Sabtu, 20 September 2014

LKS-PENOLAKAN OPINI DAN MEMBERIKAN TANGGAPAN KELAS XII IPA 1 TAHUN 2014/2015


LKS MEMBERIKAN TANGGAPAN DAN PENOLAKAN PENDAPAT KELAS XII IPA 1 TAHUN 2014/2015
  1. Bacalah wacana berikut dengan cermat, teliti, dan cerdas!  
  2. Analisislah wacana tersebut dari segi penalaran wacana atau si penulis! Jadi, tentukan opini-opini utama penulis tentang topik yang dibahas!
  3. Berdasarkan opini yang kalian pilih , tentukan term C, B, dan buatlah term A-nya!
  4. Berdasarkan rumusan term tersebut restrukturisasikan ke dalam bentuk penalaran siologisme yang benar! 5. Analisislah silogisme tersebut dari segi 1) validitas (valid) dan 2) kebenarannya (truth)! Pahamilah dengan cermat di mana letak kelemahan pola penalaran itu? 
  5. Berilah tanggapan atas opini wacana melalui penulisnya secara kritis dengan memberikan butir-butir ikon yang dijadikan sasaran!
  6. Buatlah penolakan gagasan wacana atau penulis dengan melihat kelemahan pola pikir dan opini penulis dalam memanfaatkan data!
  7. Kerjakan dalam Komentar dengan menuliskan nama, kelas, dan nomor absen! Email harus sesuai dengan nama dalam daftar nama. Yang tidak memenuhi persyaratan akan kena eleminasi secara otomatis-langsung! 6. Kerjakan sesuai dengan alokasi soal dan penjawabnya!



WACANA PENOLAKAN PENDAPAT DAN TANGGAPAN
KELAS XII IPA1



1.      WACANA 1

Tak Harus ber-Matematika
Bingung membaca beberapa tulisan tentang PR matematika anak kelas 2 SD membuatku pengen jalan-jalan me-refresh otak bebalku. Sejak jaman SD aku paling ngeri ketemu matematika. Aku mengalami kejadian yang mirip dialami si adik. Saat kelas dua SD aku merasa benar mengerjakan PR yang diberikan bu guru dan jawabannya pun sama, namun saat itu bu guru menyalahkan dan memarahiku untuk mengikuti apa yang diberikan bu guru. Sejak saat itu setiap ketemu pelajaran matematika rasanya mau muntah darah. Tapi membaca ulasan dari Hendradi Hardhienata Kandidat Doktor Fisika Teoretik dari Universitas Linz, Austria dalam http://edukasi.kompasiana.com/2014/09/22/tanggapan-soal-pr-anak-2-sd-yang-membuat-heboh-facebookx-680418.html membuatku rada hilang rasa eneg dengan pelajaran matematika. #pleaseee,,, untuk para ahli jangan ngetawain yaaa., ini curhat yang paling dalam. Sampai sekarang aku paling males melihat raport SD sampai SMU karena satu-satunya nilai terendah yang selalu menghiasinya hanya pelajaran matematika. Hehehe.
Aku pernah berantem ”abis-abisan” dengan suami gegara matematika. Dengan kemampuan “dibawah rata-rata”, suami sampai ngakak guling karena menemukan raport SMU yang aku simpen rapat-rapat diantara arsip lainnya. Duh.. aku langsung pasang tampang mendelik.
“Peperangan” itu selalu kembali terjadi saat kedua anak kami mengerjakan PR matematika waktu SD dulu. Aku selalu pontang-panting pusing tujuh keliling. Bagi suami matematika adalah hal yang menyenangkan. Dalam memberikan pengertian ke anak selalu dengan kata menyenangkan dan membuat anak bersemangat meminta soal lagi dan lagi dan lagi. Nilai raportnya selalu diatas 8, jadi wajarlah kalau dia lolos UMPTN dan kuliah di Fakultas Arsitektur. Sementara aku lebih menguasai di bidang sosial cukup bahagia kuliah di Fakultas Ekonomi di Universitas yang sama.
Untuk PR selain Matematika, aku masih sanggup mendampingi kedua buah hati kami. Nah.. disini aku punya posisi tawar. Kebetulan aku “sedikit” menguasai pendidikan agama Islam, Untuk urusan PR agama dan serba serbi Alquran alhamdulillah aku diatas awan. Juga untuk pelajaran muatan lokal pelajaran Bahasa Jawa. Kebetulan suami meskipun orang tua dari Jawa, tapi lahir dan tumbuh kembang di Jakarta. Pernah suatu hari aku ada tugas mendadak sehingga tidak bisa mendampingi anak nomor dua (waktu itu kelas 3 SD) mengerjakan PR bahasa Jawa. Jadi mau tidak mau si anak harus bertanya kepada Bapaknya.
keesokan harinya, pulang sekolah si kecil menangis dan menceritakan kalau PR bahasa Jawa hanya mendapat nilai 2. Semua jawaban salah. Hehehehe. Sejak saat itu anakku tidak pernah mau dan hilang kepercayaan pada ayahnya untuk mengerjakan PR bahasa Jawa. Dia lebih percaya kepada eMaknya. Sipp… jelek-jelek masih berguna juga. Hehehe. Dari kejadian tersebut ada hikmah yang dapat kupetik bahwa Allah pasti memberikan kelebihan pada setiap hambaNYa. Dibalik kekurangan seseorang pasti adalah kelebihan yang bisa ditonjolkan atau bahkan membanggakan. Aku memang tidak menguasai di pelajaran matematika tapi masih mampu mengelola duit yang harus diputer untuk keperluan hidup keluarga selama sebulan. Meski rada kembang kempis, tapi semuanya lancar jaya hingga saat ini. hehehe
Itulah suka duka menemani anak SD belajar mengerjakan PR. Sekarang kami lebih santai, apalagi dengan kehebohan kurikulum 2013 ini. Banyak sekali para Ibu berkeluh kesah. Kami titipkan kedua buah hati di pesantren, karena kami merasa saat ini tidak sanggup menjaga amanah Allah untuk mendampingi kedua buah hati menyongsong dunia yang penuh warna. Kami pasrahkan kepada pesantren yang lebih mumpuni dengan harapan ilmu dunia dan ilmu agama bisa mengisi otak dan jiwa mereka. Saat ini kami hanya bisa memeluk mereka dengan mengirimkan doa semoga menjadi anak yang berguna dan bermartabat bagi nusa bangsa dan terutama agama kami.
Salaam


2.      WACANA 2
Pak Jokowi, Jangan Ambil Kepala Daerah Kami
Bisa blunder kalau Jokowi menarik para kepala daerah hebat menjadi menteri dalam kabinetnya. Mengapa?
Ingat! Jokowi mau mentransformasi Indonesia dari “Baik” (good) menjadi “Hebat” (Great). Salah satu pantangannya, menurut Jim Collins, jangan memindahkan pemimpin yang sukses menjadikan unitnya hebat ke unit lain yang belum hebat. (Collins adalah pengarang best seller Good to Great).
Maksud Collins jelas. Seorang pemimpin yang sukses membawa satu unit menjadi hebat, belum tentu berhasil menjadikan unit lain hebat. Kalau ini terjadi, maka akhirnya akan diperoleh dua unit yang tidak hebat. Karena unit hebat yang ditinggalkannya merosot lagi menjadi tidak hebat.
Ramai diberitakan, sejumlah nama kepala daerah sudah masuk radar Jokowi untuk dipilih menjadi menteri. Di antaranya ada nama-nama Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Ridwan Kamil (Walikota Bandung), dan Arya Bima (Walikota Bogor). Mereka telah berhasil memimpin daerahnya untuk menjadi “Hebat”.
Pertanyaannya, jika mereka ditarik menjadi menteri, apakah daerahnya akan tetap menanjak menjadi “Hebat”, atau sebaliknya merosot menjadi “Tidak Hebat”? Mungkin bisa tetap menanjak, jika wakilnya memiliki kualitas kepemimpinan yang kurang lebih setara. Ini misalnya terjadi dengan Surakarta dan Jakarta, yang ditinggal oleh Jokowi.
Tapi, kalau kualitas wakilnya jauh di bawah, maka daerahnya akan merosot kembali ke bawah. Artinya, Indonesia akan kehilangan sejumlah kabupaten/kota “Hebat”. Menjadi ironis, karena sasaran Jokowi adalah “Indonesia Hebat”, termasuk di situ “Kabupaten Hebat” dan “Kota Hebat”.
Mungkin Jokowi adalah kesalahan sejarah yang harus terjadi demi Indonesia Hebat. Surakarta dan Jakarta sebenarnya menangisi kepergian Jokowi ke Istana Negara. Tapi sudahlah, “Don’t cry for me Surakarta, don’t cry for me Jakarta,” senandung Jokowi, “ I can’t help loving Indonesia.
Fenomena “Jokowi” mungkin hanya muncul sekali dalam sejarah Indonesia. Seperti halnya fenomena “Soekarno” juga hanya muncul sekali.
Jadi, Jokowi adalah “unik”, bukan sebuah model umum yang bisa diterapkan pada kepala daerah lain. Bisa blunder ujungnya. Misalkan Bu Risma ditarik menjadi Menteri Kependudukan. Belum tentu Bu Risma bisa menjadikan kementeriannya “Hebat”. Sementara Surabaya yang sudah “Hebat” itu, mungkin malah jatuh merana karena ditinggal “ibu’-nya.
Sebelum blunder terjadi, maka wajar jika warga daerah yang kepalanya ditarik Jokowi akan berteriak serentak, “Pak Jokowi, jangan ambil kepala daerah kami”. Sambil bernyanyi sendu di depan kepala daerahnya, “Don’t go … oh oh oooo …”. Dan mudah-mudahanlah tidak ada kepala daerah yang tega bernyanyi, “I’m leaving on a jet plane ..”.(*)


