulsafat, terutama metafisika, filsafat nilai, estetika, etika dan cabang-cabang lainnya sebenarnya tidak mengungkapkan apa-apa.
            Banyak filsuf bahasa yang tudak menggunakan aturan game yang ada. Hal ini menurut Wittgenstein disebabkan oleh 1) penggunaan istilah atau ungkapan filsafat yang tidak sesuai dengan aturan permainan bahasa; 2) ada kecenderungan untuk mencari pengertian umum untuk merangkum pelbagai gejala yang dianggap umum; dan 3) pengertian terselubung lewat istilah yang tidak dipahami maknanya. Maka, beliau mengajurkan agar kita menghindari atau melewati penyamaran istilah yang tak terpahami dengan menunjukkan bahwa hal itu sebenarnya nirarti belaka.

2.1.3  Tugas Filsafat
                  Kelemahan bahasa filsafat dapat diatasi dengan meletakkan tugas filsafat sebagai analisis bahasa. Untuk itu ada dua macam cara untuk meletakkan filsafat sebagai analisis, yaitu: 1) aspek penyembuhan dengan cara menghilangkan kekacauan yang terjadi dalam bahasa filsafat; 2) aspek metodis, yaitu cara berfilsafat seharusnya ditempuh dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a)      dalam berfilsafat harsulah meletakkan landasannya pada penggunaan bahasa sehari-hari dengan tetap memperhastikan aturan permainan bahasanya;
b)      upaya untuk keluar dari kemelut kekacauan filsafat akibat penggunaan bahasanya. Untuk mengtasi itu menurut Wettgenstein haruslah melalui penampakan jalan bahasa.
c)      Metode analisis bahasa harus diletakkan dalam posisi netral, tidak turut campur dalam memberikan interpretasi filosofis, yaitu memberikan penafsiran tentang realitas.

            Filsafat tidak turut campour dalam memberikan interpretasi, hanya memberikan atau memaparkan secara objektif sebab filsafat tidak dapat memberikan dasar apa pun. Filsafat membiarkan segala sesuatu sesuai dengan apa adanya.

2.2  Beberapa Filosof dari Oxford
                  Filsuf Oxford lazimnya memeroleh pendidikan filsafat Yunani dan berlatar pendidikan filologi klasik dan linguisitik sehingga mempengaruhi corak pemikiran filsafatnya. Namun hampir dapat dikatakan bahwa semua filsuf Oxford kebanyakan meneruskan tradisi filsafat biasa.
2.2.1  Gilbert Ryle
                  Prinsip analisis Ryle menunjukkan garis lurus dari prinsip analisis Moore. Ia mendasarkan prinsip filsafat biasa, begitu juga logikanya, tampak dalam bukunya “The Concept of Mind” yang antara lain mmembahas dan menganalisis berbagai macam bahasa sehari-hari , terutama dalam kesalahan bahasa filsafat yang dikenal dengan istilah category mistake. Ada kecenderungan beliau memadukan prinsip atomisme logi dengan filsafat bahasa biasa melalui suatu analisis bahasa.  Ryle tidak mendasarkan pada struktur logika bahasa melainkan memperhatikan dan menganalisis penggunaan bahasa sehari-hari berdasarkan prinsip-prinsip logika.

2.2.1.1        Kekeliruan Kategori (Category Mistake)
            Filsafat Ryle merupakan kritik tajam terhadap konsep Rene Descartes. Ryle membedakan pelbagai jenis kata. Perlu dibedakan antara kata yang menunjuk pada suatu disposisi dengan kata-kata yang menunjuk suatu peristiwa.