3.      WACANA 3

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” pada Diri Sendiri
Sikap tegas merupakan satu sikap yang sangat penting dan harus dimiliki oleh siapa saja yang menjabat sebagai pemimpin/ atasan sebuah organisasi atau kumpulan dari orang banyak. Pemimpin disini dapat digambarkan misalnya: seorang ayah sebagai pemimpin keluarga, seorang kepala desa/ kelurahan, juragan ayam bakar di pinggir jalan yang mempunyai banyak karyawan, seorang kepala sekolah, kepala suku/ kepala suatu organisasi, bahkan presiden! Pemimpin/ atasan yang mempunyai kualitas ”ketegasan” yang baik, disebabkan karena mereka berhasil memimpin dirinya sendiri dengan memperlakukan dirinya secara tegas.
Nah, siapa saja dari kita yang barangkali ingin menjadi orang besar, barangkali ingin menjadi pemimpin untuk orang lain, mari belajar bareng! Atau barangkali yang sudah menjadi pemimpin. Ayo, coba tes diri Anda, seberapa kualitas ketegasan yang Anda miliki…
Ketegasan erat hubungannya dengan ketegaran, ketangguhan, dan kewibawaan. Unsur dari ”tegas” itu sendiri yaitu suatu bentuk hasil keputusan yang mantap, artinya apabila seseorang mempunyai ketegasan, ia akan memutuskan segala sesuatu dengan keputusan yang bulat dan berani mengambil resiko dari apa yang menjadi keputusannya tersebut.
Secara fisik, seseorang yang mempunyai sikap tegas, akan tampak lebih percaya diri, semangat dan energik! (*keren kan?)
Seperti yang sudah saya katakan diatas, keberhasilan seorang pemimpin tak lepas dari keberhasilannya sendiri memperlakukan tegas terhadap dirinya. Membuat saya ingin fokus mengutarakan bagaimana sih cara gampang membangun ketegasan pada diri sendiri.
Saya yakin sekali, sebenarnya ketegasan seseorang itu terbentuk seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya setiap orang itu sendiri, dimana pastilah dari kita akan mengalami proses dan hasil yang tidak sama. Akan tetapi, tidak ada yang salah kok kalau kita mencoba untuk menyelidiki kemungkinan hal- hal apa saja yang bisa mempengaruhi/ membentuk sesuatu sikap yang namanya ”KETEGASAN”.
Ikuti bareng apa saja yang jadi triknya dari saya ya, sekalipun ini adalah sebuah hasil pemikiran dan perhitungan tanpa rumus (*senyum);
1). Mengetahui alasan kenapa harus tegas.
Alasan setiap orang mau bersikap tegas adalah bermacam- macam, bisa jadi ada orang yang ingin terhindar dari kata”plin- plan”, mungkin karena tegas merupakan kenyamanannya, atau karena dengan tegas, ada orang yang tidak takut terhadap resiko dari apa yang telah menjadi keputusan hatinya. Sehingga, ia lebih berani menghadapi tantangan dalam hidupnya.
2). Rajin meningkatkan ”daya logika pikiran” agar selalu berkembang.
Tingkat logika seseorang akan berpengaruh besar terhadap pola pikir, perasaan, dan tingkah lakunya sendiri. Jalan untuk meningkatkan logika yang baik yaitu dengan gemar mencari ilmu, giat bekerja(disiplin), dan merenung(sebagai cara self-reflection). Merenung disini, saya artikan sebagai langkah menggabungkan antara ilmu yang kita miliki dengan kegiatan nyata sehari- hari, juga merupakan langkah lain menggabungkan antara ilmu dengan alam semesta. Kemudian pada akhirnya, akan muncullah penilaian mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang tidak benar. Kekuatan membedakan mana yang salah dan mana yang benar akan menjadi sebuah”ketegasan” dalam diri seseorang.
3). Pandai memainkan emosi.
Bagaimana kita mengendalikan emosi sangat menentukan keberhasilan kita sendiri. Maka berhati- hatilah dalam menjaga kestabilan emosi setiap harinya. Apapun keadaan emosi kita, usahakan selalu dalam emosi yang positif. Jika ada sesuatu yang membuat emosi kita kurang baik, segeralah Anda kembali pada logika Anda. Lebih utamakan dampak dari akibat tindakan yang akan kita ambil, apakah bermanfaat, atau malah merusak diri sendiri/ merugikan! Adakalanya Anda perlu menagis sekalipun dalam hati, adakalanya Anda bersedih dan tertawa. Ada kalanya Anda ingin menyerah tetapi, seseorang yang memiliki karakter bersikap tegas, ia akan selalu memotivasi dirinya sendiri untuk bangkit dan bersemangat kembali!
4). Berani menantang dirinya sendiri dengan tantangan yang positif.
Sesuatu dikatakan tantangan sebab mengandung resiko yang sangat tinggi/ besar. Resiko itu bermacam- macam tergantung dari bentuk apa tantangannya. Contoh resiko misalnya, resiko kematian tidak terduga, resiko gagal(modal besar resiko gagal besar), atau bisa jadi resiko mendapat malu didepan orang banyak. Dan masih banyak lagi.
Orang yang tegas, mengubah pandangannya bahwa resiko adalah bagian dari sebuah tantangan. Dan tantangan itu, akan menjadi indah jika dapat ditaklukkan. Dengan jalan, mau mencoba sebagai wujud usahanya agar tantangannya tertaklukkan!
5). Mempunyai konsep diri yang stabil.
Mengetahui siapa dirinya, mengetahui kekurangan dan kelebihannya, mengetahui bagaimana cara agar hidupnya berkembang lebih baik, mengetahui dirinya adalah bagian dari suatu wilayah atau organisasi, mengetahui apa hak dan kewajibannya, mengetahui identitas dirinya(agama, jenis kelamin, sil- silah keluarganya, dan cita- citanya), mengetahui masalalunya, dan bagaimana caranya untuk menjadikan masalalunya menjadi sebuah sejarah bagi dirinya bukan hambatan dalam mewujudkan cita- cita, dapat menghibur dirinya sendiri, dapat merasa bahagia bukan karena materi, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik minimal untuk dirinya sendiri, berpikiran positif, berperilaku yang positif dan berhasil menjadi dirinya sendiri. Semua itu bagian dari sedikit unsur pembangun kepercayaan diri.
Orang yang tegas, orang yang memiki ketegasan diri.
Sebagai manusia yang hidup di dunia, tak ada yang menuntut kita untuk selalu berlaku baik terus dan ….Selalu…Dan sebaik- baiknya dalam bentuk apapun tetap saja kita tidak akan mencapai pada batas kemaksimalan, sebab dasar manusia memang ditakdirkan tidak sempurna…
Kewajiban kita hanya satu, BERUSAHA SEMAKSIMAL MUNGKIN…….!
Bangunlah ketegasan Anda saat ini juga. Anda tegas dalam kebaikan atau kebenaran, aura Anda pasti akan tampak berwibawa! Keberhasilan dan kebahagiaan hidup pun akan mengiringi ayunan langkah kaki Anda, kemana pun Anda berada dan melangkah…


4.      WAC4NA R

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words -

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor Lapan dengan Prabowo dan Koalisi Permanen
Profesor Lapan Thomas Djamaluddin, ahli astrofisika, dengan tepat menjelaskan 4 X 6 dan 6 X 4 sesuai perspektif satu arahnya. Profesor Lapan itu, dengan cara pandangnya, mampu dengan tepat menjelaskan logika Prabowo dan koalisi permanen. Logika Profesor Lapan itu merupakan logika perspektif tunggal satu arah yang sama dengan yang dimiliki oleh Prabowo dan koalisi permanen. Bagaimana kesamaan logika itu dibangun yang dijelaskan oleh Profesor Lapan dan juga oleh Prabowo dan koalisi permanen?
Kesamaan 4 x 6 pertama. Profesor Lapan itu dengan tepat menggambarkan sejarah manusia sejak zaman purba yang membangun imajinasi konsep dan logika manusia dengan benda di sekelilingnya. Profesor itu menunjukkan bahwa konsep angka (4X6) dan (6X4) sebagai simbol jejeran benda atau binatang seperti batu, kerikil, kucing, babi, ayam, ikan yang ada di alam tempat tinggal mereka. Kesamaan dengan logika Prabowo dan koalisi permanen adalah bahwa dengan jejeran 6 parpol pengusung atau 63%, maka dalam cara pandang Prabowo maka akan menghasilkan kemenangan lebih dari 90 juta pemilih. Maka logika Prabowo protes di Mahkamah Konstitusi (MK) dan curhat bagaimana mungkin di satu TPS perolehan Prahara 0 (nol).
Kesamaan 6 X 4 kedua. Sejarah sembilan angka (1 sampai akhirnya 0) adalah sejarah peradaban manusia yang luar biasa dalam upayanya membuat atau membangun imajinasi atau logika terkait benda-benda atau binatang di sekeliling mereka. Kesamaan dengan Prabowo adalah sejarah Prabowo yang luar biasa untuk membangun imajinasi dan logika terpilih menjadi presiden dengan mengumpulkan jumlah suara manusia di Indonesia.
Kesamaan 4 X 6 ketiga. Menarik membahas perbedaan 4 X 6 dan 6 X 4. Profesor Lapan hanya menjawab perbedaan berupa fakta imajinasi konsep berupa urutan polkadot (titik-titik berjumlah empat dari atas ke bawah berjejer enam lajur dan titik-titik berjumlah enam dari atas ke bawah berjejer empat lajur). Profesor Lapan dengan tepat menggambarkan logika primitif ini. Prabowo dan koalisi permanen dalam tuntutan dan gugutannya ke MK terkait Pilpres hanya mampu menjawab beberapa kejadian yang sama (misalnya kecurangan di beberapa TPS) yang diimajinasikan ke dalam konsep sebagai terjadi di semua tempat merata di Indonesia.
Kesamaan 6 X 4 keempat. Yang disampaikan oleh Profesor Lapan itu sebenarnya tak salah dan juga tak benar. Tak salah jika angka dilihat sebagai bangunan obyek imajinasi atau angka dianggap obyek yang diwujudkan dalam imajinasi bentuk lain. Namun tak benar atau tak sahih jika angka dianggap konsep abstrak hasil dari ekstraksi wujud benda atau obyek yang diimajinasikan dalam bentuk simbol. Prabowo tak salah jika menggambarkan imajinasi sebagai presiden Republik Indonesia telah terbentuk ketika didukung oleh mayoritas partai, karena para parpol adalah perwakilan partai dan kursi parpol dianggap sebagai jumlah pemilih yang sama akan memilihnya sehingga akhirnya menghasilkan simbol bentuk lain: presiden RI yang dia gambarkan dan imajinasikan.
Kesamaan 4 X 6 kelima. Profesor Lapan itu hanya dengan tepat menjelaskan perbedaan pandangan atau perspektif satu arah. Jika jejeran dan barisan polkadot (atau titik-titik jejeran, sebagai pengganti jejeran kucing, atau binatang buruan) dilihat dari arah berbeda, bukan hanya dari depan, namun dari atas, maka penjelasan Profesor Lapan itu runtuh. Prabowo dan koalisi permanen dalam membangun kepentingan mereka mendasarkan pada kepentingan diri sendiri yakni para partai dengan satu perspektif diri mereka sendiri. Prabowo tak pernah memandang koalisi permanen dari perspektif di luar para partai anggota koalisi permanen apalagi rakyat. Maka logika kepentingan Prabowo dan koalisi permanen dipastikan akan runtuh.
Kesamaan 6 X 4 keenam. Profesor Lapan itu hanya memandang angka yang diimajinasikan dengan jumlah benda (titik-titik) sebagai konsep imajiner yang diwujudkan. Ini adalah logika dasar manusia sejak zaman perkembangan tentang ditemukannya angka, karena menggambarkan atau penggambaran jumlah benda tidak mampu lagi menampung kebutuhan manusia yang lebih imajinatif daripada sebelumnya. Prabowo secara primitif melihat rakyat sebagai deretan manusia dan Prabowo gagal membangun perspektif tentang kebutuhan rakyat yang semakin imajinatif dan ekspektatif daripada sebelumnya.
Kesamaan 4 X 6 ketujuh. Jika pada awalnya, manusia tidak menghitung benda dan binatang di sekelilingnya dan hanya menandai kesamaan benda, maka pada tahapan berikutnya kesamaan benda itu menimbulkan dibangunnya logika tentang jumlah dan angka. Awalnya adalah karena manusia membutuhkan benda (atau binatang dan tumbuhan) sesuai dengan kebutuhannya. Maka jumlah benda atau obyek hidup dan mati mulai dihubungkan dengan jumlah manusia. Misalnya, memburu binatang untuk seluruh kelompok akan ‘dihitung’ secara alamiah. Prabowo meyakini dnegan kampanye yang masif selama 15 tahun dengan menandai atau memberi tanda keanggotaan partai Gerindra kaan menghasilkan kesamaan pilihan yakni memilih Prabowo secara alamiah.
Kesamaan 6 X 4 kedelapan. Yang menarik adalah penjelasan Profesor Lapan itu menjelaskan dengan tepat perspektif atau cara pandang kebenaran, kesahihan, dan perspektif satu arah: yakni arah depan titik-titik berjejer dengan 6 lajur dan 4 lajur sebagai pembeda di atas kertas. Prabowo hanya memiliki perspektif satu arah dan tidak memandang dari berbagai arah sehingga kemenangan (atau kekalahan) hanya dihitung di atas kertas.
Demikianlah kesamaan pembenaran logika Profesor Lapan yang sangat cocok dengan logika Prabowo dan koalisi permanen dari perspektif logika politik.
Salam bahagia ala saya.