2.2.1.2                                                  Bahasa Biasa (The Ordinary language)
            Filsafat bahasa biasa yang mendasarkan pada suatu konsep bahwa masalah filsafat dapat diselesaikan dan dijelaskan melalui analisis bahasa, mendasarkan pada bahasa biasa, yang pada hakikatnya telah cukup untuk melakukan analisis filsafat. Sayangnya, hingga periode Ryle belum pernah ada filsuf yang berupaya mendeskripsikan penggunaan bahasa biasa beserta pembedaannya.
            Ryle menegaskan pelru dibedakan antara penggunaan dari bahasa biasa (the use of ordinary language) dan penggunaan bahasa yang biasa (the ordinary linguistic usage) dan penggunaan yang biasa dari ungkapan (the ordinary use of expression). Menurut Ryle filsafat bahasa biasa pada hakikatnya mempertahankan penggunaan yang biasa dari bahasa atau penggunaan bahasa yang baku, yang standar dan bukannya penggunaan bahasa yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari. Tujuan analisis bahasa baku dalam penggunaan bahasa filsafat adalah untuk mendapatkan kejelasan yang memadai bagi penggunaannya (Charlestworth, 1959: 180 diktuip Kaelan, 2009: 137). Penyimpangan penggunaan dalam ungkapan filsafat perlu mendapatkan penjelasan memadai.

2.2.2  John Langshaw Austin
            Menurut Austin, kita akan mendapat pelajaran sangat banyak dari perhatian kita terhadap bahasa sehari-hari. Tidak jarang masalah filosofis akan nampak dalam bentuk baru jika kita dekati dengan menggunakan unsur bahasa sehari-hari. Pengunaan bahasa tidak dapat dilepaskan dari situasi konkret tempat ungkapan dan fenomena kita kemukakan.

2.2.2.1  Pembedaan Ucapan Bahasa
            Austin memberikan sumbangan dalam filsafat bahasa, yaitu pembedaan ucapan performatif (performative utterances) dan ucapan konstatif (constative utterances). Keduanya memiliki perbedaan dalam ucapan dan situasi penggunaan serta persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini merupakan kontribusi penting dalam perkembangan pragmatik.

2.2.2.2                                                  Tindakan Bahasa
            Tindakan bahasa yang dimaksud di sini adalah tindakan penutur dalam mengucapkan bahasa atau lebih dikenal dengan istilah speech acts. Tindakan bahasa dapat dibedakan menjadi tiga macam, 1) locutionary acts, yaitu tindakan bahasa untuk mengatakan sesuatu; 2) illocutionasy acts, yaitu tidakan bahasa dalam mengatakan sesuatu; 3) dan 3) perlocutionary acts, yaitu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu dengan maksud untuk menimbulkan efek, reaksi, pikiran atau tindakan bagi yang mendengar atau orang kedua yang diajak berbicara.
            Tindakan lokasi (location acts) berupa 1) phonetic act (tindakan bunyi bahasa); 2) phatic act (tindakan pengucapan kosa kata ); 3) rhetic act (tindakan kosa kata untuk kalimat langsungdan tidak langsung); tindakan ilokusi (illocutionary act) berbentuk 1) verdictives (tindakan keputusan); 2) excertives (tindakan bahasa akibat kekuasaan, hak, pengaruh); 3) commissives (tindakan bahasa dengan perbuatan atau operjanjian) ; 4) behabitives (tindakan bahasa menyangkut simpati, sikap, memaafkan, memberikan selamat, dll.); 5) expositves (tindakan bahasa dengan membrikan pandangan, pendapat, dll.); sedangkan tindakan bahasa perlokusi (perlocutionary acts) merupakan tindakan bahasa berkaitan dengan respon atau efek bagi orang yang diajak berbicara.


2.2.3  Peter Strawson
                  Konsep Strawson yang menarik secara khusus adalah tentang persona. Konteksnya adalah kesulitan yang dialami para filsuf mengidentifikasikan keadaan sadar dengan menunjuk objek material. Konsep persona tidak dibentuk oleh konsep tubuh dan konsep roh, tetapi merupakan suatu individu yang tunggal.