5.      WACANA 5

Claudius Edit

Mahluk hidup semacam manusia

Alkisah ASU!

Hus asu ki saru, saru asu? Asu saru? Ndak ada hubungan timball balik kan, sebuah hukum yang tabu ketika kita mengucapkan kata ASU. Asu itu segawon atau bahasa Indonesia yang mudah untuk dipahami semuanya asu itu anjing. Hewan cerdas yang bisa dilatih dan bisa mencintai kepada sang pemiliknya yang rela mengorbankan nyawanya demi membela pemiliknya, rasa cinta dan perhatian yang patut diteladani. Tapi perlu diingat bila anda memperlakukan asu itu secara tidak asuwi (kalau manusia manusiawi) , asu juga bisa jahat sama kamu, bahkan sampai menyerang untuk membunuh mu. Maka dari itu jadilah pelayan yang baik kelak suatu imbalan pasti akan datang menyambut segala perjuangan yang telah dikorbankan.
Tuh kan dari anjing aja ada hal yang patut untuk kita teladani. Kita manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang serupa dan secitra dengan Allah itu harusnya berahklak yang mulia. Kita ini manusia, makhluk sosial, kamu ndak bisa hidup sendirian loh, coba bayangin kamu tinggal di suatu pulau tanpa penghuni, tanpa tumbuhan, tanpa air. Hayyoo kamu betah berapa lama bakalan? Lebih dari 3 hari pasti nanti aku kasih gelas cantik. Aku juga manusia yang serupa dan secitra dengan Allah tapi aku juga tidak jarang luput jatuh dalam kebajikan, karena yang setan berikan itu pasti kenikmatan yang berujung kapahitan berbanding terbalik dengan yang Tuhan janjikan sebuah pengorbanan yang paasti kan berbuah hasil yang terkadang  tanpa kita sadari datangnya hal itu, yang sering kali membuat kita jatuh dalam dosa.
Jadi jangan malu kalau dibilang ”Dasar ASU!”. Balas dengan senyuman dan ucapan terimakasih. Mungkin orang yang tadinya marah terkesima, bukan terkesima karena ngeliat cewek cantik itu, ssttt itu pacar ku *padahal. Ah lupakan. Oke lupa! Yuk kita mulai belajar untuk merubah cara pandang kita untuk melihat segala sesuatu yang ada di dunia ini, lihatlah dari sisi positif yang dapat diambil dari segala hal, walau terkadang hanya satu poin dan akan melawan puluhan poin pada sisi yang sering membuat kita lemah. Kita adalah makhluk yang kuat dan tangguh, bangkit berdiri itu adalah sebuah ukiran yang tergores dalam hati kita dikala lemah.

6.      WACANA 6

Seuntai kata yang terurai- Lepas mengalir bagai mata air- Tak kuasa ku menahannya- Maafkan aku- "Bila mengusik masa itu.
Slogan-slogan Cinta - 2
Bicara soal cinta tidak akan pernah ada habis-habisnya, hanya mendengarkan saja terasa menyejukkan apalagi mampu mengurai makna cinta lewat kata-kata yang indah. Meski telah beratus bahkan berjuta orang telah lahirkan slogan-slogan tentang cinta, namun masih saja terus mengalir dan terlahir untaian kata-kata tentang sebuah indahnya cinta.
Itulah yang selalu menggelitikku untuk mencoba uraikan tentang slogan-slogan cinta ala Didiet Fals Beneran untuk edisi ke 2:
Sebelum membaca silahkan saja untuk melirik Slogan-slogan cinta (ku) yang ini :
http://muda.kompasiana.com/muda/2013/02/14/slogan-slogan-cinta-ku–533538.html
1. Cinta itu menumbuhkan hijau dedaunan (menyejukkan); bukan menumbuhkan benalu liar yang menjalar (menyakitkan)
2. Sejatinya Cinta itu penyatuan hati dan rasa cukup berjalan dengan diam kan alami mengaliri kesejukan. Tanpa banyak saling mengatur dengan omelan, telah saling pengertian.
3. Cinta itu materialis, karena kalau cuma makan tuh cinta, tak aka ada kenyang-kenyangnya.
4. Cinta itu lembut sentuhan meresap kerelung hati terdalam, bila sentilan yang tergelar kan hadirkan luka cakaran yang mengakar,  susah cari obat penawar.
5. Cinta itu gombal, kian digombalin kian mudah dikibulin.
6. Cinta itu sutra, kian diusap kelembutan, kian pasrah bongkokan.
7. Cinta itu soal rasa, peduli tangis dan tawa tetap saja berkecipak suka.
8. Cinta itu warna, putih itu lambangnya, suci itu kemurniannya, saling menjaga adalah percaya.
Sebaliknya bila cinta itu warna, hitam adalah pilihan, comberan namanya, mengalir di gang-gang selokan.
9. Ketulusan cinta tidak ada yang mampu menghentikan, semakin kau matikan kian tumbuh mengakar, semakin ditentang semakin terkembang.
10. Cinta itu ngga’ neko-neko, apa adanya, karena punyamu punyaku jua
11. Cinta itu mulia, bila mampu menjaga apa yang harus dijaga, kasih dan sayang akan senantiasa ada di dalamnya.
12. Hanya Cinta yang mampu menampung segalanya.
13. Cinta itu menghidupi, dari yang mau mati jadi ngga’ mati-mati, dari yang mati terasa hidup kembali.
14. Cinta itu bunga, kan bermekaran jika disiram kasih dan sayang, akan layu bila dipupuri benalu yang membelit liar dari kebohongan dan kebohongan
15. Cinta itu tak banyak aturan, selalu seia dan sejalan, karena arah mana keinginan telah sama-sama sepaham.
Selamat menggapai dan menikmati indahnya rasa yang terasa diantara 2 hati anak manusia.
Salam Cinta ala Didiet Fals Beneran.


7.      WACANA 7


Hobi "candid photo," suka traveling, dan senang membaca plus menulis. Pernah bekerja di perusahaan.

Mengapa Jawaban PR Anak SD itu 80% Salah?

Foto Lembar Jawaban Habibi (diambilkan dari akun Muhammad Erfas Maulana)
Sebuah kasus menarik. Seorang siswa SD bernama Habibi, mendapatkan tugas menyelesaikan PR (Pekerjaan Rumah) dalam soal matematika. Soal itu selengkapnya adalah:
1. 4+4+4+4+4+4
2. 6+6+6+6+6+6+6
3. 7+7+7
4. 9+9+9
5. 4+4+4+4+4+4
6. 8+8+8+8+8+8+8+8
7. 7+7+7+7+7+7+7+7+7+7+7
8. 3+3+3+3+3+3+3+3+3
9. 4+4+4+4
10. 2+2+2+2+2+2+2
Habibi diajari kakaknya bahwa kalau ada soal 4+4+4+4+4+4 maka itu artinya angka 4-nya ada enam kali, berarti ditulisnya 4 X 6, baru ditulis jawabannya yaitu = 24. Maka jawabannya semuanya sudah mengikuti petunjuk sang kakak. Itu harapan Habibi dan tentunya harapan sang kakak.
Ternyata, delapan jawaban dinyatakan salah oleh bu guru. Jawaban yang semestinya lantas dituliskan bu guru di samping. Untuk soal nomor 1 seharusnya ditulis 6 X 4, bukannya 4 X 6. Soal nomor 2, yang benar adalah 7 X 6, bukannya 6 X 7. Dan soal nomor 3 dituliskan jawaban yang benar, 3 X 7, bukan 7 X 3.
Yang benar hanya ada dua, yaitu soal nomor 6. Itu karena keberuntungan bahwa yang dituliskan adalah 8 X 8, yang kalaupun diputarbalikkan, ya tetap saja, 8 X 8. Juga soal nomor 9, yang ditulis dengan benar, yaitu 4 X 4. Karena sudah tidak bisa dibalik lagi, sebab sama saja.
Kalau yang nomor 6 diganti menjadi 8+8+8+8+8+8+8 dan soal nomor 9 diganti menjadi 4+4+4, maka Habibi akan memperoleh nilai 0 (nol) alias kosong. Sebab, Habibi akan menulis 8 X 7 untuk jawaban nomor 6 dan menulis 4 X 3 untuk jawaban nomor 9. Kedua jawaban ini keliru.
Mengapa bisa begitu?
Sang kakak (yaitu Muhammad Erfas Maulana, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Universitas Diponegoro) mengajarkan 4 X 6 ya sama saja dengan 6 X 4, yaitu hasilnya sama-sama 24. Hasilnya akan sama, meskipun caranya atau jalannya tidak sama.
Padahal di sisi lain, bu guru mengajarkan metode baru dalam pengajaran matematika. Dalam cara baru ini, caranya atau jalannya itu sama pentingnya dengan hasilnya. Hasil benar (misalnya 24) belum tentu dengan cara/jalan yang benar. Sebab 24 itu diharapkan dituliskan dengan 6 X 4, baru benar. Antara cara/jalan dengan hasil akhir, harus benar.
Nah yang hendak diraih dari pelajaran matematika ini adalah mendidik siswa untuk berpikir sistematis. Cara atau jalan yang benar itu dimaksudkan sebagai pemilihan proses yang benar.
Saya tidak ahli matematika, dan bukan guru matematika. Seingat saya, ada yang menjelaskan dengan istilah “himpunan” untuk menggambarkan 4+4+4+4+4+4. Digambarkan begini:

Lingkaran biru itu di sebuah himpunan. Dalam setiap himpunan ada isi empat bulatan putih. Maka dibacanya adalah ada enam himpunan yang masing-masing terdiri atas empat bulatan putih. Nah jumlah himpunan itulah yang harusnya dihitung. Sehingga cara menuliskannya adalah 6 X 4, yang dibaca ada enam himpunan berisikan empat bulatan putih, sehingga totalnya adalah 24 bulatan putih.
Itu cara membacanya yang didasarkan cara berpikir matematis. Maunya kurikulum adalah guru-guru mengajarkan cara berpikir sistematis dan logis melalui pelajaran matematika.
Yang jadi soal, adalah ketika siswa lupa pada cara berpikir himpunan saat di rumah, maka dia tanya kepada orang lain yang ada. Kebetulan orang lain itu kakaknya. Sang kakak dulunya tidak mendapatkan cara belajar matematika model sekarang. Sehingga dia menggunakan ilmu yang dia punyai, tentu saja seingat yang dia pernah pelajari di sekolah.
Saya sendiri produk Sekolah Dasar di Jakarta lulus tahun 1968. Jaman saya dulu itu, pelajaran berhitung disebut berhitung. Tidak disebut matematika. Tidak ada istilah himpunan di era saya. Sehingga saya pun sama dengan kakak Habibi yang menganggap 4 X 6 ya sama saja dengan 6 X 4.
Mengapa Sindonews.com yang mencoba menghubungi Muhammad Erfas Maulana belum mendapat respon? Mungkin saja sang kakak menyadari bahwa ada cara baru dalam menjawab soal matematika murid SD hari ini. Mungkin saja sang kakak menahan diri untuk tidak berkomentar lebih lanjut.
Apakah dia salah? Apakah dia keliru? Jawabannya tentu saja tidak. Lalu, apakah bu guru salah/keliru dalam memberi nilai 20 bagi Habibi? Tentu juga tidak. Tetapi, ada tetapinya.
Bu Guru yang bersangkutan tidak menyadari dampak psikologis pada sang siswa. Kalau semua teman-temannya benar, dia sendiri yang salah, maka dia beranggapan bahwa kakaknyalah yang salah. Kalau sampai sang adik menyalahkan kakaknya di rumah, maka sang kakak tidak terima. Dia akan berusaha menjelaskan bahwa caranya tidak salah.
Tidak saja kakaknya yang akan berjuang menjelaskan kepada adiknya bahwa caranya benar. Orang tua mereka mungkin akan berjuang menjelaskan dan menenangkan kedua anak mereka.
Apalagi sekarang soal itu sudah menarik perhatian beberapa ribu orang via Facebook.
Akhirnya kita harus melihat dengan jeli. Bu guru yang bersangkutan hanyalah salah satu dari sekian ribu guru SD di negeri ini yang mengajarkan matematika cara baru. Komunikasi menjadi penting. Guru-guru SD yang sudah dibekali dengan psikologi anak, tentunya tidak boleh melupakan bahwa mereka harus bijak menyampaikan penjelasan ketika siswa mereka ternyata menggunakan cara lama yang juga benar.
Para Kepala Sekolah dan para pejabat dari Dinas Pendidikan di masing-masing Kota semestinya harus mewaspadai hal-hal kecil ini. Meski kecil, soal ini besar bagi pengembangan kejiwaan anak-anak.
Semoga saja semua pihak yang berkepentingan menjadikan kasus Habibi ini sebagai pembelajaran.


8.      WACANA 89


Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Kenapa Ahok Bilang, “2017, Bye, Bye, Jakarta”?
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan mempercepat beberapa program unggulan Ibu Kota dalam sisa tiga tahun pemerintahannya. Salah satunya adalah penerapan transaksi non-tunai di Pemprov DKI.
Misalnya, pembayaran retribusi pedagang kaki lima (PKL), penghuni rusun, electronic road pricing (ERP), pembayaran tarif transjakarta, dan gaji penyapu jalan.
“Semua program seperti ERP dan transaksi non-tunai saya targetkan (terealisasi) sempurna tahun 2016. Tahun 2015 mulai diuji coba, 2016 (program berjalan) sempurna, dan tahun 2017 saya bye-bye, sudah enggak di Jakarta lagi, semua (program) sudah beres,” kata Basuki, di Plaza Mandiri, Jakarta Selatan, Jumat (12/9/2014).
Kenapa Ahok bilang, “2017, bye, bye, Jakarta?”
Sebelumnya, Ahok mengatakan setelah keluar dari Partai Gerindra, dia belum berpikir untuk pindah partai mana pun. “Dalam perkawinan, kalau cerai, juga kan ada masa iddah-nya? Masa langsung kawin?” Begitu kira-kira yang Ahok katakan, ketika ditanya wartawan, apakah diaakan pindah ke papol lain.
Apakah Ahok kapok berpolitik? Apakah Ahok kapok menjadi pejabat negara? Apakah Ahok kapok mengurus Jakarta, maka itu setelah masa jabatannya sebagai gubernur DKI Jakarta habis di 2017, dia akan mundur?
Jika demikian yang terjadi, maka sama berarti dengan kemenangan akhirnya jatuh pada pihak-pihak yang anti-Ahok selama ini. Seperti Haji Lulung, dan M. Taufik. Mereka akan tertawa terbahak-bahak menyaksikan akhirnya berhasil menekan Ahok, sehingga dia tak tahan lagi, akhirnya menyelamatkan diri keluar dari dunia politik dan pemerintahan. Pertarungan pun dimenangkan oleh kuasa kegelapan.
Sebaliknya, kita yang sudah senang adanya pejabat-pejabat tinggi berintegritas, tegas, bersih, dan jujur akan sedih, karena mereka berkurang satu, yaitu Ahok. Bahkan warga DKI Jakarta bisa lebih sedih lagi, seandainya tidak ada pimpinan pengganti yang berkarakter seperti Ahok atau Jokowi.
Saya yakin, bukan itu yang dimaksud Ahok. Karena Ahok sendiri berkali-kali pernah mengatakan, mengutip pesan almarhum ayahnya, bahwa untuk bisa mensejahterakan sebanyak mungkin rakyat, serta melawan pejabat (yang tidak benar) adalah menjadi pejabat. “Orang miskin jangan melawan orang kaya, orang kaya jangan melawan pejabat”, itulah ucapannya meniru pesan ayahnya yang mengutip falsafah dari Khong Fu Chu. Kalau pejabatnya tidak benar tentu akan menindas dan memeras rakyatnya, untuk mengatasi pejabat seperti ini, harus bisa menjadi pejabat yang lebih tinggi darinya. Itulah visi dan misi Ahok ketika bercita-cita menjadi pejabat. Kini itu dipraktekkan dengan sungguh-sungguh.
Jadi, tak mungkin Ahok akan keluar dari dunia politik, atau tidak mau menjadi pejabat lagi karena kapok mendapat tekanan dan serangan terus-menerus dari kelompok-kelompok pejabat tidak benar, berkarakter preman dan korup, penindas dan pemeras rakyat, terutama rakyat kecil. Hati nurani Ahok pasti masih terus memanggilnya untuk terus mengabdi kepada rakyat banyak melalui jabatannya sebagai pejabat tinggi negara. Selain itu, Ahok juga tipe petarung bernyali besar, yang tidak bisa digertak dengan cara-cara kekerasan (ala preman).
“Kalau tidak suka dan mau duel sama saya, ayo, saya beli. Tidak usah santet. Satu lawan satu kalau jantan. Sudah kepalang tanggung!” Itulah contoh karakter Ahok yang pantang takut demi membela rakyatnya. Ucapan ini disampaikan ketika menemukan lagi penyelewengan masih saja terjadi di Pemrpov DKI Jakarta. Kali ini mengenai masih terjadinya penghuni yang tak berhak tinggal di rumah susun bersubsidi. Hal ini diketahui ketika meresmikan pembayaran sewa rumah susun bersubsidi menggunakan virtual account Bank DKI Jakarta di Rumah Susun Marunda, Kamis, 4 September 2014.

Gambar plesetan yang pernah beredar di BBM
Serangan yang dilakukan oleh Ketua DPD DKI Jakarta Partai Gerindra M Taufik yang mau melaporkan Ahok ke polisi, dan Wakil Ketua DPRD DKI dari Fraksi PPP Abraham Lunggana alias Haji Lulung, yang menyatatakan tekadnya untuk membinasakan karier Ahok sebagai Wakil Gubernur, dan mencegahnya menjadi Gubernur, sama sekali tidak menyurutkan nyali Ahok seinci pun. Karena dia tahu konstitusi masih bisa ditegakkan di negeri ini. Masih jauh lebih banyak orang benar, rakyat dan pejabat negara yang baik, yang siap membelanya.
Lalu, pertanyaannya sekali lagi, kenapa Ahok bilang, “2017, bye, bye, Jakarta?”
Pertama, karena Ahok konsisten dengan pernyataan dan tindakannya yang secara tegas menolak pilkada oleh DPRD itu, sehingga dia keluar dari Partai Gerindra. Kalau 2017, dia masih mau mencalonkan diri menjadi gubernur DKI lagi, berarti Ahok harus berhadapan langsung dengan DPRD DKI untuk dipilih atau tidak dipilih. Ahok tidak sudi hal itu terjadi. Sekalipun seandainya besar peluangnya dipilih oleh DPRD DKI, Ahok tetap tidak sudi, dia menyatakan, dia tak sudi menjadi budak DPRD DKI. Dia hanya mau menjadi budak dari rakyat.
Kedua, Ahok melihat karier di dunia politiknya masih sangat cemerlang untuk bisa naik ke posisi yang lebih tinggi lagi, posisi puncak. Yaitu, ke kursi RI-1 atau RI-2. Dengan kata lain Ahok berpeluang besar ikut dalam bursa pilpres 2019.
Jika Jokowi, masih mencalonkan diri lagi untuk kedua kali di pilpres 2019, maka calon wakil presiden yang paling berpotensi dan paling cocok berpasangan dengan Jokowi adalah Ahok. Hal itu sudah mereka rasakan bersama ketika bersama-sama memimpin DKI Jakarta. Jusuf Kalla (JK) sudah tidak mungkin lagi, karena faktor usia. Maka, besar kemungkinan bekas dwi-tunggal pimpinan DKI Jakarta itu akan bersatu kembali di pilpres 2019. Jika menang, mereka akan menjadi dwi tunggal baru pimpinan Republik Indonesia.
Jika Jokowi tidak mencalonkan diri lagi di pilpres 2019, maka Ahok-lah akan maju sebagai calon presidennya. Tetapi, lebih memungkinkan yang terjadi adalah Jokowi akan mencalonkan diri kembali di 2019. Maka itu, lebih berpeluang pula, Ahok menjadi calon wakil presidennya.
Nanti, jika Jokowi berakhir masa jabatannya di 2024, dan tidak bisa mencalonkan dirinya lagi (karena sudah dua periode), pada saat itulah Ahok memastikan diri maju sebagai calon presiden.
Semuanya itu memang masih lama, tetapi sudah harus dipikirkan dan ditanam benih-benihnya yang terbaik mulai dari sekarang.
Ambisi Ahok untuk menjadi lebih tinggi lagi, bahkan tertinggi di negeri ini, yaitu menjadi orang nomor 1 atau nomor 2 di negeri ini, bukan karena dia gila kuasa, tetapi demi lebih besar lagi, terbesar pengabdiannya kepada bangsa dan negara, kepada rakyat di seluruh Indonesia. Untuk menjadi budak rakyat Indonesia secara nasional. Supaya antara lain untuk lebih bisa mengatasi lebih banyak lagi pejabat-pejabat negara yang tidak benar, serta bersamaan dengan itu menciptakan lebih banyak lagi pejabat-pejabat negara yang benar.
Untuk mencapai semuanya itu, Ahok harus melepaskan peluangnya untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk kedua kalinya, dengan pilkada langsung oleh rakyat, maupun pilkada oleh DPRD, karena selain alasan tersebut di atas jika pilkada oleh DPRD DKI (tidak sudi dipilih oleh dan menjadi budak DPRD DKI), juga karena jika dia menjadi Gubernur DKI periode 2017-2022, maka itu akan “bertabrakan” dengan periode masa jabatan presiden atau wakil presiden yang baru (2019-2024). Dia harus mundur terlebih dulu, sehingga terjadi lagi kasus seperti mundurnya Jokowi di tengah masa jabatannya.
Itulah sebabnya, Ahok mengucapkan, “2017, bye, bye, Jakarta”. ***