III.                                           HERMENEUTIKA

3.1  Pengantar
            Hermeneutik secara etimologis  berasal darti bahasda Yunani hermeneuin (v), berhubungan dengan hermeneus (n) yang berkaitan dengan nama dewa dalam mitologi Yunani “Hermes” yang membawa pesan takdir. Maka pengertian hermeneutik secara harfiah adalah menyampaikan pesan, berita. Pesan yang disampaikan merupakan sasaran hermeneutik, bukan wadah pesan yang menjadi perhatian primernya.
            Tidaklah mudah menentukan karakteristik pandangan filsafat melalui objek material bahasa. Kenyataannya bahasa tidaklah mungkin dibatasi melalui formulasi logika. Munculnya pemikiran filsafat bahasa biasa membuka cakrawala baru dalam dunia filsafat di Eropa, terutama Inggris. Ryle, Austin, Strawson dan filsuf lain justru membenarkan pada aspek pragmatik bahasa. Filsafat metafisika mengalami kelumpuhan akibat kritik akurat melalui analitika bahasa. Munculnya filsafat bahasa biasa tidak tampil sebagai pendekar melainkan lebih menekankan pada makna bahasa dalam penggunaannya di kehidupan manusia.  Hal ini membawa para filsuf mengkaji ulang hakikat makna hidup manusia.
            Hakikat kajian filsafat melalui objek bahasa hanya menjelaskan kontekstualisasi linguistik masing-masing dan tidak mampu  mengungkapkan kehdiupan manusia sebenarnya. Menyadari kenyataan demikian muncullah berbagai pemikiran para filsuf yang berupaya memahami hakikat kehidiupan manusia secara lengkap dan hal ini dapat dilajukan dengan interpretasi bahasa. Problema ini mendorong para filsuf Jerman dan Prancis mengembangkan filsafatnya dengan mendasarkan bahasa dalam proses Hermeneutika, yang objeknya sama dengan filksafat bahasa biasa.
            Para filsuf hermeneutika mendasarkan filsafat bahasa biasa dan berupaya memahami realitas kehidupan manusia. Filsuf hertemeneutika menawarkan cara lain untuk melihat hakikat bahasa, yaitu bahasa dilihat sebagai cara memahami kenyataan dan cara kenyataan tampil pada kita. Dalam pengertian demikian, fungsi esensi bahasa adalah transformatif. Melalui bahasa kita mengtransformasikan dunia dan melalui bahasa juga dunia mentransformasikan kita. Jadi pakar filsuf hermeneutik justru melihat fungsi esensial bahasa dalm kehidupan manusia.
            Bahasa tidak hanya dipahami sebagai struktur dan makna serta penggunaannya dalam kehidupan, melainkan fungsi bahasa yang melukiskan seluruh realitas hidup manusia. Dalam perspektif hermeuneutik, bahasa (die soprachlichkeit) merupakan pusat gravitasi. Menurut Gadamer, bahwa ada yang bisa dimengerti adalah bahasa. Munculnya bahasa manusia menampilkan suatu transformasi mendasar dan total dari taraf kebinatangan menuju ke tingkat yang lebih khas manusia. Munculnya bahasa manusia adalah bersamaan dengan munculnya kemampuan reflektif. Berkat adanya bahasa manusia menjadi objek yang potensial bagi dirinya sendiri. Manusia bukanlah suatu makhluk yang sekadar natural belaka, melainkan lebih sebagai suatu produk kultural, suatu konstruk linguistik. 
            Oleh sebab  itu bahasa memungkinkan manusia berpikir sehingga bahasa tidak sebatas sebagai medium dalam pemikiran modern pada umumnya. Bahasa bukan sekadar medium dan sarana berpikir belaka dan bukan sekadar representasi kenyataan. Secara hakiki bahasa adalah manifestasi totalitas pikiran manusia. Tidak ada cara lain untuk berpikir tentang hakikat kenyataan itu selain melalui bahasa yang merupakan ungkapan kebudayaan manusia.
            Berkaitan dengan itulah filsuf hermeneutik hadir dengan berbagai macam kosepnya. Mereka itu antara lain Schleirmacher, Dilthey, Heridegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan Derrida. Perkembangan filsafat ini memiliki kontribusi besar dalam metode penelitian kualitatif, terutama ilmu sosial.