Artikel terkait:
Sumber berita:



9.      WACANA 9

Firman Pratama

Seorang pakar pikiran dan praktisi pendidikan yang membuat dua buah metode dahsyat yaitu Alpha Telepati.

Cara Mudah Mengatasi Anak yang Takut Tidur Sendiri

                  “Pak Firman, anak saya sering merasa ketakutan kalau tidur sendiri, dia sering bilang kalau suka melihat penampakan yang seram, sehingga membuat dia selalu tergantung kepada saya, sayapun pergi ke seorang uztad untuk menanyakan masalah ini, tetapi beliau mengatakan bahwa anak saya memiliki kelebihan sehingga perlu disyukuri dan nanti lama-lama menjadi berani, tetapi saya sebagai ibunya merasa hal ini tidak baik sebab malah membuat anak saya jadi sering takut” ungkapan seorang ibu kepada saya melalui teleponnya baru saja. Masalah seperti ini sering saya temui, ketika seorang ibu yang begitu sayang kepada buah hatinya mengeluhkan anaknya yang sering takut untuk tidur sendirian, Hal ini terjadi bukan karena gangguan2 mistis, sebenarnya terjadi karena PIKIRAN anak itu sendiri.
Ketika anda sebagai orang tua pergi ke spiritual untuk mengatasi masalah ini, maka pasti dikatakan bahwa anak anda mendapat gangguan-gangguan mistis, ya tentu saja. Namanya juga spiritualis, pasti selalu mengkaitkan ke hal itu. Tetapi, sebenarnya itu bukan karena gangguan aneh, tetapi karena “imajinasi liar” anak-anak yang belum terkontrol. Seperti masalah yang mirip dengan kasus diatas. Anak-anak menjadi takut tidur sendiri, kemudian mengatakan kepada orang tuanya bahwa melihat sosok yang seram dan sebagainya, apa yang dia lihat memang “benar dan nyata” tapi menurut anak itu. Kenapa anak itu bisa mengatakan seperti itu? karena mendengar dari orang, menonton tv,atau mungkin anda sendiri sebagai orang tua yang memasukkan sugesti seram itu. Lho kok bisa orang tua memasukkan sugesti seram?
Ketika anak-anak pergi bermain sampai sore menjelang maghrib, banyak dari orang tua yeng mengeluarkan “sugesti ancaman”, ya kan? contohnya, “kalau sudah mau maghrib pulang, nanti kalau masih main belum pulang digendong ama kuntilanak lho”. Coba deh perhatikan kalimat ini, memang sugesti ini mampu menggiring anak untuk pulang dan mengurangi mainnya, tapi apakaha anda sadar bahwa anda sudah memasukkan sugesti seram, apa itu? “kuntilanak”, pasti anda menjelaskan kepada anak anda apa itu “kuntilanak” atau “wewe gombel”, dan pasti anda menjelaskan dengan seram dan menakutkan, benar kan?
Kalau begitu, siapa yang menanamkan imajinasi seram? orang tua kan kepada anaknya. Lalu ketika seorang anak yang memang secara alamiah masih belum bisa membedakan mana itu imajinasi dengan realitasnya mengalami ketakutan saat malam?ketakutan saat tidur sendirian?ketakutan saat ke kamar mandi? anak yang disalahkan? atau anak yang harus dibawa ke saya sebagai spesilias pikiran?
Saya sering mengatakan kepada ibu yang mengeluh hal ini, bukan anaknya yang perlu diperbaiki pikirannya, tetapi ibunya juga hehe. Sebab pengaruh ibu ke anak jauh lebih kuat daripada pengaruh saya sebagai orang luar kepada anak anda. Benar kan?
Pemahaman seperti ini perlu dimiliki oleh para orang tua, agar tidak memberikan sugesti yang menyeramkan, sebab nanti masuk ke pikiran bawah sadar anak dan menyebabkan ketakutan bahkan sampai seolah-olah melihat. Dan salahnya malah membawa ke orang2 pintar yang menguatkan kalau yang dilihat adalah adalah hal aneh, padahal itu semua adalah pikiran anak itu sendiri.
Apakah ini berlaku dianak-anak saja?tentu tidak, bagi orang dewasa juga seperti itu, ketika sudah sering menerima informasi yang menyeramkan melalui televisi, omongan teman, buku dan lain-lain, maka itu yang muncul seolah-olah ada, sekali lagi “seolah-olah ya” hehe.
Lalu bagaimana mengatasi ketakutan ini kepada anak kecil?maka mulai sekarang ubahlah kalimat sugesti ancaman menjadi sugesti yang menyenangkan, misalnya yang tadi anda sering mengatakan “ayo kalau sudah mau maghrib pulang nanti ada wewe” nan sekarang anda ganti “ayo kalau sudah mau maghrib pulang, nanti dirumah bunda buatkan puding” atau “ayo kalau sudah mau maghrib pulang, shalat biar Tuhan sayang ama kamu terus nyuruh malaikat nemenin kamu” mudah kan?


10.  WACABNA 10

If success were easy, must have been many successful people. http://hartonotasirirwanto.blogspot.com/
Ilmu Logika: Prinsip Bernalar Benar
      Sebagian orang melarang orang lainnya untuk belajar logika. Bahkan sebagian lainnya malah mengkafirkan mereka yang belajar logika. Mengapa demikian? Tentu hal tersebut mengundang pertanyaan; apa sebenarnya yang dipelajari dalam ilmu logika. Apakah ilmu logika adalah “ilmu hitam” yang menyesatkan bahkan membuat yang beriman menjadi kafir? Atau malah sebaliknya, dengan mempelajari ilmu logika seseorang akan semakin teguh keberimanannya. Yang jelas, kita tidak dapat menghukumi sesuatu tanpa mengetahui sesuatu yang kita hukumi tersebut. 

Ilmu Logika, Pada Mulanya
      Logika berasal dari bahasa Yunani, yaitu logos yang berarti sabda, perkataan atau pemikiran. Logika telah digunakan oleh Socrates, Plato bahkan para pendahulunya untuk membangun argumentasi yang persuasif sembari menolak argumentasi orang lain. Namun logika dipahami sebagai suatu ilmu yang sistematis, dikarenakan upaya pemikiran Aristoteles (384-322 SM). Itulah mengapa Aristoteles dikenal sebagai bapak ilmu logika (Bertrand Russell; History of Western Philosophy. 1974, hlm 206).
      Dari Yunani, logika kemudian diadopsi oleh berbagai budaya, daerah dan bahkan agama. Di Yahudi kita mengenal berbagai filosof dari yang tidak popular hingga yang paling popular yaitu, Karl Marx. Thomas Aquinas pendeta sekaligus filosof zaman pertengahan mencoba memadukan agama Kristen dengan filsafat, termasuk logika yang merupakan bagain dari filsafat. Sementara dalam tradisi Islam, pembelajaran logika mendapat puncaknya sekitar abad ke 2 Hijriyah atau abad ke 7 Masehi, di mana buku-buku Yunani khususnya logika-filsafat diterjemahkan ke dalam bahasa Arab yang dipelopori oleh Hunain bin Ishaq (Murtadha Muthahhari: Belajar Konsep Logika. 2012)

Obyek Kajian Logika
      Obyek kajian atau hal yang dipelajari dalam ilmu logika terbagi atas obyek materiil yaitu pikiran (bernalar) dan obyek formil yaitu aturan berpikir (bernalar) benar. logika adalah ilmu yang mempelajari tentang prinsip berpikir benar. Dalam perkembangannya kemudian, definisi logika tersebut dikritik oleh Irving M. Copy yang berpendapat bahwa logika bukan mempelajari prinsip berpikir benar. Karena berpikir juga merupakan obyek kajian ilmu psikologi. Berpikir adalah proses kerja akal untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui atau untuk memperjelas pengetahuan yang samar. Mengingat, melamun dan merenung tentu merupakan bagian dari aktivitas berpikir yang bukan termasuk obyek kajian logika. Aktivitas berpikir yang merupakan obyek kajian logika adalah penalaran. Penalaran adalah suatu jenis berpikir yang bertugas menyimpulkan premis-premis yang ada. Maka, definisi ilmu logika adalah ilmu yang mempelajari tentang prinsip bernalar benar (Irving M. Copy; Introduction to Logic. 1978, hlm 3).
Perbedaan Pengetahuan dan Ilmu
Apakah pengetahuan dan ilmu adalah dua terminologi yang memiliki satu makna yang sama? Pengetahuan adalah hadirnya realitas yang ditangkap oleh akal. Misalnya realitas batu. Apa saja yang ditangkap akal terhadap batu, itulah pengetahuan kita tentang batu. Ditinjau dari penghukumannya, pengetahuan kemudian terbagi ke dalam pengetahuan yang masih sebatas konsep (belum dapat dihukumi) seperti pada proposisi “batu itu” atau “jangan batu”. Dan pengetahuan yakin (sudah dapat dihukumi) seperti pada proposisi “batu itu hitam” atau “jangan memakan batu”. (Hasan Abu Ammar; Ringkasan Logika Muslim).
      Alasan detail mengapa suatu realitas ditangkap akal (diketahui) kemudian disebut sebagai ilmu. Seyakin apapun kita terhadap suatu realitas, seperti pada propisisi “batu itu keras” namun kita belum menemukan alasan detail mengapa “batu itu keras” maka hal tersebut masih dikatakan pengetahuan, bukan ilmu. Jadi pengetahuan merupakan suatu informasi universal yang tidak sistematis, sementara ilmu adalah informasi partikular (mendetail) yang sistematis. Dalam logika modern, ilmu terbagi ke dalam ilmu a posteriori dan ilmu a priori. Ilmu a posteriori merupakan ilmu yang diperoleh dari pengalaman inderawi atau eksperimen empiris. Seperti ilmu kimia, kedokteran, ekonomi, sosiologi dan ilmu ilmiah lainnya, baik yang bersifat alamiah, maupun sosial. Sementara ilmu a priori adalah ilmu yang diperoleh tanpa pengalaman inderawi dan eksperimen empiris, namun bersumber dari akal sendiri seperti filsafat, hukum, etika, termasuk pula logika (Mundiri; Logika. 1994, halm 7).