3.2  Frederich Schleiermacher
            Frederich Schleiermacher berpendapat bahwa pemahaman adalah suatu rekonstruksi yang bertolak dari ekspresi yang tekah diungkapkan dan mengarah kembali ke suasana kejiwaan tempat ekspresi tersebut diungkapkan. Bahasa merupakan unsur fundamental dalam hermeneutika dan sebagai sistem yang artinya suatu kata ditentukan artinya lewat makna fungsionalnya dalam kalimat secara keseluruhan. Makna kalimat ditentukan lewat arti kata satu per satu yang membentuknya.
3.3  Wilhelm Dilthey
         Dilthey merupakan pemikir dalam jalannya sendiri namun konsep filosofinya merupakan sintesis pemikiran tradisi empiris di Inggris dan Prancis, filsafat transendental. Pemikiran filsafat hidup Dilthey mengungkapkan apresiasi mendalam tentang kekayaan dan keragaman hidup.
3.3.1  Pemikiran Filosofis
            Pemikiran filsafat Dilthey menghanalisis proses pemahaman yang membuat kita dapat mengetahui kehidupan pikiran (kejiwaan) kita sendiri dan kejiwaan orang lain. Hidup bersifat kompleks, merupakan sutau term psikologis dan kausimetafisik, menunjuk semua keadaan jiwa, proses serta kegiatan sadar atau tidak sadar, terutama kegiatan ekspresif kreatif sebagai substansi sejarah dan objek. Hidup adalah objek satu-satunya dalam filsafat.

3.3.2  Bahasa dalam Proses Hermeneutika
            Tugas hermeneutika menurut Dilthey adalah melengkapi teori pembuktian validitas universal interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemari oleh pandangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu dituntut adanya latar belakang pengetahuan untuk mengintrepretasi. Pengtetahuan tersebut bersifat gramatikal kebahasaan serta sejarah agar kita mempunyai alat dalam mempertimbangkan suatu karya.
            Keselruhan dapat ditangkap secara bagian per bagian atau sebaliknya. Keseluruhan terdiri atas bagian-bagiannya dan dapat dipahami hanya dengan membaca keseluruhannya secara berturut-turut dan membangun menjadi suatu gambaran yang bersifat saling bertaut (koheren). Proses heremenutika selanjutnya, suatu karya dapat terungkap penuh melalui karya-karya lain si pengarang. Melalui karya-karya tersebut dapat terungkap hidup dan watak si pencipta. Interpretasi suatu karya dapat berkembang dan meluas sehingga menjadi suatu studi sejarah.






3.4  Martin Heidegger

3.4.1  Pemikiran Filosofis
            Das sein merupakan pusat pemahaman fenomenologi heremeneutik Heidegger. Ia konsisten melalui proses fenomenologi  heremeneutisnya berupaya untuk mengangkat das sein keluar dari ketersembunyiannya (Poespoprodjo, 1987: 71 dikutip Kaelan, 2009: 273).
            Pemikiran Hedegger meliputi dua periode: 1) Ada dan waktu; 2) kehre (pembalikan). Heidegger berupya menganalisis das sein untuk memperlihatkan struktur dasariah yang bersifat eksistensial dalam dunia. Struktur hakiki konsepnya disebutnya sebagai existentialia.
            Salah satu sental gagasan Heidegger II adalah ontologische differenz  atau perbedaan ontologi, perbedaan antara ada dan adaan. Berpikir patuh pada sein, ada pun berpikir baru disebut berpikir manakala. yang mengacu pada ada. Berpikir pada hakikatnya terikat pada arti, oleh sebab  itu manusia bukanlah penguasa atas ada, melainkan sebagai penjaga dari padanya. Tanpa bahasa manusia bukankah manusia Poepoprodjo, 1987: 72 dikutip Kaelan, 2009: 276).