Sumber Ilmu Pengetahuan
      Pengetahuan dapat kita peroleh melalui apa yang disebut alat atau instrumen pengetahuan. Kalau dalam musik, instrumen musik adalah gitar, drum, terompet dan sebagainya. Instrumen adalah sesuatu yang dipergunakan untuk memperoleh sesuatu yang lain. Maka gitar adalah alat yang digunakan untuk memperoleh musik. Lalu, apa saja instrumen pengetahuan? 

1. Panca Indera
      Tahapan pertama sekaligus yang paling sederhana untuk memperoleh pengetahuan adalah melalui panca indera. Kedudukan kelima panca indera ini sangat penting dalam proses memperoleh pengetahuan meskipun indera penglihatan (mata) dan pendengaran (telinga) seringkali disebut-sebut sebagai indera yang paling penting. Namun kata Aristoteles; “ Kehilangan satu indera, kehilangan satu ilmu pengetahuan. “ orang yang buta tentu takkan dapat melihat warna. Sebagaimana orang yang tuli tentu takkan dapat mendengar bunyi. Paham yang menganggap bahwa indera adalah alat pengetahuan yang benar disebut kaum empiris. Betatapun pentingnya, indera terkadang memberi pengetahuan yang salah. Seperti kayu yang bengkok di dasar air ternyata lurus ketika diangkat ke permukaan. Itu berarti dibutuhkan instrumen pengetahuan lain yang dapat menutupi kelemahan dan kesalahan indera.

2. Khayal atau Imajinasi
      Alam khayal atau imajinasi mampu menangkap bentuk-bentuk sesuatu dan warna yang diperoleh dari indera. Gunung emas yang tak ada di dunia nyata, dapat tertampung di alam khayal. Bidadari bersayap yang tak ada di dunia nyata, dapat terbayang di alam khayal. Kekasih Anda yang jauh disana, dapat hadir di alam khayal. Bahkan bagi Anda yang belum mempunyai kekasih di dunia nyata, dapat membayangkan bermanja ria bersama kekasih di alam khayal. Itu semua dapat terjadi karena alam khayal juga berfungsi menggabungkan bentuk-bentuk segala sesuatu. Fungsi yang lain yaitu membandingkan. Kita dapat mengatakan yang ini lebih tinggi dari yang itu ketika kita membandingkannya di alam khayal. Seniman seperti Picasso dan Leonardo da Vinci sering menggunakan imajinasinya. Bahkan Wright bersaudara mengawali rancangan pesawatnya di alam khayal. Mereka menggabungkan bentuk burung serta teknologi mesin dan besi.

3. Akal
      Instrumen akal dibagi atas dua bagian; akal murni (rasio) dan konsep akal jatuh (hati). Perbedaannya terletak pada apa yang diperolehnya. Hati menangkap hal-hal yang sifatnya partikulir, subyektif dan relatif seperti perasaan senang, sedih, lapar, cinta, benci dan marah. Sementara akal murni menangkap hal-hal yang sifatnya universal, obyektif dan mutlak. Persamaan keduanya terletak pada kemampuannya menangkap hal-hal yang abstrak atau tidak dapat diinderai. Keduanya juga mampu menangkap subtansi, intisari atau nama-nama segala sesuatu. Tidak sedikit ilmuwan, agamawan dan filsuf yang berpendapat bahwa inti dari kemanusiaan adalah akal. Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles; manusia adalah binatang yang rasional atau yang mengoptimalkan akalnya (Murtadha Muthahhari; Pengantar Epistemologi Islam).

Manfaat Mempelajari Ilmu Logika
      Dalam melakukan atau mempelajari apapun, manusia yang bijaksana tentunya mempertanyaan manfaat dalam melakukan atau mempelajari sesuatu tersebut. Apa manfaat mempelajari ilmu logika? Kita tidak mungkin mendapatkan hasil yang benar, tindakan yang benar dan perkataan yang benar, jika tidak di mulai dari berpikir benar. Karena berpikir adalah awal mula terciptanya segala sesuatu. Logika hadir sebagai pengatur cara berpikir seseorang hingga cara berpikirnya menjadi benar. Setelah cara berpikirnya benar, barulah perkataan, tindakan dan hasil yang didapatkan juga dapat ikut benar. Bagaimana bisa kita berbicara mengenai perihal yang benar dan yang salah tanpa mengetahui bagaimana cara berpikir benar. Jadi kurangi atau bahkan berhenti berbicara, komentar dan bertindak, jika tidak diawali dengan berpikir (bernalar) benar.
      Imam ‘Ali as. pernah berkata : “ Ilmu adalah cahaya yang Allah Swt. berikan kepada hati yang Ia kehendaki “. Itulah sebabnya mengapa kita perlu berhati bersih untuk mempelajari suatu ilmu. Ilmu logika merupakan ilmu yang sangat tepat manakala kita menjadikannnya landasan pengetahuan dan pembelajaran. Agar ke depannya, dalam mempelajari segala sesuatu, kita bisa menalar benar atau salahnya sesuatu tersebut. Ilmu logika adalah ilmu yang berguna untuk mengatur dan mengarahkan kita kepada cara berpikir (bernalar) yang benar. Apakah setelah kita mempelajari ilmu logika cara berpikir menjadi selalu dan mutlak benar? Tidak juga! Kita dapat menjawabnya dengan jawaban nadiqh, yaitu jawaban yang berupa pertanyaan balik. Bagaimana dengan kita yang belajar bahasa Indonesia tapi masih banyak kesalahan dalam penggunaannya sehari-hari? Hal ini sangat bergantung pada sejauh mana penerapan kaidah-kaidah dari sang pembelajar ilmu logika tersebut.
Selamat bernalar benar!