3.4.2  Filsafat Bahasa dan Hermeneutika
            Pemikiran Heidegger merupakan filsafat bahasa yang berbneda dengan filsafat analitik. Pertanyaan tentang bahasa akan dapat memunculkan kembali masalah kedekatan berpikir dan sein. Bahasa tak sebatas sarana belaka, melainkan hakikatnya adalah bahasa hakikat, artinya berpikir adalah suatu jawaban, tanggapan atau respon dan bukan manipulasi ide yang hakikatnya telah terkandung dalam proses penuturan bahasa. Bahasa berkaitan dengan proses penyampaian arti. Identitas benda, ciri-ciri, sifat benda yang disampaikan daan tanggapan kita menunjukkan manifestasi hakikat bahasa.
            Menurut Heidegger, bahasa tidak mungkin diformulasikan dengan logika yang ketat sebab akan menggangu hakikat bahasa itu sendiri. Oleh sebab itu, hakikat bahasa dkitunjukkan dengan berpikir dan berkata atau mengungkapkan  sesuatu, menampakkan das sein, dan cerminan keterbukaan manusia terhadap hal ini. Berkata atau berucap adalah memberitahukan, menampakkan atau menunjukkan das sein sehingga membuatnya menjadi terbuki dan berpikir. Mengungkapkan suatu kata adalah sein lassen (membicarakan peristiwa yang ada). Bahasa adalah tempat tinggal sang ada. Bahasa adalah tanda, menunjukkan isi tertentu sebagai sarana komunikasi dan sarana lain. Bahasa adalah suatu proses, dinamika, gerakan dan manusia dalam jalan itu.

3.4.3  Bahasa dalam Fenomenologi Hermeneutika
            Menurut Heidegger faktisitas keberadaan merupakan sesuatu yang amat fundamental. Fenomenologisnya sebagai hermeneutika. Fenomenologi hemeneutika Heidegger adalah fenomenologi tentang ada. Maka, arti primernya adalah analisis eksistensialitas.

3.4.4  Bahasa dalam Proses Pemahaman
            Berpikir bukan menggambarkan, memvisualisasikan di deopan mata, melainkan untuk mendapatkan keterangan dan memanfaatkan suatu oengertian tentang sei.

3.5  Hans Georg Gadamer

3.5.1  Pemikiran Filosofis
            Pemahaman kita bersifat historis, peristiwa diaklektis dan peristiwa kebahasaan. Hermeneutika adalah ontologi fenomenologi pemahaman yang kuncinya partisipasi dan keterbukaan, bukan manipulasi dan pengendalian. Dialektika merupakan sarana untuk melampaui kecenderungan metode yaang memprastrukturkan kegiatan ilmiah peneliti. Hermeneutika dialektis membimbing manusia untuk menyingkap hakikat kebenaran serta menemukan hakikat realitas segala sesuatu secara sebenarnya.

3.5.2  Hakikat Bahasa
            Di dalam bahasa sebagai perantara terlaksana kesesuaian pengertian antarsubjek dialog dan kesepahaman tentang masalah. Fungsi horizontalnya adalah bahasa yang semula berfungsi sebagai alat tutur, baik lisan maupun tertulis. Bahasa tulis memiliki kelemahan alienasi hingga karya sastra berupaya semaksimal mungkin mengungkakan daya pragmatiknya. 
3.5.3  Bahasa dan Sistem Tanda
            Bahasa dalam sejarahnya memiliki teori sistem tanda. Kata sebagai  simbol realitas merupakan tanda melalui kata yang bermakna dan berlaku dalam suatu komunitas. Bahasa merupakan tanda dan bentuk simbolik ciptaan manusia. Kata  milik realitas. Manusia mencari kata yang tepat. Bagi Gadamer pemahaman, pengalaman, pikiran pada hakikatnya benar-benar merupakan kebahasaan. Kata bukanlah sebagai hasil reflektif, realitas terwujud lewat kata, bahasa di dalam pengalaman, pemahaman dan pikiran.

3.5.4  Bahasa sebagai Pengalaman Dunia
            Menurut Gadamer bahwa fungsi bahasa sebagai petunjuk barang-barang adalah terbalik. Bahasa adalah pengalaman dunia, manusia hidup di dalam dunia karena bahasa. Pengalaman bersifat kebahasaan adalah mutlak, yaitu melampaui segala relativitas dan hubungan tempat berbagai realitas berada.
            Bahasa merupakan perantara pewarisan dan pengungkapan, pengalaman kebahasaan menunjukkan bahwa pengalaman mansia tidak mungkin mendahului bahasa akan tetapi pengalaman terjadi lewat dan dalam bahasa.

3.5.5  Struktur Spekulatif Bahasa
         Bahasa pada hakikatnya adalah bersifat dinamis yang membawa sesuatu ke arah pemahaman. Proses transformasi dalam bahasa tidak pernah berhenti, bahasa adalah hidup sehingga senantisa membiarkan sesuatu untuk mengungkapkan diri. Setiap ungkapan verbal menuntut ke arah keterbukaan terhadap transformasi das sein.

3.5.6  Bahasa sebagai Pusat Hermeneutika
         Bahasa adakah alat komunuikasi aku dan dunia bersama-sama di dalamnya. Bahasa bukanlah daya final realitas, melainkan proses yang tidak pernah berhenti ke arah transformasi bahasa. Menurut Gadamer filsafat hermeneutika memahami diri sendiri bukan sebagai posisi mutlak sebuah pengalaman, melainkan sebagai jalan pengalaman. Struktur spekulatif memiliki posisi yang sangat sentral dalam menentukan jalannya pengalaman. Hubungan manusia dengan dunianya bersifat kebahasaan. .

3.6  Jurgen Habermas

3.6.1  Peranan Bahasa dalam Pemahaman
            Habermas membedakan penjelasasn dan pemahaman. Beliau menekankan bahwa kita tidak dapat memahami sepenuhnya makna fakta sebab ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasi. Bahasa merupakan unsur fundamental dalam hermeneutika. Analisis terhadap fakta dilakukan melalui simbol-simbol yang berperan sebagi simbol dan fakta. Dalam proses hermeneutika rumusan bahasa yang dimaksud adalah bahasa yang merupakan simbol dari fakta sehingga terhubungkan secara sistematis antarunsur bahasa.

3.6.2  Peranan Bahasa dalam Hermeneutika
            Hermeneutika berusaha menerangkan sesuatu secara individual yang khas, bukan bersifat universal.  Bahasa sehari-hari digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks kehidupan yang konkret sehingga bahasa mampu mengungkapkan makna individual;.

3.6.3  Hubungan Antara Bahasa, Pengalaman, dan Tindakan
            Terdapat interaksi antara bahasa dan pengalaman tidak menjadi syarat transendental bagi suati tindakan dalam berkomunikasi. Bahasa dan pengalaman harus masuk dalam dialektika dengan tindakan. Ada empat bagian: 1) tindakan teologis; 2) tindakan normatif; 3) tindakan dramaturgik; dan 4) tindakan komunikatif.

3.7        Paul Ricoeur
3.7.1  Pemikiran Filosofis
            Filsafat pada hakikatnya adaklah suatu hermeneutika, yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks. Setiap interpretasi adalah usaha membongkar makna-manka yang masih tersembunyi atau usaha membuka selubung atau lipatan dari tingkatan makna yang tersembunyi terkandung dalam makna kesusastraan.

3.7.2  Makna Bahasa dalam Hermeneutika
            Suatu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam hermeneutika adalah perjuangan melawan distansi kultural. Penafsir harus membuat jarak agar menjadi penafsuir yang baik.  Bahasa dinyatakan dalam simbol, pengalaman dibaca melalui pernyataan atau ungkaopan simbol-simbol. Kita mengungkaopkan gagasdan, emosi, kesustraan, filsafat, dan lain-lain melalui bahasa.