11.  WACANA 11

Soal 4 x 6, Saat Matematika SD Diperkosa Media

Sudah banyak yang membahas, bahkan memperkosa logika 4 x 6 = 6 x 4 yang dianggap ‘rancu’. Banyak pula yang berkomentar sesuai prism (sudut pandang) mereka sendiri. Dan artikel ini pun sebenarnya serupa, namun tidak sama. Tidak ada yang coba saya analisa dengan kuotasi atau formula Matematis. Tidak pula saya akan bedah logika yang secara umum sudah bisa terbaca akan soal 4 x 6 = 6 x 4, atau apalah. Tidak pula saya menjustifikasi atau menyalahkan sebuah sistem sengkarut pendidikan. Atau secara spesifik Mapel Matematika di SD atau bahkan guru yang memberi nilai 20. Bukan, bukan itu.
Sebuah prism (sudut pandang) yang cenderung memperkosa satu ranah ilmu saya fikir sering terjadi. Seperti ranah Dekonstruksi yang dulu sempat diperkosa sesadis mungkin oleh para linguist. Para profesor Emeritus di Cambridge sana, banyak yang mentah-mentah menolak ranah Dekonstruksi. Sebuah ranah yang cenderung sesat dan jauh dari universalitas dan ontologis ilmu. Ranah yang juga merancukan aliran Filosofi Barat yang sudah terlalu ‘dominan’. Merancukan antara subjek logosentrisme dengan istilah inter-textualitas. Sehingga, saya pun sempat ‘bersitegang’ dengan ilmiah dengan pak Nararya menyoal Dekosntruksi ini.
Bukan, saya pun tidak mencoba menyamakan ‘level’ logika berfikir ilmu Derrida dengan Matematika anak SD. Karena toh, saya tidak mencoba membahas hal tersebut. Saya pun minim pemahaman dalam Matematika. Cukuplah artikel atau berita yang ada membahas hal tersebut. Walau terlihat agak cemplang atau tidak setara, sejatinya ada hal yang serupa dari analogi Dekonstruksi dengan isu 4 x 6 = 6 x 4. Kedua-duanya sama-sama diperkosa dan diadili secara masif. Namun, berbeda cakupan kontekstualnya.
Rumus sengkarut logika 4 x 6 = 6 x 4 sudah diperkosa dan diadili banyak sekali prism. Ada kandidat doktor fisika, ada pemerhati pendidik, ada pendidik itu sendiri, atau budayawan atau pengamat ilmu sosial. Namun, yang saya lihat ‘pelaku utama’ pemerkosa logika 4 x 6 = 6 x 4 disini adalah media, khususnya media sosial. Secara viral (membabi buta) setelah hasil foto dari hasil PR Matematika yang ternyata hanya mendapat 20 diunggah di Facebook. Ramai dan riuh, akun dan pengguna medsos menanggapi dan ‘memperkosa’. Bahkan, sampai diadili menurut saya. Ada yang sampai bilang gurunya yang bloon, walau secara eufemis. Dengan dalih logika, pola himpunan hitung, profesionalitas kompetensi pedagogis, dll. Yang intinya, cuma sekadar menjustifikasi guru SD yang memberi nilai 20 itu bloon.
Atau yang berpandangan netral dan akhirnya pola fikir universalis ala pluralis mendominasi. Walau Matematika itu ilmu eksakta, namun dengan isu ini Matematika menjadi ilmu sosial. Bahkan cenderung masuk ilmu sosial budaya. Dimana, komentar, berita atau opini tidak jauh meyalahkan sistem pendidikan kita. Beragam dalih dan preposisi terlontar. Baik sekadar opini atau mengalaminya sendiri. Kenetralan justifikasi dengan menyalahkan sistem lebih dianggap baik. Karena toh sistem tidak akan menuntut balik. Netralitas opini yang lebih mengacu sisi humanis. Manusia tempatnya salah dan lupa. Maka, sebaiknya kita semua menyalahkan sistem.
Media, Si Buruk Rupa Berkedok Pangeran Tampan
Demam medsos di Indonesia sepertinya sudah sampai taraf panas-demam. Semua yang heboh dan trending di medsos, kini menjadi berita mainstream. Utak-atik redaksi dan analisa sudah menjadi bahan gunjingan media mainstream. Prism kelompok dan golongan pun ramai-ramai memperkosa berita atau isu yang menggejala. Serupa dan masih sering terjadi, berita hoax medsos menyoal Capres dan Presiden terpilih. Hingga saat ini masih muncul di media mainstream melalui referensi medsos. Penyebaran menjadi viral ketika akun memiliki ribuan atau jutaan teman atau follower. Apalagi, ada corong media maintream yang membekingi salah satu golongan.
Isu logika Matematika SD 4 x 6 = 6 x 4 saya kira lebih diperkosa media. Sedang saya, Anda dan kita semua adalah penikmat adegan pemerkosaan logika ini. Kita menikmatinya dengan prism kita sendiri. Semua berkomentar dan semuanya berdalih. Salah? Tidak. Benar? Juga tidak. Namun, itulah media. Isu-isu kritis seperti ini adalah honeypot (daya tarik) suatu berita. Isu kritis yang bukan kritis, namun berbau subjektifitas atau nasib hidup. Seperti isu pembolehan aborsi, nasib dokter yang malpraktik, TKW yang hendak dipancung. Isu-isu subjektif ini akan lebih berasa manis saat ada isu SARA terlibat. Seperti tuduhan-tuduhan (bluffing) SARA terhadap Jokowi atau Ahok. Isu yang menjadi honeypot media.
Logika Remeh Yang Tidak Sekadar Temeh
Lalu kenapa isu 4 x 6 ini menjadi subjektif? Pertama, medsos awal pengunggah bersifat subjektif, Facebook. Dimana kasus ini berasal. Facebook serupa tempat curhat dan uneg-uneg dimuntahkan. Hampir semua status atau post berbau subjektifitas. Dan, pengunggah logika Matematika 4 x 6 = 6 x 4 saya lihat mencoba menumpahkan kekesalannya pada guru SD adiknya. Lalu secara viral tersebar. Dan media mainstream menyoroti. Voalah, dalam beberapa waktu saja, isu ini melebar dan diperkosa banyak prism. Mulai dari sudut pandang filsafat logika, sampai ilmu sosbud, bahkan politis dan birokratis digunakan untuk memperkosa isu ini.
Kedua, karena subjek anak SD yang cenderung lemah dan penurut juga menjadi bahan bakar isu 4 x 6 = 6 x 4 ini. Anak SD atau anak-anak kita ke depan, tentunya sulit membantah apa yang menjadi otoritas guru. Namanya orang dewasa satu-satunya di kelas. Maka murid SD menganggap ia benar, benar segala benar. Jarang saya kira ada murid SD yang kritis dan berani menyanggah gurunya. Kecuali, dari sejak kecil sudah dilatih hal demikian. Isu kepolosan dan manutnya anak SD menjadi bahan bakar agar isu ini terus diperkosa. Mungkin sebentar lagi, ada talkshow televisi swasta atau berita yang akan mengundang guru SD ‘tersangka’. Sekaligus profesor Matematika plus pengamat pendidikan kompeten untuk berbicara. Intinya, ‘meluruskan’ isu ini.
Sehingga, isu subjektifitas dan kepolosan anak SD menjadikan isu ini semena-mena diperkosa di media. Melalui media sosial, lalu ke media maintream. Logika sederhana 4 x 6 = 6 x 4 yang jika dianalogikan dengan ranah Dekonstruksi yang sudah berpuluh tahun ada, mungkin berbeda. Dekonstruksi tidak disoroti media sosial atau mainstream. Tapi lebih ‘ganas’ lagi, dikuliti ilmu hebat dan konservatif filsuf ilmuwan Barat. Dan ia bertahan. Walau logika ‘remeh’ 4 x 6 = 6 x 4 sudah ada sejak Matematika ada. Namun, karena medsos yang dijejali subjektifitas dan kepolosan anak SD, maka diperkosa ramai-ramailah logika ini.
Akhirnya, saya juga memperkosa isu ini pula. Dengan prism saya. Mencoba melihat sengkarut tanda-petanda yang sengkarut dalam logika sederhana ini.
Salam,
Solo, 23 September 2014


12.  WACANA 12

Khus Indra

Merawat Identitas Melalui Karya Seni

Monumen Bong Belung
Melihat foto-foto hitam putih dengan gambar tengkorak manusia, membawa nuansa menyeramkan sekaligus kesedihan yang tertanam. Masing-masing foto tersebut dimasukan ke dalam kotak-kotak. Lalu, di samping kanan-kiri foto itu diapit dengan dua buah lampu merah elektrik yang diibaratkan seperti lilin. Sebanyak 191 kotak itu disusun melingkar bak sebuah monumen.
Itulah monumen karya seniman FX Harsono yang berjudul Monumen Bong Belung (Monumen Kuburan Tulang, 2011). FX Harsono kembali dengan membawa nuansa yang selalu mengupas mengenai identitas dirinya sebagai orang Tionghoa Indonesia. Kali ini, ia hadir di Galeri Selasar Sunaryo Art & Space, Bandung, dengan menggelar pameran tunggal yang berjudul “Things Happen When We Remember”.

Detail dari karya Monumen Bong Belung
Karya Monumen Bong Belung disusun seperti altar sembahyang dalam tradisi tionghoa itu, diambil dari pembunuhan dan pembantaian terhadap etnis tionghoa yang terjadi di tempat kelahirannya sekitar tahun 1947-1949 akibat pergolakan politik. Bila kita lihat secara detail karya ini, maka akan terlihat nama-nama orang yang meninggal. Kita seperti dibawa ke sebuah kuburan peranakan tionghoa yang dipenuhi hawa-hawa dingin dengan kegetiran akibat pembantaian itu.

Identitas

FX Harsono (sumber: Tempo.co)
Nama FX Harsono sudah mulai malang melintang dalam seni rupa Indonesia sejak  keterlibatannya dalam Manifesto Desember Hitam – sebuah gerakan seniman yang beroposisi terhadap institusionalisasi seni oleh pemerintah tahun 1974. Selain itu, ia juga tergabung dalam Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GRSBI, 1975-1979), sebuah gerakan yang  melakukan berbagai dobrakan estetika seni rupa masa itu. Serta, memperkenalkan berbagai pendekatan seni rupa yang pada saat itu masih dianggap anti-estetis dan menyalahi konvensi, seperti instalasi dan performance art.
Sebenarnya, nuansa Identitas dalam karya-karya pria kelahiran Blitar, 65 tahun silam, dimulai pada tahun 2008. Kala itu, ia sering bertanya mengenai siapa dirinya yang sebenarnya. Akhirnya, ia membuat karya tentang Displaced, akibat dari ketidaknyamanan mengenai pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Sampai akhirnya ia mulai menyadari bahwa dirinya sebagai orang Tiong Hoa.
Karya-karya yang ditampilkan pada Ruang B dan Ruang Sayap di Selasar ini dapat kita saksikan sebagai sebuah panggung sejarah. Sebuah sejarah yang dihadirkan oleh FX Harsono melalui sisi terkalbu dari yang terpinggirkan. Hal ini dapat kita rasakan melalui karya Rewriting on the tomb (2013). Karya ini merupakan karya cetakan huruf-huruf yang diambil oleh Harsono sendiri di kuburan Tionghoa. Dia menggunakan sebuah lembar kain yang kemudian ditutupkan pada huruf-huruf batu nisan di kuburan tersebut. Lalu, dengan terampil Harsono mencetak huruf tersebut dengan menggunakan arang merah.


Video yang menampilkan proses pembuatan karya Rewriting on The Tomb
Kegetiran belum berhenti, masih ada karya Writing In The Rain (2013). Karya performance yang ditampilkan melalui video ini digabungkan dalam satu ruangan dengan 3 buah meja yang masing-masing memiliki kursi seperti di sekolah. Video tersebut menggambarkan bagaimana Harsono berusaha untuk menuliskan nama Mandarinnya dengan kuas dan tinta hitam pada sebuah kaca bening. Hal ini dilakukan secara berulang dengan repitisi gerakan tangan yang halus dan beberapa saat kemudian, hujan mulai mengguyur.
Seketika tulisan yang ditulis olehnya terhapus oleh hujan, tetapi jejak bentuk yang pertama dilukiskan tidak menghilang. Meskipun hujan terus mengguyurnya, Harsono tetap menuliskan namanya pada kaca tersebut. Tiga buah meja yang masing-masing alas mejanya dilubangi secara halus dengan nama mandarin Harsono yang ditambahi dengan tiga buah kursi sekolah. Karya ini merupakan seri lanjutan dari karya yang sudah pernah dibuat FX Harsono sebelumnya yang berjudul Rewriting The Erased.

Writing In The Rain

Goresan Nama Mandarin dari FX Harsono pada meja
Di sisi lain, ada romansa kebudayaan yang dibawa yaitu melalui karya The Past of Past/ Migration (2013). Karya ini menampilkan sebuah perahu yang berisi lampu-lampu lilin eletrik merah yang seakan menabrak sebuah gundukan balok-balok tanah yang berbentuk huruf-huruf dan diujungnya menanti sebuah kursi bangsawan dengan kipas didudukannya. Hal ini menggambarkan bahwa kebudayaan tionghoa telah bercampur satu sama lain seperti yang digambarkan melalui huruf-huruf tadi. Huruf tersebut berjumlah 28 ribu yang melambangkan 28 ribu kebudayaan yang ada di dunia.

Karya The Past of Past/ Migration
Selain itu, FX Harsono juga membawakan kebudayaan literasi melalui sajak kata-kata bijak yang dibuat dalam susunan kata melalui lampu neon yang ditempatkan pada sembilan peti kotak besi yang dibiarkan setengah terbuka. Karya yang berjudul Light in the Suitcase (2014) ini biasanya terpampang pada rumah-rumah orang-orang beretnis Tionghoa pada zaman dahulu. Karya yang dengan menggunakan konsep lampu neon juga terlihat pada karya The Light Of Journey (2014). Karya ini menampilkan sebuah perahu terbalik yang seakan menancap di pada permukaan tanah dan memiliki goresan kata yang bertuliskan “Bercita-cita besar tak lupa moral” .

Light In The Suitcase

Detail karya Light In The Suitcase

Karya The Light of Journey
Memang seperti inilah FX Harsono, yang selalu menghadirkan dan merawat identitas dirinya melalui karya-karya yang menakjubkan. Sebagai kurator pameran, Agung Hujatnikajennong mengatakan dalam pengatar pameran bahwa, ”Narasi tentang sejarah etnis Tionghoa di Indonesia, ia kemas dengan metafor-metafor yang kaya dan menggugah. Mewakili perlintasan ulang-alik antara ‘data’ dan ‘imajinasi’, antara objektivitas dan subjektivitas, proses kreatif Harsono melahirkan tafsir artistik yang menyentuh tentang sejarah dan ingatan.” Karya-karya FX Harsono memang menggugah ingatan kita untuk terus merawat akal sehat dan menolak lupa terhadap sesuatu kejadian kelam yang pernah terjadi di lingkungan sekitar kita.
*)Pameran yang dimulai pada 6 september lalu ini masih dapat dinikmati di Galeri Selasar Sunaryo Art & Space, Bandung hingga 28 september nanti.