3.7.3  Peranan Bahasa dalam Pemahaman
            Dalam hermeneutika harus dilakukan pembedaan antara pemahaman, penjelasan, dan interpretasi.  Setiap interpreter juga bicara sirkulasi saling terkait antarhal tersebut. Interpreter harus menggumuli interpretasinya sendiri, dari masih mentah hingga matang.
            Tiga langkah yang bisa dilakukan: 1) penghayatan simbol-simbol; 2) pemberian  makna simbol-simbol; 3) langkah filosofis degan menggunakan simbol-simbol sebagai titik tolaknya.

3.8  Jacques Derrida

3.8.1  Pemikiran Filosofis
         Filsafat dan ilmu pengetahuan  pada dasarnya merupakan hal yang sama. Tradisi metafisis condong ke arah ADA yang hadir bagi dirinya sendiri ada yang benar bagi dirinya sendiri, terlepas dari serita di mana ada dikemukakan atau dikisahkan.

3.8.2  Pemikiran Filsafat Bahasa
         Tanda adalah trace (bekas) suatu kata yang sebelumnya sudah dipakai sebagai istilah teknis dalam filsafat. Pada hakikatnya tanda tadi tidak mempunyai substansi serta kuantitas sendiri, melainkan hanya menunjuk. Bekas tidak dapat dimengerti sendiri melainkan hanya sejauh menunjuk kepada hal-hal lain. Tnda tidak dianggap sebagai sesuatu yang sementara karena seandainya bekas itu dihapus, kehadirannya akan terhapus juga.

3.8.3  Hakikat Bahasa
            Derrida membedakan tanda dan simbol yang merupakan pronblema filosofis dalam filsafat bahasa. Tanda bersifat arbitrer (manasuka) dan tidak menurut kodratnya. Tulisan mendahului ucapan, itulah dasar pemikiran Derrida, hingga prioritas utamanya adalah bahasa tulis. Tulisan adalah semacam barang asing yang masuk ke dalam sistem bahasa sehingga merupakan sebab atau asal  dari bahasa yang diucapkan. Penulisan abjad menghadirkan ucapan dan sesaat kemudian hilang di balik kata-kata yang diucapkan. Tulisan akan hilang ketika ucapan mencapai kesempurnaannya dan akan sepenuhnya ditampilkan dalam pemindahan sistem penulisannya. Lantas hadir subjek yang mengucapkan dan pada ucapan itu tulisan memperoleh arti, isi, serta nilainya. 
3.8.4  Bahasa dalam Proses Hermeneutika
            Teoiri interpretasi pada hakikatnya adalah teori membaca yang pada akhirnya teori tentang teks. Pemahaman seseorang bergantung pada bagian mana ia membacanya. Derrida lebih cenderung   kepada interpretasi teks tertulis yang digunakan untuk dibaca sebagai teks sebab  teks ini mengikuti secara ketat aturan-aturan sintaksis dan gaya bahasa.
3.8.5  Makna Bahasa
            Secara ontologis tulisan mendahului ucapan. Tulisan menjadi jejak yang bisu namun dapat menjadi saksi yang tidak hadir dan belum dapat terkatakan. Tulisan menghilang ketika ucapan akan mencapai kesempurnaan. Gerakan makna tidak akan mungkin bila setiap unsurnya tidak hadir atau tampil.
            Bahasa pada hakikatnya adalah suatu sistem tanda yang bermakna. Untuk mengungkapkan realitas dalam kenyataannya tidaklah cukup jikalau hanya dikaji melalui unsur struktur bahasa saja. Hakikat bahasa yang hanya mengungkapkan realitas segala sesuatu harus mampu mencapai core values yang berada di balik struktur bahasa yang nampak bersifat enmpiris tersebut. Hal inikah yang dalam perkembangannya kajian filosofis melalui analitika bahasa menumbuhkan suatu pandangan ilmiah yang mendasarkan  pada pendekatan kuantuitaif positivistic dan penmdekatan kualitatif fenomenologis.

Daftar Pustaka

Kaelan. 2009. Filsafat Bahasa, Semiotika dan Hermeneutika. Yogyakarta: Paradigma.