13.  WACANA 13

Soal 4 x 6, Saat Matematika SD Diperkosa Media

Sudah banyak yang membahas, bahkan memperkosa logika 4 x 6 = 6 x 4 yang dianggap ‘rancu’. Banyak pula yang berkomentar sesuai prism (sudut pandang) mereka sendiri. Dan artikel ini pun sebenarnya serupa, namun tidak sama. Tidak ada yang coba saya analisa dengan kuotasi atau formula Matematis. Tidak pula saya akan bedah logika yang secara umum sudah bisa terbaca akan soal 4 x 6 = 6 x 4, atau apalah. Tidak pula saya menjustifikasi atau menyalahkan sebuah sistem sengkarut pendidikan. Atau secara spesifik Mapel Matematika di SD atau bahkan guru yang memberi nilai 20. Bukan, bukan itu.
Sebuah prism (sudut pandang) yang cenderung memperkosa satu ranah ilmu saya fikir sering terjadi. Seperti ranah Dekonstruksi yang dulu sempat diperkosa sesadis mungkin oleh para linguist. Para profesor Emeritus di Cambridge sana, banyak yang mentah-mentah menolak ranah Dekonstruksi. Sebuah ranah yang cenderung sesat dan jauh dari universalitas dan ontologis ilmu. Ranah yang juga merancukan aliran Filosofi Barat yang sudah terlalu ‘dominan’. Merancukan antara subjek logosentrisme dengan istilah inter-textualitas. Sehingga, saya pun sempat ‘bersitegang’ dengan ilmiah dengan pak Nararya menyoal Dekosntruksi ini.
Bukan, saya pun tidak mencoba menyamakan ‘level’ logika berfikir ilmu Derrida dengan Matematika anak SD. Karena toh, saya tidak mencoba membahas hal tersebut. Saya pun minim pemahaman dalam Matematika. Cukuplah artikel atau berita yang ada membahas hal tersebut. Walau terlihat agak cemplang atau tidak setara, sejatinya ada hal yang serupa dari analogi Dekonstruksi dengan isu 4 x 6 = 6 x 4. Kedua-duanya sama-sama diperkosa dan diadili secara masif. Namun, berbeda cakupan kontekstualnya.
Rumus sengkarut logika 4 x 6 = 6 x 4 sudah diperkosa dan diadili banyak sekali prism. Ada kandidat doktor fisika, ada pemerhati pendidik, ada pendidik itu sendiri, atau budayawan atau pengamat ilmu sosial. Namun, yang saya lihat ‘pelaku utama’ pemerkosa logika 4 x 6 = 6 x 4 disini adalah media, khususnya media sosial. Secara viral (membabi buta) setelah hasil foto dari hasil PR Matematika yang ternyata hanya mendapat 20 diunggah di Facebook. Ramai dan riuh, akun dan pengguna medsos menanggapi dan ‘memperkosa’. Bahkan, sampai diadili menurut saya. Ada yang sampai bilang gurunya yang bloon, walau secara eufemis. Dengan dalih logika, pola himpunan hitung, profesionalitas kompetensi pedagogis, dll. Yang intinya, cuma sekadar menjustifikasi guru SD yang memberi nilai 20 itu bloon.
Atau yang berpandangan netral dan akhirnya pola fikir universalis ala pluralis mendominasi. Walau Matematika itu ilmu eksakta, namun dengan isu ini Matematika menjadi ilmu sosial. Bahkan cenderung masuk ilmu sosial budaya. Dimana, komentar, berita atau opini tidak jauh meyalahkan sistem pendidikan kita. Beragam dalih dan preposisi terlontar. Baik sekadar opini atau mengalaminya sendiri. Kenetralan justifikasi dengan menyalahkan sistem lebih dianggap baik. Karena toh sistem tidak akan menuntut balik. Netralitas opini yang lebih mengacu sisi humanis. Manusia tempatnya salah dan lupa. Maka, sebaiknya kita semua menyalahkan sistem.

Media, Si Buruk Rupa Berkedok Pangeran Tampan
Demam medsos di Indonesia sepertinya sudah sampai taraf panas-demam. Semua yang heboh dan trending di medsos, kini menjadi berita mainstream. Utak-atik redaksi dan analisa sudah menjadi bahan gunjingan media mainstream. Prism kelompok dan golongan pun ramai-ramai memperkosa berita atau isu yang menggejala. Serupa dan masih sering terjadi, berita hoax medsos menyoal Capres dan Presiden terpilih. Hingga saat ini masih muncul di media mainstream melalui referensi medsos. Penyebaran menjadi viral ketika akun memiliki ribuan atau jutaan teman atau follower. Apalagi, ada corong media maintream yang membekingi salah satu golongan.
Isu logika Matematika SD 4 x 6 = 6 x 4 saya kira lebih diperkosa media. Sedang saya, Anda dan kita semua adalah penikmat adegan pemerkosaan logika ini. Kita menikmatinya dengan prism kita sendiri. Semua berkomentar dan semuanya berdalih. Salah? Tidak. Benar? Juga tidak. Namun, itulah media. Isu-isu kritis seperti ini adalah honeypot (daya tarik) suatu berita. Isu kritis yang bukan kritis, namun berbau subjektifitas atau nasib hidup. Seperti isu pembolehan aborsi, nasib dokter yang malpraktik, TKW yang hendak dipancung. Isu-isu subjektif ini akan lebih berasa manis saat ada isu SARA terlibat. Seperti tuduhan-tuduhan (bluffing) SARA terhadap Jokowi atau Ahok. Isu yang menjadi honeypot media.

Logika Remeh Yang Tidak Sekadar Temeh
Lalu kenapa isu 4 x 6 ini menjadi subjektif? Pertama, medsos awal pengunggah bersifat subjektif, Facebook. Dimana kasus ini berasal. Facebook serupa tempat curhat dan uneg-uneg dimuntahkan. Hampir semua status atau post berbau subjektifitas. Dan, pengunggah logika Matematika 4 x 6 = 6 x 4 saya lihat mencoba menumpahkan kekesalannya pada guru SD adiknya. Lalu secara viral tersebar. Dan media mainstream menyoroti. Voalah, dalam beberapa waktu saja, isu ini melebar dan diperkosa banyak prism. Mulai dari sudut pandang filsafat logika, sampai ilmu sosbud, bahkan politis dan birokratis digunakan untuk memperkosa isu ini.
Kedua, karena subjek anak SD yang cenderung lemah dan penurut juga menjadi bahan bakar isu 4 x 6 = 6 x 4 ini. Anak SD atau anak-anak kita ke depan, tentunya sulit membantah apa yang menjadi otoritas guru. Namanya orang dewasa satu-satunya di kelas. Maka murid SD menganggap ia benar, benar segala benar. Jarang saya kira ada murid SD yang kritis dan berani menyanggah gurunya. Kecuali, dari sejak kecil sudah dilatih hal demikian. Isu kepolosan dan manutnya anak SD menjadi bahan bakar agar isu ini terus diperkosa. Mungkin sebentar lagi, ada talkshow televisi swasta atau berita yang akan mengundang guru SD ‘tersangka’. Sekaligus profesor Matematika plus pengamat pendidikan kompeten untuk berbicara. Intinya, ‘meluruskan’ isu ini.
Sehingga, isu subjektifitas dan kepolosan anak SD menjadikan isu ini semena-mena diperkosa di media. Melalui media sosial, lalu ke media maintream. Logika sederhana 4 x 6 = 6 x 4 yang jika dianalogikan dengan ranah Dekonstruksi yang sudah berpuluh tahun ada, mungkin berbeda. Dekonstruksi tidak disoroti media sosial atau mainstream. Tapi lebih ‘ganas’ lagi, dikuliti ilmu hebat dan konservatif filsuf ilmuwan Barat. Dan ia bertahan. Walau logika ‘remeh’ 4 x 6 = 6 x 4 sudah ada sejak Matematika ada. Namun, karena medsos yang dijejali subjektifitas dan kepolosan anak SD, maka diperkosa ramai-ramailah logika ini.
Akhirnya, saya juga memperkosa isu ini pula. Dengan prism saya. Mencoba melihat sengkarut tanda-petanda yang sengkarut dalam logika sederhana ini.
Salam,
Solo, 23 September 2014

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.


14.  WACANA 14

Ketika Anak SD Kesulitan PR Matematika
Sore itu, seperti biasa Amir yang masih duduk di bangku SD disuruh Ibunya untuk mengerjakan PR sekolah. Karena ibunya sedang sibuk nidurin ayahnya, eh salah, adeknya, maka Amir meminta tolong ayahnya untuk membantunya mengerjakan PR. Setelah ayahnya datang ke kamarnya, Amir pun segera mengeluarkan buku tulisnya yang bersampul gambar Batman.
Amir : Ayah, ajarin PR matematika dong yah.
Ayah : Mana…mana..
Amir : Yang ini jawabannya apa yah?
Ayah : Bacain dulu Mir soal ceritanya…
Amir : Mbak Upik pergi ke pasar membeli sebuah kemeja batik seharga Rp40.000,00. Lalu membeli satu rok mini seharga Rp50.000,00. Dan terakhir membeli dua buah celana pendek masing-masing seharga Rp25.000,00. Jika Mbak Upik membawa uang Rp150.000,00, berapa sisa uang kembalian yang akan diterima Mbak Upik?
Ayah : Coba kamu tanya ke ibumu Mir, sepertinya Ibumu lebih jago tentang hal ini.
Amir pun langsung menghampiri Ibunya, untunglah adeknya sudah tidur. Setelah sang ibu memberitahu apa jawabannya, Amir lalu bertanya lagi pada ibunya tentang soal yang kedua.
Amir : Pak Wawan dan istrinya pergi berbelanja ke sebuah mall. Di salah satu toko baju, Ibu Wawan tertarik dengan dua  buah daster masing-masing seharga Rp30.000,00. Lalu di toko tas, Ibu Wawan tertarik dengan sebuah tas seharga Rp150.000,00. Dan terakhir di toko sepatu, Ibu Wawan tertarik dengan sebuah sepatu hak tinggi seharga Rp200.000,00. Berapakah jumlah uang yang harus dibayarkan Pak Wawan untuk mendapatkan pakaian, tas dan sepatu tersebut?
“AYAH…..!!!! Ke sini sebentar, tolong bantuin jawabnya…” teriak ibunya Amir memanggil suaminya yang terkenal pelit itu.